Marguerite menghabiskan sisa hari itu dengan perasaan yang campur aduk. Pertemuan dengan Lady Eveline bukanlah sesuatu yang ia bayangkan sebelumnya. Wanita itu, dengan segala pesona dan kecerdikannya, telah mengungkapkan lebih banyak hal daripada yang ingin ia ketahui. Ada sebuah ancaman tersembunyi dalam kata-kata Lady Eveline, sebuah peringatan yang membuat Marguerite merasa semakin terjebak dalam jaringan tak terlihat di istana ini.
Malam tiba lebih cepat dari yang ia harapkan. Suasana di istana yang biasanya dipenuhi dengan kegembiraan kini terasa lebih suram. Seperti ada ketegangan yang menggantung di udara. Marguerite menyelesaikan tugasnya dengan cepat, berusaha menghindari pandangan mata yang tajam dari para penjaga dan pelayan lainnya. Ia tahu, di balik setiap wajah yang tampaknya ramah, ada banyak rahasia yang disembunyikan.
Saat ia kembali ke kamar kecilnya yang sederhana, Marguerite duduk di tepi ranjang, merenungkan percakapan tadi. Ia tahu ia harus berhati-hati, terutama setelah kata-kata Lady Eveline tentang kepercayaan dan bahaya yang mengintai. Istana ini bukan tempat yang aman, dan semakin lama ia berada di sini, semakin ia merasa bahwa ia telah memasuki dunia yang sangat berbahaya.
Namun, ada sesuatu yang menggelisahkan dalam dirinya, sesuatu yang membuatnya tidak bisa meninggalkan tempat ini. Ada perasaan yang semakin kuat bahwa ia harus mencari tahu lebih banyak—tentang apa yang terjadi di balik dinding-dinding istana, tentang keluarga kerajaan, dan tentang takdir yang tampaknya telah menjeratnya di sini.
Esok pagi, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari lebih banyak informasi, meskipun ia tahu itu tidak akan mudah. Istana ini, dengan segala kemewahan dan intriknya, penuh dengan rahasia yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
---
Pagi hari datang lebih lambat dari yang diinginkan Marguerite. Ia memulai rutinitas harian dengan biasa—memasak, membersihkan, dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya. Namun, pikirannya terus-menerus teralih pada apa yang telah diungkapkan Lady Eveline. Ada perasaan mendalam bahwa ia tidak hanya berada di sini untuk menjadi pelayan. Ada yang lebih besar yang menunggunya di luar sana, dan ia harus siap menghadapinya.
Sore hari, saat istana semakin ramai dengan persiapan untuk acara malam, Marguerite mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Lucien. Mereka tidak banyak berbicara, hanya sekadar saling bertukar pandang, tetapi ada komunikasi yang tak terucapkan di antara mereka. Lucien tahu Marguerite sedang berada di ujung jurang, dan ia ingin memberi peringatan, meskipun kata-kata itu belum keluar dari bibirnya.
"Ada yang perlu kamu waspadai," kata Lucien, suaranya rendah dan penuh makna. "Tidak semua orang di istana ini bisa dipercaya."
Marguerite mengangguk pelan, matanya tajam menatap Lucien. "Saya tahu, Lucien. Saya sudah mendengar itu dari Lady Eveline."
Lucien menatapnya lebih lama, seolah menilai keputusannya. "Eveline... Dia bukan orang yang mudah untuk dipahami. Waspadalah padanya. Dia tidak akan membantu tanpa alasan."
Marguerite menggigit bibir bawahnya, merasa cemas dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa maksudmu? Apakah dia tidak bisa dipercaya?"
Lucien menarik napas dalam-dalam. "Lady Eveline memiliki tujuan sendiri. Jangan sampai kamu terjebak dalam rencananya."
Marguerite mengerutkan kening, mencoba memahami lebih dalam. "Dan bagaimana dengan Anda, Lucien? Apakah saya bisa mempercayai Anda?"
