Veil of Roses

Penulis N
Chapter #2

2

Hari itu, udara di luar istana terasa lebih panas dari biasanya, namun Marguerite tidak merasakan kehangatan matahari yang membakar. Hatinya tetap dingin, terperangkap dalam kebingungannya sendiri. Apa yang harus ia lakukan dengan semua yang telah ia temukan? Medali itu, surat dengan kata "pengkhianatan" yang samar-samar, dan pertemuan aneh dengan Pangeran Lucien. Ia merasa seolah-olah ada sebuah tirai kabut yang menutupi banyak hal, dan ia harus menariknya untuk melihat kebenaran.

Namun, saat ia melangkah keluar dari lorong tersembunyi itu dan kembali ke kehidupan sehari-harinya sebagai pelayan, semua itu terasa semakin jauh. Tidak ada yang mengetahui apa yang baru saja ia lihat—tidak ada yang tahu apa yang baru saja ia ungkapkan kepada dirinya sendiri. Dengan langkah berat, Marguerite kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa, meskipun pikirannya terus terjaga di tempat lain.

Saat ia sedang mencuci piring, seorang pelayan muda datang mendekatinya dengan cemas. "Marguerite, ada orang yang ingin bertemu denganmu," katanya.

Marguerite mengangkat alis, sedikit terkejut. "Siapa?" tanyanya, mencoba menyembunyikan kegelisahan di dalam dirinya.

"Pangeran Lucien," jawab pelayan itu singkat.

Jantung Marguerite berdegup keras. Apa yang diinginkan Pangeran Lucien darinya? Ia belum sempat memberikan jawabannya ketika pelayan itu melanjutkan, "Dia menunggu di ruang tamu."

Marguerite merasa seolah seluruh tubuhnya beku. Mengapa Pangeran Lucien ingin bertemu dengannya? Apa yang telah ia ketahui?

Ia meninggalkan dapur dengan langkah terhuyung-huyung. Seiring langkahnya menuju ruang tamu, pikirannya berputar-putar mencoba mencari alasan. Jangan terlalu cepat percaya pada dugaan. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Mungkin ada penjelasan yang lebih sederhana. Tapi entah kenapa, ia merasa bahwa semakin ia berpikir tentang Lucien, semakin ia merasa tertarik pada pria itu. Ada sesuatu di dalam diri Pangeran Lucien yang memikatnya—sesuatu yang lebih dari sekadar tampang tampannya atau sikapnya yang tinggi hati. Ada misteri yang mengelilinginya.

Ketika Marguerite akhirnya tiba di ruang tamu, Pangeran Lucien sedang duduk di kursi besar dengan ekspresi serius di wajahnya. Matanya menatapnya dengan intens, tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kehangatan di sana, namun juga suatu ketegangan yang tidak bisa ia jelaskan.

"Marguerite," suara Lucien mengalun lembut, namun penuh otoritas, "Aku ingin berbicara denganmu."

Marguerite mengangguk pelan, namun jantungnya semakin berdebar. "Tentu, Yang Mulia. Ada yang bisa saya bantu?"

Lucien berdiri dan berjalan mendekat. Ia menatapnya dengan mata yang tajam, seakan mencari sesuatu dalam diri Marguerite. "Aku tahu kau sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat," katanya perlahan.

Pernyataan itu membuat Marguerite terkejut. Ia merasa darahnya mengalir lebih cepat, dan setiap kata yang diucapkan oleh Lucien membuatnya semakin bingung. "Saya... saya tidak mengerti, Yang Mulia," jawabnya, berusaha terdengar tenang.

Lucien tersenyum tipis, namun senyumnya tidak sampai menyentuh matanya. "Kau tidak perlu berbohong padaku, Marguerite. Aku tahu apa yang kau temukan di ruangan tersembunyi itu. Dan aku tahu kau pasti ingin tahu lebih banyak."

Marguerite menelan saliva, lalu berkata dengan suara yang agak gemetar, "Apa yang sebenarnya terjadi di istana ini, Yang Mulia? Apa yang saya temukan—apa artinya?"

Lucien mendekat sedikit lagi. "Apa yang kau temukan adalah bagian dari sejarah yang terlupakan. Sebuah sejarah yang tidak boleh diketahui orang banyak. Dan aku... aku terikat pada sejarah itu."

Marguerite merasa seolah ada yang terlepas dari mulutnya. "Apakah itu ada hubungannya dengan pengkhianatan yang tertulis di surat itu?" tanyanya tanpa berpikir panjang.

