Pria berpakaian hitam itu berdiri tegak di hadapan mereka, tubuhnya seolah menyatu dengan kabut yang mengelilinginya. Marguerite merasa ada sesuatu yang menekan dada, sesuatu yang gelap dan mengerikan yang datang bersama sosok itu. Pria itu mengenakan topeng besar yang menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya meninggalkan sedikit celah di sekitar mata, yang berkilat tajam seperti dua buah bintang yang tak pernah terjangkau.
"Siapa kamu?" tanya Aleksandr, suaranya tegas, meski ada sedikit ketegangan yang tersirat. Ia mengayunkan pedangnya, siap jika sosok itu berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.
Pria itu tidak bergerak, namun suaranya yang berat terdengar lebih dalam saat ia berkata, "Aku adalah pengawal terakhir dari Veil of Roses. Kalian yang telah memilih jalan ini, harus siap menghadapi konsekuensinya."
Marguerite merasakan jantungnya berdebar kencang, dan otaknya penuh dengan pertanyaan. Veil of Roses—lagi-lagi nama itu. Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa mereka terjerat dalam misteri yang semakin rumit?
"Apa yang kamu maksud dengan Veil of Roses?" tanya Helena, suaranya sedikit gemetar, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Pria itu akhirnya mengangkat tangannya, seolah mengisyaratkan agar mereka lebih mendekat, tetapi tetap berhati-hati. "Veil of Roses bukan sekadar legenda atau cerita kosong. Itu adalah kunci untuk memahami kekuatan yang tersembunyi di balik kerajaan ini," katanya, matanya yang tersembunyi di balik topeng itu menatap tajam. "Jika kalian ingin mengetahui kebenarannya, maka jalan yang akan kalian lewati bukanlah jalan yang mudah."
Marguerite merasa seolah ada sesuatu yang menahan napasnya. "Apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan ini?" tanyanya, suara hampir terlepas tanpa ia sengaja. Ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya yang begitu besar. "Apa yang tersembunyi di balik semua ini?"
Pria itu terdiam sejenak, kemudian mengangkat kepalanya sedikit, seolah memberi isyarat bahwa ia harus memberi mereka petunjuk. "Ada tiga pintu yang harus kalian lewati. Masing-masingnya dijaga oleh makhluk yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan biasa. Namun, hanya mereka yang memiliki hati yang murni yang dapat melewati ujian ini."
Helena menatapnya bingung. "Pintu apa yang kamu maksud?"
"Pintu menuju Veil of Roses," jawab pria itu singkat, namun penuh dengan arti yang mendalam. "Kalian harus mengungkap rahasia yang terkubur selama berabad-abad jika ingin bertahan hidup."
"Dan jika kami gagal?" tanya Aleksandr, nada suaranya serius. "Apa yang akan terjadi?"
Pria itu mengangkat topengnya sedikit, memperlihatkan setengah wajahnya yang tampak tak manusiawi—kulitnya pucat, hampir transparan, dengan mata yang berwarna merah pekat, seolah menyimpan ribuan tahun penderitaan. "Kalian akan menjadi bagian dari cerita lama, tak lebih dari sekadar kenangan yang terlupakan."
Tiba-tiba, kabut itu menyelimuti mereka dengan cepat, semakin tebal, hampir menutupi penglihatan mereka. Hati Marguerite berdebar kencang, seolah dia tahu bahwa ini adalah ujian pertama yang harus mereka lewati.
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Marguerite, merasakan ada beban yang lebih besar dari sebelumnya.
Pria itu menundukkan kepalanya, seolah memberi hormat pada mereka. "Kalian sudah memilih jalan ini. Sekarang, kalian harus siap menerima apa pun yang datang. Petualangan ini adalah takdir kalian, dan tidak ada jalan untuk mundur."
Dengan sekejap, pria itu menghilang dalam kabut, meninggalkan mereka dalam kebingungan yang mendalam. Segalanya terasa begitu cepat dan membingungkan—semua yang mereka ketahui tentang dunia ini terasa seperti mimpi buruk yang semakin nyata.
Marguerite menatap kabut yang mulai memudar, mulutnya terasa kering. "Apa yang baru saja terjadi?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar.
