VAMANA

Hazsef
Chapter #62

Meluruskan

[00:00 WIB] Ruang Perawatan — RSU Luin

Malam harinya, angin berembus pelan melewati ventilasi kamar pasien yang terbuka, membuat Adrian yang setengah tertidur perlahan mengerjap dan membuka matanya.

Ketika kesadarannya berangsur pulih, matanya langsung menangkap pemandangan yang tak bisa diabaikan. Tepat di hadapannya, kini berdiri Sang Penguasa Vamana dengan senyum tipis dan sikap yang anggun.

“Sugeng ndalu, manungsa.”

(“Selamat malam, manusia.”)

“Napa sampeyan sampun sae?”

(“Apa kau merasa lebih baik?”)

Sapanya dengan nada lembut. Namun bukannya tenang, emosi Adrian justru malah meledak.

“KAUUU ...!!!” teriaknya, tangannya mencengkeram erat selimut putih yang tampak bersih.

“Amargi niku wau kula dugi ...”

(“Itulah kenapa aku datang ...”)

“Katur lurusaken samukawis.”

(“Untuk meluruskan sesuatu.”)

Ekspresi dan sikap Putri Dewi tetap tak berubah, bahkan meskipun Adrian menunjukkan sikap permusuhan yang jelas.

“DEMIT SIALAN ...!!!” makinya penuh amarah. Ia pun bangkit, lalu hendak memukul wajah Putri Dewi.

Namun tepat di momen itu, sebuah kilat cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul dari bola misterius yang sedari tadi dipegang Putri Dewi.

Adrian mengerjap, sembari menutupi pandangannya dengan lengan kanannya. Dan ketika cahaya itu mulai memudar, lingkungan di sekitarnya tiba-tiba berubah.

Putri Dewi lalu memperlihatkan adegan demi adegan dari sejak bagaimana ia mengutus Danar untuk menyamar sebagai Pigi—usai ia mengirim Pigi yang asli kembali ke dunianya—hingga momen-momen krusial setelah Adrian turun meninggalkan Indra dan Rozi.

“Ini kan ...?”

Sebuah tanah lapang yang dikelilingi bebatuan dan pohon-pohon rindang, kini terpampang jelas di bawah langit berbintang yang sesekali berpijar samar di langit purnama.

Di sana, terdapat tiga sosok pria yang wajahnya tampak familier. Dua orang duduk berdampingan sembari mengaduk segelas kopi panas, sedangkan satunya lagi duduk tenang di dekat api unggun.

“Indra? Rozi? Pigi?”

Suara Adrian melunak lirih. Tempat itu tentu sudah tidak asing lagi baginya. Tempat di mana sebuah harapan dilepas, sekaligus di mana trauma itu membekas, dalam satu janji pilu yang tak sempat saling bertemu.

Ketika Adrian masih berusaha memroses situasi yang tak masuk akal itu, tiba-tiba ia melihat Rozi bangkit dan menyodorkan gelas berasap itu.

Tepat setelah menerimanya, Pigi langsung meneguk cairan mendidih dan pahit itu tanpa meniupnya, tanpa desisan panas, layaknya meminum air biasa.

​Tak lama, Rozi menurunkan bahunya. Ia menghela napas pasrah, kemudian langsung menatap lurus ke arah Pigi.

​“Jadi ... kamu ini sebenarnya siapa?” tanyanya santai. “Sudah berapa lama kamu ngikutin kami? Apa ... sejak ketemu di sungai itu?”

​Sontak, letupan api unggun terasa menjadi satu-satunya suara di sana. Suasana yang tadinya hangat mendadak hening dan mencekam. Ekspresi Pigi yang sedari tadi tenang, kini berubah kaku. Mata kosongnya menatap Rozi.

​“Kami udah tau kok, kalo kamu ini ... bukan Pigi, teman kami,” sahut Indra, memecah kesunyian untuk mendukung Rozi. Sementara dari jauh, mata Adrian membulat sempurna.

“Kita udah jalan bareng cukup lama, jadi ... santai aja,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

​“Kami cuman pengen tahu,” lanjut Rozi tenang, seraya menyeduh sisa kopinya sendiri. “Apa Pigi—teman kami yang asli—baik-baik aja?”

​Sosok di hadapan mereka terdiam sejenak. Sorot matanya yang kosong tampak meneliti wajah kedua pemuda malang itu, sebelum bibirnya yang pucat perlahan terbuka.

​“Temen kalian itu ... adalah yang pertama dipulangkan oleh Kanjeng Putri,” ungkap entitas itu. Suaranya terdengar berat dan bergema di dasar dada.

​Napas Indra dan Rozi tampak tertahan sepersekian detik. Alis mereka terangkat naik, dan sekujur tubuh mereka seakan membeku, tak terkecuali Adrian. Ia juga tampak syok mendengar semua informasi itu.

“Sampai sekarang, dia masih gigih meyakinkan orang-orang ... untuk membantu mencari kalian,” sambung sosok itu lagi.

​“Sampai sekarang, dia masih gigih meyakinkan orang-orang ... untuk membantu mencari kalian,” sambung sosok itu lagi.

​Segera setelah kalimat itu terucap, Indra dan Rozi menghela napas lega.

​“Ah ... jadi gitu ya ... syukur deh,” ucap Indra dengan wajah sayu. Matanya sedikit berkaca-kaca menahan haru.

​“Jadi, setelah ini ... apa kamu bakal mengambil nyawa kami?” tanya Rozi. Kepalanya menunduk pasrah.

​“Tidak,” jawab sosok itu cepat dan tegas. “Justru sebaliknya. Aku di sini untuk menuntun dan mengawal kalian pulang.”

Tak lama berselang, sosok Putri Dewi pun muncul dan memberi selamat kepada Indra dan Rozi. Keduanya ... bersama Adrian dan Pigi, adalah sosok yang diakui Sang Putri sebagai manusia yang layak.

Lihat selengkapnya