[13:15] Belantara Hutan Vamana — Hari Ketigabelas
Dua hari telah berlalu sejak Sang Putri meninggalkan perjamuan di samping tenda. Namun, ketujuh hidangan lezat di atas daun pisang itu masih utuh, sama sekali tak tersentuh.
Asap tipis masih mengepul dari sana, menantang perut Indra dan Rozi yang kini sudah terlalu lelah untuk sekadar berbunyi.
Tak lama, sosok Pigi—atau entitas yang meminjam rupa pemuda itu—muncul dari balik pepohonan lumut. Ia menatap piring-piring tanah liat itu, lalu beralih menatap dua manusia yang kini tampak memprihatinkan.
“Kenapa tidak dimakan?” tanya sosok itu. Suaranya datar, namun ada nada kebingungan yang nyata. “Ini bukan racun. Ini belas kasih dari Kanjeng Putri.”
Indra, yang duduk bersandar pada batang pohon dengan kelopak mata yang berat, hanya tersenyum tipis. Sudut bibirnya yang pecah-pecah sedikit terangkat.
“Kami ... janji sama Adrian ...” bisik Indra parau. “Jangan ... ambil apa pun ... dari sumber ... yang gak jelas.”
Rozi mengangguk lemah di sampingnya, meski tangannya gemetar hebat karena dehidrasi. “Lagian ... soto yang dimakan Pigi kami ... kayaknya lebih enak,” timpalnya dengan candaan hambar yang memilukan.
Sosok jelmaan Pigi itu pun sontak terdiam. Untuk pertama kalinya, wajah datar itu menampakkan raut kesal yang bercampur sedih.
Sedetik kemudian, ia berbalik pergi menembus kabut, seolah tak tahan melihat kebodohan manusia yang sedang menjemput ajal demi sebuah “janji”.
[22:00] Belantara Hutan Vamana — Hari Ketigabelas
Api unggun hampir padam, menyisakan bara merah yang sekarat. Indra dan Rozi telah terlelap dalam tidur yang sangat dalam, seolah tubuh mereka mulai menyerah pada dunia.
Danar, sosok jelmaan Pigi pun kembali muncul. Kali ini, ia tidak ingin berdebat. Ia melangkah mendekat, niatnya bulat: ia akan mengangkut kedua manusia ini keluar dari wilayah Vamana, sebelum nyawa mereka benar-benar melayang.
Sebagai abdi, ia tak sanggup lagi membiarkan kehormatan kedua manusia itu hancur menjadi bangkai di tanah suci Vamana.
Ia berlutut. Namun, saat tangan pucat Danar hendak meraih bahu Indra, sebuah tangan yang dingin dan lemah, perlahan mencengkeram pergelangan tangannya.
Danar tersentak. Ia menunduk, lalu mendapati mata Indra serta Rozi terbuka sedikit. Mereka tidak bangun sepenuhnya, namun kesadaran mereka masih terjaga di ambang maut. Keduanya menggeleng pelan secara bersamaan.
Tatapan mereka bertaut. Dalam keheningan itu, Danar melihat sesuatu yang biasanya dimiliki oleh para pejuang yang akan menutup kisahnya di medan perang. Senyuman tipis muncul di wajah mereka yang pucat pasi, seolah mereka sudah merelakan segalanya.