Veil of Roses

Penulis N
Chapter #4

4

Malam semakin larut, dan udara yang dingin terasa menggigit kulit Marguerite. Mereka bergerak dengan cepat melalui jalan setapak yang sunyi, suara langkah kaki mereka yang teredam oleh lapisan tanah basah. Lucien memimpin, dengan langkahnya yang tegas, diikuti oleh Helena yang berjalan sedikit di belakangnya, memastikan bahwa tidak ada yang menguntit mereka dari belakang.

Marguerite mengikuti mereka, matanya waspada pada setiap gerakan yang mencurigakan. Di dalam hatinya, masih terasa ada kebingungan yang belum bisa ia lepaskan. Semua yang baru saja ia dengar, tentang masa lalu keluarganya, tentang artefak kuno yang harus dilindungi, terasa begitu luar biasa. Ia belum sepenuhnya siap menghadapi kenyataan itu, tapi ia tahu satu hal—takdirnya telah berubah.

"Apa yang akan terjadi jika kita tidak menemui mereka?" tanya Marguerite, suara rendah namun penuh ketegangan.

Helena yang berjalan di belakang mengangkat bahu sedikit. "Kita tidak bisa membiarkan mereka mendapatkan artefak itu," jawabnya dengan nada serius. "Jika mereka berhasil, kekuatan yang dimiliki artefak itu bisa mengubah segalanya—kerajaan ini, seluruh dunia, bahkan sejarah itu sendiri."

Marguerite menelan salivanya, membayangkan betapa berbahayanya artefak itu. "Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya tiga orang, dan mereka pasti punya lebih banyak orang yang bisa melawan kita."

Lucien berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menatap Marguerite dengan tatapan penuh keyakinan. "Kami bukan hanya tiga orang, Marguerite. Ada banyak sekutu yang menunggu untuk bertindak. Kita hanya perlu menemukan mereka."

"Seperti yang Helena katakan," lanjut Lucien, "ini bukan tentang hanya bertahan hidup. Ini tentang melindungi kerajaan dan memastikan bahwa kekuatan itu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Marguerite mengangguk, walaupun hatinya masih dipenuhi dengan ketakutan. Ia merasa seperti berada di tengah badai yang tidak bisa ia hindari. Apa yang mereka kejar kini bukan hanya sebuah artefak, melainkan sesuatu yang bisa mengubah seluruh hidupnya—dan hidup banyak orang lainnya.

Setelah beberapa saat berjalan di hutan yang lebat, mereka tiba di sebuah pondok kecil yang tampaknya sudah lama tidak digunakan. Helena mengetuk pintu dengan pola yang sudah dikenal, dan dalam beberapa detik, pintu itu dibuka oleh seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang diikat rapi.

"Helena," pria itu menyapa dengan suara berat, "kau datang lebih cepat dari yang aku duga."

Helena mengangguk. "Kita harus bergerak cepat. Mereka telah menemukan jejak kita."

Pria itu mengangguk, matanya yang tajam memperhatikan Marguerite. "Ini dia, yang mereka cari." Ia melirik Lucien dan menambahkan, "Kita tidak punya banyak waktu. Mereka bisa saja sudah berada di dekat sini."

Lucien menyeringai tipis. "Aku sudah siap," jawabnya dengan penuh percaya diri.

Marguerite merasa cemas, tetapi ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu, dalam perjalanannya ini, ia tidak bisa hanya berharap kepada orang lain. Ini adalah pertempuran yang melibatkan dirinya, dan ia harus menghadapi kenyataan itu.

Pria tua itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Eamon, mengundang mereka masuk ke dalam pondok. Di dalam, ruangannya gelap, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkelap-kelip. Di meja kayu yang besar, terdapat peta-peta kuno dan buku-buku tebal yang tampaknya penuh dengan tulisan-tulisan rahasia.

Eamon berjalan menuju meja, memeriksa beberapa peta yang tersebar di sana. "Kita harus bergerak ke utara," katanya dengan suara rendah. "Ada tempat yang aman di sana. Tempat di mana artefak itu bisa disembunyikan untuk sementara."

Lucien mendekat, melihat peta yang dipegang oleh Eamon. "Apakah itu jauh dari sini?" tanyanya, mencoba memahami pergerakan yang akan mereka lakukan.

