VAMANA

Hazsef
Chapter #56

Kembali

Pantulan cahaya ponsel di mata Adrian mengungkap tanggal 6 Juni 2016. Sekilas, tak ada yang aneh jika orang normal melihatnya. Namun bagi Adrian—yang memulai pendakian di pertengahan bulan terakhir tahun 2009—maknanya tentu amatlah berbeda.

Suasana mendadak sunyi. Untuk sesaat, Adrian hanya menatap angka itu tanpa berkedip. Keningnya berkerut dalam keheranan.

“Gi, ini ... beneran?” gumamnya pelan. Senyum kecut—yang lebih mirip penolakan—sempat muncul di sudut bibirnya. “L-lu ... nggak lagi prank, kan?” tanyanya dengan senyum bergetar.

Namun Pigi tidak menjawab. Dan di detik itu juga, sesuatu di dalam dada Adrian seakan runtuh. Cahaya di matanya berangsur memudar, digantikan oleh emosi gelap seolah ia baru saja kalah di babak final.

Tak berselang lama, fokus pemuda itu kembali terkunci ke layar ponsel itu. Di antara fakta mengejutkan dan semangat yang sempat memudar, sebuah logika sederhana tiba-tiba menyambar otaknya.

“Bentar—” mata Adrian melebar cepat. “Kalo 11 hari di sana makan waktu 6,5 tahun di sini, berarti ... seharinya makan 1 semester.”

Raut wajah Adrian yang sebelumnya tegang, kini melunak. “Itu artinya ...” ucapnya sambil menatap Pigi dalam-dalam.

Tak lama, pria berkacamata itu akhirnya menangkap apa yang sahabatnya pikirkan. “Kita masih punya kesempatan?!”

Adrian pun mengangguk. Meski mulutnya tertutup rapat, namun sorot matanya yang membara seakan sudah menjelaskan banyak hal.

Pigi terdiam sejenak. Ia paham kalau masih ada peluang, namun ia tetap ragu. “Tapi, Dri, lu yakin ... mau balik sana lagi?” tanyanya memastikan.

Adrian menghela napas pelan sambil menunduk. Napasnya sempat tersendat di ujung tenggorokan.

“Gi, gua udah janji sama mereka,” jawabnya dengan suara yang sedikit tertahan. “Kalo gua bakal balik lagi secepatnya.”

Ia mengangkat kembali kepalanya. “Dan gua ... bakal tepatin janji itu.”

“Apa pun risikonya?” tanya Pigi.

“Apa pun risikonya,” jawab Adrian mantap. “Gua pastiin bakal bawa mereka pulang. Walaupun gua harus merangkak sampek pingsan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Pigi pun tak bisa berkata-kata. Jauh di lubuk hatinya terdalam, ia juga ingin menyelamatkan teman-temannya—terutama Indra dan Rozi—yang selalu memperlakukannya dengan baik selain Adrian.

Tak lama, sebuah helaan napas panjang pun terdengar. “Ya udah, gua telepon Pak Dadang dulu. Sementara lu coba telepon orang rumah,” ujar Pigi.

Lihat selengkapnya