Veil of Roses

Penulis N
Chapter #6

6

Pagi yang penuh kabut menyelimuti hutan saat mereka melanjutkan perjalanan. Udara terasa dingin, seakan-akan dunia ini menahan napasnya, menunggu sesuatu yang tak diketahui. Marguerite menatap ke arah jalan setapak yang terbentang di depan mereka, penuh keraguan, sementara di belakangnya, Helena dan Aleksandr tetap tenang meskipun jelas terlihat ketegangan yang menggantung di antara mereka.

"Bagaimana kita tahu kalau kita benar-benar berada di jalur yang benar?" tanya Helena, suara lirih, penuh kecemasan. "Setelah apa yang terjadi semalam, semuanya terasa semakin tidak pasti."

Marguerite menoleh pada sahabatnya itu, berusaha memberi keyakinan meskipun hatinya sendiri penuh dengan ketakutan. "Kita tidak tahu, Helena. Tapi jika kita berhenti sekarang, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."

Aleksandr yang berjalan di depan mereka, mendengus pelan, seolah menanggapi kebingungannya. "Kita tidak punya pilihan. Jika kita berhenti, maka semua yang kita perjuangkan akan sia-sia."

Marguerite mengangguk perlahan. Mereka harus terus maju, apapun yang terjadi. Tapi kekhawatiran yang mulai menggelayuti hati Marguerite semakin terasa menyesakkan. Apa yang sedang mereka hadapi? Apa yang akan mereka temukan di ujung jalan ini?

"Ada sesuatu yang janggal dalam kata-kata penjaga itu," ujar Aleksandr, mengalihkan perhatian mereka. "Dia berkata, 'Kalian tidak tahu siapa yang mengendalikan dunia ini.' Apa yang dimaksud dengan itu?"

Marguerite menggigit bibirnya. Kata-kata itu terus terngiang di pikirannya. "Apa yang dia maksud dengan takdir yang sudah digariskan? Siapa yang benar-benar mengendalikan segalanya?"

"Sepertinya kita harus mencari lebih banyak informasi," ujar Helena, matanya berbinar. "Mungkin ada lebih banyak yang kita belum ketahui tentang Veil of Roses. Ada sesuatu yang sangat besar, lebih besar dari yang kita bayangkan."

Mereka melanjutkan perjalanan, dan semakin dalam mereka memasuki wilayah yang tak dikenal, semakin terasa ketegangan di udara. Setiap langkah mereka membawa mereka lebih jauh dari peradaban yang mereka kenal, menuju dunia yang dipenuhi dengan rahasia dan bahaya yang tersembunyi.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang, dan suara-suara aneh terdengar di kejauhan. Seperti bisikan yang tak bisa dipahami, namun sangat nyata. Marguerite mempercepat langkahnya, tak ingin terjebak dalam ketidakpastian yang mengganggu. Tetapi di saat yang bersamaan, sesuatu menarik perhatiannya.

Di samping jalan setapak, di antara pohon-pohon yang rapat, ada sebuah batu besar yang terlihat mencurigakan. Marguerite mendekat, merasakan dorongan untuk memeriksa lebih lanjut. Dia merasa, entah mengapa, ada sesuatu yang penting tentang batu itu. Sesuatu yang bisa memberi mereka petunjuk baru.

"Ada apa?" tanya Helena, melihat Marguerite berhenti di dekat batu itu.

Marguerite tidak menjawab. Matanya terpaku pada permukaan batu yang tampak biasa saja. Namun, setelah memperhatikan lebih dekat, dia melihat sesuatu yang berbeda. Ada ukiran halus yang hampir tak terlihat, seperti simbol kuno yang sudah pudar dimakan waktu.

"Apa ini?" Marguerite menggerakkan tangannya untuk membersihkan batu tersebut dari debu dan lumut, dan segera simbol itu mulai terlihat lebih jelas. Itu adalah simbol yang tak pernah dia lihat sebelumnya, namun entah mengapa, dia merasa sangat familiar dengan bentuknya.

"Ini... ini simbol dari salah satu klan tertua di kerajaan ini," ujar Aleksandr, suaranya penuh dengan kebingungannya. "Tapi kenapa ada di sini? Bukankah mereka sudah lama punah?"

Marguerite merasakan hatinya berdegup kencang. "Klan apa?"