Lucien tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sepenuhnya menenangkan. "Itu tergantung padamu, Marguerite. Kamu harus memutuskan siapa yang pantas mendapatkan kepercayaanmu."
---
Malam itu, setelah pekerjaan selesai dan semua orang kembali ke kamar masing-masing, Marguerite merasa ada yang tidak beres. Suasana di istana terasa semakin tegang. Langkah kakinya membawa ia ke lorong panjang yang sepi, jauh dari keramaian. Ia hanya ingin melarikan diri dari semuanya, dari semua pertanyaan yang menghantuinya, dari semua kebingungannya.
Tapi tiba-tiba, di ujung lorong, ia melihat sosok yang tak asing. Lucien. Wajahnya serius, dan matanya tampak penuh perhatian. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam ekspresinya. Sesuatu yang lebih gelap, lebih mendalam. Lucien berdiri di sana, seolah menunggu sesuatu.
"Lucien?" panggil Marguerite pelan.
Lucien menoleh dengan cepat, lalu melangkah mendekat. "Marguerite, kamu harus pergi. Ini bukan tempat untukmu."
Marguerite menatapnya bingung. "Pergi? Ke mana?"
"Ke tempat yang aman," jawab Lucien dengan suara rendah. "Semuanya akan berubah malam ini. Kamu harus siap, atau kamu akan terjebak dalam permainan ini."
Marguerite merasa jantungnya berdegup kencang. "Apa maksudmu? Apa yang akan terjadi malam ini?"
Lucien tidak menjawab, hanya menariknya ke sisi lorong yang lebih gelap. "Ikuti aku, sekarang. Jika kamu ingin bertahan hidup di sini, kamu harus tahu siapa musuhmu."
Marguerite hanya bisa mengikuti langkah Lucien, perasaan bingung dan takut semakin menghantui hatinya. Apa yang sedang terjadi? Mengapa Lucien tampak begitu serius? Ia tahu bahwa malam ini akan membawa perubahan besar, dan ia harus bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.
Langkah-langkah mereka semakin cepat, terdengar seperti desah angin yang menderu di lorong yang sepi. Lucien tidak berbicara lagi, hanya memandu Marguerite melewati beberapa pintu tersembunyi, melewati jalur-jalur yang jarang dilalui para penghuni istana. Marguerite merasa bingung sekaligus cemas, namun hatinya seolah dipenuhi dorongan kuat untuk mengikuti Lucien. Ada rasa ketegangan yang menyelimuti setiap sudut istana, dan meskipun ia belum sepenuhnya mengerti, ia tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Lucien?" tanyanya akhirnya, suaranya berbisik dengan penuh kebingungannya.
Lucien berhenti sejenak dan menoleh padanya. Wajahnya terlampau serius, bahkan lebih dari yang biasa ia tunjukkan. Ada ketegangan dalam matanya yang membuat Marguerite merasa semakin tak tahu harus berbuat apa.
"Ini lebih besar dari apa yang kamu bayangkan, Marguerite. Semua yang kamu lihat di istana ini, semuanya ada alasan di baliknya," jawab Lucien, nada suaranya berat. "Dan kamu terjebak di tengah-tengahnya."
Marguerite mengerutkan kening, tidak mengerti maksudnya. "Terjebak? Terjebak dalam apa?"
"Terjebak dalam permainan yang dimainkan oleh orang-orang di sini," jawab Lucien. "Permainan yang melibatkan lebih dari sekadar istana ini."
Lucien melanjutkan langkahnya, dan Marguerite mengikuti tanpa banyak bertanya lagi. Mereka tiba di sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik beberapa tumpukan barang, hampir tidak terlihat oleh siapapun yang lewat. Lucien membuka pintu itu, mengisyaratkan agar Marguerite masuk.
"Ini tempat yang aman?" tanya Marguerite, ragu-ragu, masih belum memahami sepenuhnya apa yang terjadi.
Lucien mengangguk pelan. "Untuk sementara. Kita akan berbicara di dalam."