"Jauh, tapi tidak terlalu jauh," jawab Eamon, menatap Lucien dengan serius. "Kita akan menghadapi banyak bahaya di sepanjang jalan, tetapi itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi Marguerite dan memastikan artefak itu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Marguerite mendekat ke meja, memandangi peta itu. "Kenapa tempat itu begitu penting? Apa yang membuatnya lebih aman daripada tempat lain?" tanyanya, merasa penasaran.

Eamon menghela napas panjang, seolah mencoba merangkai kata-kata dengan hati-hati. "Tempat itu adalah tempat perlindungan kuno, dilindungi oleh sihir yang kuat. Tidak semua orang bisa masuk ke sana, dan hanya mereka yang tahu cara mengaktifkan perlindungannya yang dapat melindungi artefak dengan sempurna."

Helena yang selama ini diam, akhirnya berbicara. "Kita harus melakukannya, Marguerite. Kita tidak punya pilihan lain. Jika kita ingin menjaga kerajaan ini dan masa depan kita, ini adalah jalan satu-satunya."

Lucien menatap Marguerite dengan penuh perhatian. "Ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan berbahaya. Tapi aku janji, kami akan melindungimu."

Marguerite menatap mereka semua dengan penuh tekad. Ada ketakutan di matanya, tetapi juga ada keberanian yang mulai muncul. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi, dan dalam perjalanannya kali ini, ia harus menemukan kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

"Baiklah," katanya dengan suara yang lebih kuat dari yang ia kira. "Aku siap."

Dengan itu, perjalanan mereka pun dimulai. Di luar sana, dunia yang penuh dengan bahaya dan rahasia menanti mereka. Mereka tahu, jalan ini tidak akan mudah, tetapi mereka tidak punya pilihan selain melangkah maju.

Keheningan malam yang mendalam mulai terasa mencekam saat mereka melangkah meninggalkan pondok Eamon. Udara semakin dingin, dan semilir angin berdesir membawa bau tanah basah dari hutan yang lebat. Marguerite, Lucien, dan Helena berjalan dengan langkah hati-hati, setiap suara yang mereka buat terasa terlalu keras di tengah sunyi yang menekan.

Lucien berjalan paling depan, matanya tajam mengamati setiap gerakan di sekitar mereka. Helena menyusul di belakangnya, matanya sesekali melirik Marguerite yang masih terlihat cemas. Marguerite berusaha mengatur napasnya, meski hatinya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan yang menuntutnya untuk menghadapi kenyataan yang lebih besar—dan yang paling menakutkan, kenyataan itu terkait dengan dirinya sendiri.

Pikiran Marguerite terhenti pada satu kalimat yang sempat diucapkan Eamon—tentang perlindungan kuno yang ada di tempat yang mereka tuju. Tempat yang dilindungi oleh sihir, tempat yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang tahu caranya. Itu membuat Marguerite berpikir, apakah ia benar-benar siap untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin ada di balik pintu itu? Apa yang akan mereka temui di sana? Dan yang lebih penting lagi, apa yang akan ia temukan tentang dirinya sendiri?

"Marguerite," suara Helena memecah lamunannya. "Kamu baik-baik saja?"

Marguerite mengangguk cepat, berusaha tersenyum meski ia tahu itu tidak meyakinkan. "Ya, hanya sedikit lelah," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang.

Helena menatapnya dengan mata yang tajam, seperti bisa melihat kecemasan yang tersembunyi. Namun, ia tidak berkata apa-apa lagi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah yang semakin cepat. Keheningan kembali menyelimuti mereka, kecuali suara langkah kaki yang terdengar di tanah hutan yang lembap.

Namun, tidak lama kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi. Di tengah hutan yang gelap itu, tiba-tiba mereka mendengar suara gemerisik yang datang dari arah belakang mereka. Suara itu seperti diikuti oleh sesuatu yang lebih berat—langkah-langkah yang cepat dan berbahaya. Lucien berhenti dan mengangkat tangannya, memberi tanda agar mereka berhenti. Semua mata mereka tertuju ke belakang, menanti dengan cemas.

"Siapa itu?" bisik Helena, suaranya penuh kewaspadaan.

Marguerite menggigit bibirnya, merasakan ketegangan di udara. "Itu... terlalu cepat untuk hanya seekor binatang," ujarnya pelan.

Lucien mengerutkan kening, dan seketika ia menarik pedang dari pinggangnya. "Bersiaplah, mereka sudah dekat," ujarnya, menandakan mereka harus siap menghadapi apa pun yang akan muncul.

Lihat selengkapnya