VAMANA

Hazsef
Chapter #61

Jejak Terakhir

Semua orang di ruangan itu terdiam, menyimak cerita Mbah Khandra dengan seksama tentang Desa Sitala, termasuk Pigi dan Pak Dadang.

​“Dulu, sewaktu usiaku masih 8 tahun, ayahku meninggal usai diterkam macan kumbang sekembalinya dari kebun di hutan atas,” ungkapnya dengan tatapan sayu.

“Ibuku ... dan para penduduk desa lain yang khawatir akan keselamatan anak-anak mereka, lalu sepakat membuat satu keputusan,” lanjutnya dengan suara sedikit bergetar.

“Keputusan?” tanya Adrian.

“Ya. Kami ... anak-anak penduduk desa akan dikirim ke kerabat kami di desa seberang. Dan kami ... tidak diperbolehkan untuk kembali, sebelum melewati masa akil baligh (15 tahun),” kenang Mbah Khandra, matanya menerawang menembus dinding putih rumah sakit.

​“Namun di suatu pagi, tepat di hari kepulangan yang sudah bertahun-tahun kunanti, sebuah dentuman keras mengguncang bumi. Getarannya bahkan terasa sampai ke Desa Sarkara,” kenangnya lirih.

“Ketika semua orang berlarian panik dan saling bertanya apa yang terjadi, sebuah kepulan asap tebal membumbung tinggi dari salah satu puncak bukit dekat lembah Sitala,” lanjutnya pelan.

“Tim SAR dan para relawan warga desa dikumpulkan untuk memeriksa keadaan. Namun sesampainya di lokasi, Desa Sitala ... ternyata sudah tertimbun rata oleh tanah dan bebatuan besar dari bukit yang runtuh. Seluruh jejak kehidupan yang pernah bersemayam di lembah itu ... tersapu bersih.”

​“Minimnya fasilitas dan sulitnya akses jalan pada masa itu, membuat proses evakuasi jasad hampir mustahil dilakukan. Kemudian, satu keputusan sulit pun terpaksa kami ambil,” Mbah Khandra menghela napas berat, seolah keputusan itu masih menghantuinya hingga kini.

“Demi mencegah tragedi serupa, akses ke Desa Sitala ... akhirnya ditutup total,” ungkapnya dengan ekspresi yang seolah berusaha tetap tegar. “Tempat itu ... dibiarkan apa adanya, menjadi kuburan massal sebuah desa terpencil beserta seluruh penduduk di dalamnya.”

​“Jadi ... Mbah nggak ke sana lagi?” tanya Adrian, yang entah mengapa merasa dadanya kian bergemuruh ganjil.

Mbah Khandra tersenyum tipis. “Dulu, saya ... bersama sisa kerabat penduduk Sitala, masih rutin menyempatkan diri untuk mengunjungi desa itu setahun sekali. Tapi setelah menikah, tuntutan hidup dan tanggung jawab keluarga menahan tradisi itu.”

​“Lalu tak terasa, 7 tahun telah berlalu semenjak kunjungan terakhir kami. Tak seorang pun sempat berkunjung lagi ke desa itu,” sesalnya.

“Para sepuh dan kerabat orang yang ditinggalkan, kebanyakan sudah tutup usia, sehingga sisa kerabat penduduk Desa Sitala, maupun keturunannya ... perlahan-lahan mulai melupakan keberadaan desa di lembah itu,” ujarnya lirih.

“Beberapa waktu lalu, aku sempat mengumpulkan kembali sisa kerabat yang ada untuk mencoba naik ke sana. Tapi begitu kami sampai di atas, jalur itu ... seakan lenyap.”

Lihat selengkapnya