Helena menggenggam tangan Marguerite, memberikan sedikit rasa aman di tengah ketegangan yang begitu mencekam. "Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang jelas, kita tidak bisa berhenti sekarang. Kita harus mencari tahu lebih banyak."
Aleksandr mengangguk, tatapannya kembali tajam. "Jangan biarkan rasa takut menghalangi langkah kita. Ini adalah jalan yang sudah kita pilih. Kita akan menghadapinya, apa pun yang ada di depan kita."
Dengan tekad yang bulat, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke timur, meskipun kabut masih menyelimuti mereka. Setiap langkah mereka membawa mereka semakin jauh ke dalam dunia yang lebih gelap, lebih misterius, dan lebih berbahaya. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka temui selanjutnya. Hanya satu yang pasti—kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.
Langkah kaki mereka menapaki jalan setapak yang mulai kehilangan bentuknya, tertutup rerumputan liar dan lumut lembab. Kabut mulai menipis, menyisakan udara yang dingin dan menusuk tulang. Hening. Tak ada suara burung, tak ada desir angin—seolah dunia menahan napas, menunggu sesuatu.
Marguerite menarik mantel bulunya lebih rapat ke tubuh. "Apa kau merasa... udara di sini berbeda?" bisiknya pada Helena, yang berjalan di sampingnya.
"Seperti tidak nyata," jawab Helena pelan. "Seperti kita berjalan di antara dua dunia."
Aleksandr yang berada beberapa langkah di depan, menoleh. "Kita harus menemukan tempat berteduh sebelum malam turun. Tempat ini tidak aman."
Mereka akhirnya tiba di celah bebatuan yang mengarah pada reruntuhan kuno, tertutup sebagian oleh akar-akar pohon tua. Pilar-pilar batu menjulang dalam diam, dihiasi ukiran yang telah aus oleh waktu. Di tengah reruntuhan itu, ada sumur tua yang dipenuhi bayangan dan ranting kering.
"Tempat ini..." Marguerite menyentuh salah satu pilar. "Aku pernah melihat ini dalam mimpi."
Helena menoleh cepat. "Mimpi?"
Marguerite mengangguk. "Reruntuhan ini, sumur itu, dan..." Ia menunjuk ke arah dinding batu besar di sisi utara reruntuhan. Di sana, ada ukiran samar dua bunga mawar yang bertaut.
"Veil of Roses," bisik Helena.
Aleksandr berjalan mendekat dan memeriksa ukiran itu. "Ada tulisan tua di bawahnya. Latin, mungkin."
Helena membungkuk, mencoba membacanya. "'In cordibus puris, veritas florebit.'"
"'Dalam hati yang murni, kebenaran akan mekar,'" terjemah Marguerite perlahan.
Mereka saling berpandangan. Seakan, tempat ini memang bukan sekadar reruntuhan tua. Ada sesuatu yang disembunyikan di bawahnya. Sesuatu yang telah menunggu mereka selama berabad-abad.
Aleksandr menggenggam gagang pedangnya erat. "Kita harus masuk lebih dalam."
"Tunggu," kata Marguerite sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. "Tempat ini terasa seperti... penjaga. Kita tidak bisa masuk begitu saja."
Tiba-tiba, dari dalam sumur terdengar suara desir—seperti napas panjang dari dunia lain. Udara menjadi lebih dingin. Tanah sedikit bergetar.
Dari balik bayangan, muncul seekor makhluk tinggi besar dengan tubuh setengah transparan. Matanya bersinar putih, tubuhnya dililit kain usang berwarna kelabu. Suaranya menggemuruh, namun tidak menggema, seolah hanya terdengar di dalam kepala mereka.
"Siapa yang berani menginjakkan kaki di pelataran Mawar Abadi?"
Mereka terdiam. Tak satu pun dari mereka yang tahu bagaimana menjawab makhluk itu.
Namun Marguerite melangkah maju.
"Aku," katanya lantang, suaranya gemetar namun mantap. "Putri Marguerite dari Eiravell. Aku datang untuk mencari kebenaran tentang Veil of Roses."
Makhluk itu menatapnya lama, kemudian mengulurkan tangannya. "Jika kau ingin melewati gerbang ini, maka kau harus memberikan satu bagian dari hatimu."