Veil of Roses

Penulis N
Chapter #1

1

Versailles, 1682

Angin musim gugur membawa aroma mawar yang nyaris membusuk, menyusup di antara kisi-kisi jendela istana yang menjulang tinggi. Langit menggantung abu-abu di atas atap-atap emas Versailles, seolah ikut mengawasi kebohongan yang sedang tumbuh di bawahnya.

Marguerite berdiri di tepi danau taman, gaun pelayan lusuhnya berkibar pelan tertiup angin. Di tangannya, sehelai surat yang telah lusuh tergenggam erat, tinta hitamnya sudah mulai pudar namun isi pesannya tetap membakar benaknya.

"Bastien ditemukan di lorong timur, tepat sebelum fajar. Tidak ada saksi. Tidak ada suara. Hanya darah."

Darah yang tak pernah mendapat keadilan.

Tiga bulan telah berlalu sejak kakaknya, Bastien de Blaye, hilang dari dunia ini tanpa alasan yang jelas. Surat-surat dari istana berhenti datang. Tak ada penjelasan, tak ada pelayat. Hanya tubuh dingin dan segel kerajaan.

Marguerite tidak percaya pada kebetulan. Dan di negeri di mana bunga mawar bermekaran hanya untuk mereka yang memiliki gelar, ia tahu: jika ingin menemukan kebenaran, ia harus menyusup ke kebun berduri itu sendiri.

Maka ia datang ke Versailles—bukan sebagai bangsawan, bukan sebagai tamu kehormatan—tetapi sebagai pelayan tanpa nama, yang mencuci seprai para wanita agung dan menyapu lantai-lantai yang tak pernah disentuh debu.

Namun takdir memiliki cara yang kejam untuk menjawab doa. Pada malam pesta topeng terbesar di istana, di mana setiap orang menyembunyikan wajah mereka di balik kain sutra dan kilau berlian, Marguerite akan bertemu dengan seseorang yang tidak ia cari—Lucien de Valmont, sang Pangeran Mahkota.

Pertemuan itu tidak seharusnya terjadi. Pandangan mata itu tidak seharusnya tertukar. Dan hati yang mulai bergetar itu... tidak pernah masuk dalam rencananya.

Namun di balik senyuman, istana menyembunyikan lebih dari sekadar rahasia. Karena ketika cinta tumbuh dari kebohongan, hanya dua hal yang menunggu di ujungnya: kehancuran atau pengampunan.

Dan malam itu, ketika lonceng terakhir berdentang di balai dansa, kelopak mawar pun mulai jatuh satu per satu—menandai awal dari kisah yang tak bisa dihindari.

Pagi itu, kabut tipis menyelimuti halaman belakang istana Versailles, seolah menutupi semua yang hendak disembunyikan oleh sejarah. Di antara kerumunan pelayan yang baru saja tiba dari kota, berdirilah seorang gadis berusia sembilan belas tahun dengan wajah tenang namun sorot mata tajam—Marguerite de Blaye.

Rambut cokelat gelapnya disanggul sederhana. Gaunnya tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang ramping, bekas pemilik sebelumnya mungkin seorang wanita bertubuh dua kali lipat dari dirinya. Tapi ia tidak peduli. Ia datang bukan untuk kenyamanan, melainkan untuk kesempatan.

"Nama?" tanya kepala pelayan wanita, nyonya Devray, dengan suara serak dan mata penuh kecurigaan.

"Marguerite," jawabnya singkat.

"Marguerite apa?"

Seketika ia terdiam. Ia tahu menyebut "de Blaye" di tempat ini bisa jadi langkah bunuh diri. Nama keluarganya mungkin kecil, tapi cukup dikenal di antara para penjaga istana. Nama itu akan mengundang tanya.

"Marguerite Lenoir," katanya akhirnya, mengucapkan nama gadis biasa yang pernah ia temui di pasar. Gadis itu sudah lama meninggal karena demam. Nama itu kini ia hidupkan kembali, untuk dirinya sendiri.

