[11:05 WIB] Ruang Perawatan — RSU Luin
Pintu kayu bercat putih itu terbuka dengan hentakan yang tak beraturan. Di ambang pintu, seorang wanita paruh baya berdiri membeku. Napasnya tersengal, kerudungnya sedikit berantakan karena berlari.
Di belakangnya, seorang pria dengan rambut yang jauh lebih memutih dari ingatan Adrian, berdiri terengah sambil memegangi bingkai pintu.
Keheningan menyergap. Tak ada suara selain detak jam dinding dan desis halus selang oksigen. Adrian yang sedang duduk di tepi ranjang pun perlahan menoleh. Apel di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. Lidahnya kelu.
Sosok di depannya bukan lagi seorang ibu yang ia lihat di ruang tamu sebelum berangkat mendaki. Kini, wanita itu tampak jauh lebih kurus, dengan garis-garis kesedihan yang terukir jelas di sudut matanya.
“Adri ...?” suara sang ibu nyaris tak terdengar, seolah tertahan oleh isak di tenggorokan.
“Ibu ...?” Adrian berbisik. Tanpa sadar, pipinya sudah basah oleh air mata.
Wanita itu menghambur maju, memeluk Adrian dengan kekuatan yang seolah-olah ingin menyatukan kembali raga anaknya ke dalam tubuhnya sendiri. Isak tangisnya—raungan kerinduan yang telah dipendam selama bertahun-tahun—akhirnya pecah.
Sang ayah mendekat, merangkul keduanya dengan tangan gemetar, lalu mencium kening Adrian berkali-kali sambil menggumamkan syukur yang tak henti-hentinya.
“Nak, kamu ... akhirnya pulang,” bisik sang ayah, suaranya parau oleh haru.
Ruangan itu tenggelam dalam pelukan dan tangis. Isak yang semula pecah perlahan mereda, berubah menjadi napas panjang yang saling bersinggungan.
Adrian menghirup aroma ibunya—campuran minyak kayu putih dan bedak tipis—aroma rumah yang selama ini terasa seperti mimpi di tengah kabut Vamana.
Tangan sang ibu memeluk erat bahu anaknya, seolah tak ingin lepas darinya. Sementara sang ayah tetap merangkul dari samping, jemarinya sesekali mengusap rambut Adrian dengan gerakan pelan yang berulang.
Tak ada yang berbicara. Hanya suara napas dan sesekali senggukan yang tertahan. Bahkan Pigi yang berdiri di sudut ruangan, hanya bisa menunduk sembari menyeka air matanya sendiri.
[11:35 WIB] Ruang Perawatan — Perdebatan Dimulai
Suasana di ruangan itu perlahan mendingin saat Adrian—dengan suara yang masih bergetar namun tegas—mulai menceritakan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Adrian udah janji sama mereka ... kalo Adrian bakal bawa mereka pulang,” bisik Adrian. “Mereka kedinginan di sana. Bahaya ada di mana-mana.”
“Karena itu, Bu ...” Adrian menggenggam lembut tangan ibunya yang terasa jauh lebih kasar dari ingatannya bertahun-tahun lalu. “Adrian mau minta izin buat naik gunung lagi,” pintanya.
“Kamu ...?” ibu Adrian sedikit tersentak. “Mau balik ke sana lagi?” tegasnya dengan nada tak percaya.