[8:12] Tujuh Hari Kemudian
Tawa pilu yang sempat menggema di puncak tebing itu akhirnya mati, digantikan oleh ambruknya raga sang pemimpin. Mode survival yang selama ini mengunci raga Adrian, mendadak padam sepenuhnya.
Tbuhnya menuntut seluruh utang kelelahan ekstrem yang ditahannya selama ini. Kesadarannya perlahan menyusut dalam pelukan ayahnya. Tugasnya ... kini telah usai.
Selagi kesadaran Adrian kembali dilempar ke dalam kegelapan, operasi besar-besaran di bawah komando Tim SAR terus bergerak untuk mengevakuasi para korban. Proses ini memakan waktu hingga tujuh hari penuh.
Jasad Indra dan Rozi diturunkan dengan tandu lipat melewati tebing, lalu diangkut menembus jalur setapak yang terbuka hingga akhirnya tiba di posko utama Base Camp Sarkara.
[10:15 WIB] Ruang Perawatan — RSU Luin
Perlahan, Adrian membuka kelopak matanya yang terasa agak berat. Kali ini, tidak ada kepanikan. Tidak ada dorongan insting untuk langsung melompat dari kasur. Raga pemuda itu terbaring lunglai, lemah, dan seolah mati rasa.
Kedua tangan hingga sikunya terbalut perban putih, menutupi luka lecet akibat memanjat tebing berbatu tanpa pengaman. Sebuah jarum infus menancap erat di punggung tangan kanannya.
Secara medis, seluruh otot di tubuhnya mengejang akibat penumpukan asam laktat dan trauma fisik yang dipaksakan. Namun, bukan kondisi fisik itu yang membuat dokter dan keluarganya cemas, melainkan kejiwaannya.
Pandangan mata Adrian kini hanya lurus menatap langit-langit—kosong dan redup—bagaikan netra ikan mati. Jiwanya terguncang berat karena gagal membawa pulang teman-temannya dalam keadaan hidup.
Tak lama, bunyi klik pintu yang terbuka perlahan menarik perhatiannya. Sosok Pigi melangkah masuk dengan kemeja kasualnya. Begitu melihat sahabatnya mulai siuman, binar lega sempat melintas di wajah Pigi, sebelum senyum itu langsung runtuh saat melihat wajah Adrian yang putus asa.