"Clan Elavro," jawab Aleksandr, matanya menajam. "Mereka adalah sebuah keluarga kerajaan yang memiliki pengaruh besar di masa lalu. Tapi mereka dihancurkan dalam sebuah pemberontakan besar lebih dari seratus tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada mereka, tapi ada desas-desus tentang sebuah artefak yang mereka coba sembunyikan—sesuatu yang sangat berbahaya."

Marguerite menatap Aleksandr, kebingungannya bertambah. "Apakah simbol ini ada hubungannya dengan Veil of Roses?"

Aleksandr mengangguk pelan, ekspresinya serius. "Mungkin. Mungkin saja keluarga Elavro adalah kunci untuk memahami artefak itu. Dan jika kita bisa menemukan lebih banyak informasi, kita mungkin bisa menghentikan siapa pun yang mencoba mengendalikannya."

Helena mengerutkan kening. "Tapi, kenapa simbol ini ada di sini, di tengah hutan yang jauh dari kerajaan? Dan apa hubungan mereka dengan penjaga yang kita temui semalam?"

Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan mudah. Namun satu hal yang pasti, mereka sudah semakin dekat dengan sesuatu yang sangat besar—sesuatu yang mungkin bisa mengubah dunia mereka selamanya.

Marguerite menatap ke depan, menahan napas. "Kita harus melanjutkan. Setiap langkah membawa kita lebih dekat pada kebenaran, dan kita tidak bisa mundur sekarang."

Dengan tekad yang lebih kuat, mereka melanjutkan perjalanan, tidak tahu apa yang akan mereka temui di depan. Tapi yang mereka tahu, setiap jejak yang mereka temukan, setiap simbol yang terungkap, akan membawa mereka pada sebuah rahasia yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Dan itu hanya tinggal masalah waktu sebelum kebenaran itu muncul ke permukaan, siap mengubah segalanya.

Perjalanan mereka semakin berat. Kabut tebal yang menyelimuti hutan membuat segala sesuatu terlihat samar. Setiap langkah yang mereka ambil seperti ditarik ke dalam kegelapan yang semakin dalam. Namun, tekad Marguerite tetap kuat. Tidak ada jalan mundur sekarang, meskipun perasaan takut dan cemas terus menggantung di hati mereka.

Helena berjalan di belakang, matanya terfokus pada setiap langkah, waspada terhadap apa pun yang bisa mengancam. Aleksandr, yang tetap berada di depan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan semuanya aman, meskipun jelas ada sesuatu yang mengganggunya. Keheningan yang mencekam hanya dipatahkan oleh suara langkah kaki mereka yang menggema di hutan yang kosong.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, angin yang kencang kembali bertiup, membawa sesuatu yang aneh di udara. Suara berbisik yang samar kembali terdengar, lebih jelas dari sebelumnya, seolah-olah dunia ini sedang berbicara dengan mereka.

"Apakah kalian mendengarnya?" tanya Marguerite, suara lembutnya terputus karena ketegangan yang menyelimuti.

Helena mengangguk, terlihat bingung. "Iya, seperti bisikan. Apa itu? Seperti... suara yang memanggil kita."

Aleksandr berhenti, menahan napas. "Ada sesuatu yang aneh di sini. Kita harus berhati-hati."

Marguerite menatap sekelilingnya. Walaupun tak terlihat ada apa pun, suasana di sekitar mereka semakin menekan. Udara terasa lebih berat, dan bayang-bayang pohon tampak lebih gelap, lebih panjang dari biasanya.

"Apa maksudnya?" tanya Marguerite, mulai merasa terintimidasi oleh perasaan aneh yang menyelimuti mereka.

Tiba-tiba, dari balik semak-semak di sebelah kiri mereka, muncul seorang pria berpakaian hitam. Wajahnya tertutup oleh penutup kepala, hanya matanya yang tampak, bersinar tajam di balik bayang-bayang.

Aleksandr bergerak cepat, meletakkan tangan pada pedangnya. "Siapa kau?" tanyanya, nada suaranya penuh kewaspadaan.

Pria itu tidak menjawab, hanya berdiri diam di tempatnya, menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh ketegangan.

"Tidak perlu takut," suara pria itu akhirnya terdengar, lembut dan dalam. "Aku bukan musuh kalian."

Marguerite memandang pria itu dengan hati-hati. "Siapa kau? Kenapa kau ada di sini?"

Lihat selengkapnya