Devray mengangguk seadanya. "Ruanganmu di lantai bawah. Dapur pagi-pagi sekali. Jangan terlambat. Dan jangan melamun, atau kau akan menyikat lantai dengan tanganmu."

Marguerite menunduk. "Baik, Nyonya."

Ia berjalan masuk ke dalam lorong batu, melewati dinding-dinding tinggi yang dingin dan remang. Setiap sudut istana ini tampak memukau, tapi juga mencekam. Langkah-langkahnya menggema samar, seolah menandakan bahwa dia bukan bagian dari tempat ini—belum.

Di kamar kecilnya yang berisi ranjang kayu dan baskom air dingin, Marguerite membuka gulungan kain kecil yang ia sembunyikan dalam lapisan pakaiannya. Isinya hanya dua benda: sepucuk surat tua yang sudah ia baca ratusan kali, dan lencana kecil berbentuk singa yang dulunya dimiliki Bastien—simbol pengawal istana tingkat menengah.

Ia menyentuhnya lembut, seolah benda itu bisa menjawab semua yang tak bisa ditanyakan.

"Kau akan kubawa pulang, Bastien," bisiknya pelan.

"Entah bagaimana caranya."

---

Di aula utama, istana sudah sibuk dengan persiapan pesta besar minggu depan—pesta topeng untuk menghormati kedatangan utusan dari Inggris. Marguerite tidak diizinkan dekat dengan ruang pesta, tapi ia mencuri waktu lewat dapur belakang, mengintip dari celah pintu sambil membawa nampan anggur.

Ruangannya berkilau. Kristal tergantung seperti bintang. Permadani merah darah menutupi lantai marmer. Ia sempat terpaku.

Hingga matanya menangkap sosok di ujung ruangan—berdiri tegap, mengenakan mantel biru tua bersulam emas, dengan postur yang sempurna. Wajahnya tampak muda, tapi matanya... terlalu sunyi untuk seseorang yang belum genap dua puluh lima tahun.

Pangeran Lucien de Valmont.

Marguerite buru-buru menunduk dan berlalu. Ia tidak boleh terlalu mencolok. Tapi sesuatu dalam dirinya—entah naluri, entah kebodohan—membuatnya menoleh sekali lagi.

Dan saat itu, sang pangeran juga tengah memandang ke arahnya.

Hanya sekejap. Tapi cukup untuk mengukir sebuah awal.

Marguerite bangun sebelum fajar. Suara lonceng dari dapur terdengar bagai cambuk yang memaksa tubuhnya bergerak sebelum sempat bermimpi. Tapi ia tak keberatan. Tidur terlalu dalam hanya akan mengundang bayangan Bastien. Dan di istana ini, bayangan sering kali terasa lebih nyata dari cahaya.

Tangannya yang mulai kapalan meremas spons dan menggosok piring-piring perak yang belum selesai dibersihkan sejak semalam. Suara para pelayan bercampur baur dengan denting sendok dan perintah singkat dari juru masak yang galak.

"Hei, Marguerite, kau baru ya?" bisik seorang pelayan lain, seorang gadis berambut pirang bernama Elise.

Marguerite mengangguk. "Baru tiga hari."

"Aku sudah tujuh bulan di sini. Percayalah, jika kau bertahan sebulan tanpa dimarahi Madame Devray, kau pantas diberi mahkota."

Marguerite tersenyum tipis. "Sayangnya, aku tidak datang ke sini untuk mahkota."

Elise tertawa pelan. "Siapa juga yang datang untuk itu? Kita ini debu. Kalau tidak hati-hati, bisa dilenyapkan dalam sekali tiupan angin dari para bangsawan itu."

Marguerite menyimpan kalimatnya sendiri. Ia datang bukan untuk menjadi debu—melainkan untuk mencari potongan-potongan kebenaran yang ditinggalkan oleh angin itu.

Lihat selengkapnya