Lucien terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Ya," jawabnya akhirnya, suaranya rendah. "Ada banyak hal yang terjadi di balik layar. Ada banyak rahasia yang tersembunyi di antara dinding istana ini. Dan aku... aku tidak bisa membiarkan semua itu terbuka begitu saja."

Marguerite merasa perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa takut, tetapi di sisi lain, ada rasa ingin tahu yang sangat besar. Apa yang sebenarnya terjadi di istana ini? Apa yang membuat Lucien begitu terikat dengan rahasia itu? Dan apa yang akan terjadi jika ia terus menggali lebih dalam?

"Kau berhak tahu, Marguerite," kata Lucien tiba-tiba, seolah-olah membaca pikiran Marguerite. "Tapi tidak sekarang. Tidak sebelum kau siap untuk mengetahui kebenarannya. Karena begitu kau tahu, tidak ada jalan kembali."

Marguerite terdiam, matanya bertemu dengan mata Lucien. Ada sesuatu dalam tatapannya—sebuah ketegangan yang mendalam, tetapi juga sebuah undangan untuk menjelajahi kegelapan yang tersembunyi.

"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Marguerite akhirnya, suaranya bergetar.

Lucien melangkah mundur dan memandangnya dengan serius. "Yang harus kau lakukan adalah percaya padaku, Marguerite. Percayalah bahwa aku tidak akan menyakitimu. Tetapi untuk itu, kau harus berani melihat kebenaran, meskipun itu berarti mengorbankan segalanya."

Marguerite merasa seolah sebuah pintu terbuka di depan matanya—pintu menuju sesuatu yang lebih besar dan lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. "Saya siap, Yang Mulia," katanya dengan suara mantap, meskipun hatinya berdegup keras.

Lucien mengangguk, dan untuk pertama kalinya, senyumnya benar-benar menyentuh matanya. "Jika demikian, maka perjalanan kita baru saja dimulai."

Pagi itu, Marguerite terbangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hatinya masih penuh dengan bayang-bayang percakapan terakhirnya dengan Pangeran Lucien. Kata-kata Lucien terngiang-ngiang di telinganya: "Percayalah padaku." Tetapi, apakah ia benar-benar bisa percaya padanya? Istana ini penuh dengan rahasia, dan semakin dalam ia terjerat dalam kisah ini, semakin besar kemungkinan ia akan terjatuh dalam labirin yang tak bisa ia keluar.

Pagi itu, ia kembali ke rutinitasnya di dapur istana, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Setiap gerakan, setiap suara, terasa lebih berat, lebih penuh dengan makna. Bagaimana ia bisa menjalani kehidupan sehari-hari yang biasa jika ada banyak hal yang tersembunyi? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa ketika ia tahu bahwa Pangeran Lucien terlibat dalam sesuatu yang besar, sesuatu yang lebih dari sekadar permainan politik atau intrik istana?

Namun, seperti biasa, Marguerite berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Ia tidak ingin menarik perhatian, tidak ingin ada yang tahu betapa cemasnya ia saat ini. Namun, semakin ia berpikir tentang apa yang terjadi, semakin ia merasa terperangkap. Ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk mencari tahu lebih banyak, untuk menggali lebih dalam. Apakah itu rasa ingin tahu? Ataukah ia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak terperangkap dalam permainan yang lebih besar daripada dirinya?

Tiba-tiba, pintu dapur terbuka, dan pelayan muda yang sama tadi muncul dengan ekspresi cemas di wajahnya. "Marguerite, Pangeran Lucien memintamu untuk datang ke ruang tamu. Sekarang."

Hati Marguerite berdegup kencang. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan kecemasan yang ia rasakan. Setiap pertemuan dengan Pangeran Lucien membuatnya semakin bingung, dan sekarang, ia merasa seolah-olah ia berada di ujung jurang, siap untuk terjatuh ke dalam ketidakpastian yang gelap.

"Terima kasih," jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan rasa gugup di dalam dirinya.

Langkahnya terasa semakin berat saat ia menuju ruang tamu. Ketika ia masuk, Lucien sudah menunggu di tempat yang sama seperti sebelumnya. Wajahnya tampak serius, namun ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia memandang Marguerite kali ini—lebih intens, lebih mendalam, seolah ada banyak hal yang belum ia ungkapkan.

"Marguerite," Lucien memulai dengan suara berat, "Ada sesuatu yang penting yang harus kau ketahui. Sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan."

Marguerite menelan saliva, mencoba menenangkan dirinya. Ia duduk di kursi yang disediakan, dan Lucien duduk di hadapannya. Atmosfer di ruangan itu tiba-tiba terasa begitu tegang, penuh dengan ketidakpastian.

Lihat selengkapnya