VAMANA

Hazsef
Chapter #32

Pengecut Hina

[20:18] Titik Awal Kamp — Hari Kelima

Waktu seakan berhenti di udara yang membeku. Gumpalan tisu bernoda bumbu ayam bakar itu masih berada di genggaman Santoso yang gemetar.

​Bukannya meledak dalam amukan, Santoso justru terdiam. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha mencerna realita yang baru saja mengoyak akal sehatnya. Bahunya bergetar pelan.

“Anj*nk lu! Ba*i!” umpat Santoso lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. “Padahal, gue udah bela-belain lu mati-matian, Put. Tapi nggak taunya ... ternyata lu selama ini biang keroknya?”

Putra hanya diam. Ia masih meringkuk di atas tanah, ekspresinya perlahan melunak dan mengerut dalam penyesalan yang terlambat. Sementara wajah Santoso berangsur mengeras, menahan gejolak yang nyaris meledakkan dadanya.

​“Eh, Ba*i!! Lu tau nggak?!” bentak Santoso tiba-tiba, suaranya pecah. “Gara-gara kelakuan lu ... ada yang kena fitnah. Gara-gara kelakuan lu ... kelompok kita pecah. Dan gara-gara kelakuan lu ...”

​Kalimat Santoso tertahan. Dadanya mendadak terasa luar biasa sesak. Matanya memerah dan mulai berkaca-kaca. Pertahanan egonya runtuh.

“Gue ... jadi bunuh Pigi,” bisiknya.

Suasana mendadak hening nan mencekam. Hanya suara angin hutan yang menyapu dedaunan, bersahutan dengan isak Santoso yang kian terdengar jelas. Air mata penyesalan dan rasa bersalah yang teramat pekat mulai mengalir deras membasahi pipinya.

​“M-maaf, San. G-gue nggak—”

​Putra mencoba menjelaskan dengan suara bergetar, namun langsung dipotong telak oleh Santoso.

​“Apa dengan lu minta maaf, bisa balikin Pigi?!” tanya Santoso dengan nada tenang yang mengerikan, raut wajahnya penuh dengan tekanan psikologis.

Lihat selengkapnya