Angin utara meniup tajam ketika mereka tiba di reruntuhan Menara Iseult, menara kuno yang dulunya menjadi tempat pengasingan para bangsawan yang jatuh dari kekuasaan. Langit kelabu menggantung rendah, awan bergulung seperti pertanda murka yang belum sempat turun.
"Tempat ini pernah menjadi saksi perjanjian," kata Helena lirih, jubahnya berkibar diterpa angin. "Di sinilah Ratu Isolde membuat sumpahnya pada malam kelam yang dicatat dalam kitab-kitab tua."
Marguerite menatap bangunan setengah roboh itu, dipenuhi sulur tanaman liar dan batu-batu lapuk yang nyaris tak menyerupai menara lagi. Tapi udara di sekitarnya mengandung sesuatu yang lain—semacam kehampaan, atau mungkin... kehendak yang belum selesai.
"Aku bisa merasakannya," gumam Marguerite. "Seolah tempat ini mengingatku."
Aleksandr memeriksa sekitar, lalu memberi isyarat agar mereka masuk melalui celah di balik reruntuhan. Lorong sempit menyambut mereka, dan Helena menyalakan obor kecil, menyinari batu-batu dinding yang tertutup lumut dan pahatan simbol tua.
"Ada jejak magis di sini," ucap Helena. "Tidak terlihat, tapi terasa. Seperti—"
"Seperti kutukan," potong Aleksandr.
Mereka melangkah hati-hati hingga sampai di sebuah ruangan bawah tanah, berbentuk melingkar, dengan langit-langit kubah yang retak. Di tengah ruangan, terdapat batu datar menyerupai altar, di atasnya ukiran mawar yang sama dengan simbol Arven: mawar hitam bersilang pedang.
Marguerite mendekat perlahan. "Kenapa tempat ini masih utuh meski dunia luar sudah runtuh?"
"Karena ada yang menjaganya," bisik suara dalam bayang-bayang.
Tiga pasang mata langsung menoleh. Dari kegelapan lorong belakang, muncul sesosok pria tua berjubah hitam dan mata yang menyala samar. Rambutnya panjang memutih, dan di lehernya tergantung liontin logam berbentuk tetes darah.
"Siapa kau?" tanya Aleksandr waspada, sudah menggenggam pedangnya.
"Aku hanya penjaga... dari apa yang seharusnya tidak dibangkitkan," jawab pria itu. Suaranya berat, bergema di dinding batu. "Dan kau, anak keturunan Isolde, telah membawa angin perjanjian kembali ke tempat ini."
Marguerite menegakkan tubuh. "Jika kau tahu siapa aku, maka kau juga tahu apa yang kupertaruhkan."
"Kau tidak tahu apa yang kau bangkitkan," pria tua itu mendekat, matanya memandang lurus pada kain Veil yang dibawa Marguerite. "Itu bukan sekadar simbol kerajaan. Itu segel. Penutup. Penjaga agar 'Hati Abadi' tetap tersembunyi."
Helena tercengang. "Hati Abadi benar-benar nyata?"
"Lebih nyata dari darah yang mengalir di nadimu," jawabnya. "Dan jika kau ingin hidup, kau harus menghancurkan Veil itu sebelum klan Arven menemukannya."
Marguerite memeluk kain itu erat. "Tidak. Aku tidak akan menghancurkan warisan ibuku. Aku akan melindunginya."
"Lalu kau akan menjadi umpan," ucap si pria tajam. "Arven akan datang, dan saat mereka menguasai tubuhmu, mereka akan membuka segel itu dengan paksa. Dunia akan menyaksikan kebangkitan kekuatan yang seharusnya tidak pernah ada."
Aleksandr maju. "Lalu apa yang harus kami lakukan?"
Pria itu menghela napas, lalu mengangkat telapak tangannya. "Ada satu tempat. Di utara jauh, tempat para leluhur bersembunyi. Di sana, kau bisa belajar mengendalikan Veil. Tapi perjalanan ke sana... tak banyak yang kembali."
Marguerite menatap pria itu, lalu memandang Helena dan Aleksandr.
"Aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan dalam darah ini. Tapi sekarang aku memilih untuk menjalaninya."
Ia melangkah ke altar, dan saat kain Veil disentuhkan pada simbol mawar hitam, cahaya merah muda menyala samar, membentuk garis-garis yang menyatu dalam lingkaran sihir kuno.
Pria tua itu menutup matanya. "Perjalanan telah dimulai."
Dan dari jauh, di pegunungan Arven, mata-mata bayangan mengawasi dengan mata merah menyala.
"Dia telah membangkitkan Veil," bisik suara dingin. "Saatnya memenuhi perjanjian darah."
Salju menyelimuti jalan berbatu saat rombongan kecil itu memulai perjalanan menuju wilayah utara. Marguerite menyelubungkan diri lebih erat ke dalam jubah bulu yang disiapkan Helena, sementara Aleksandr memimpin dari depan, menunggang kuda kelabu dengan mata awas menelusuri setiap bayangan.
"Berapa jauh lagi ke tempat yang kau maksud?" tanya Marguerite, suara pelan di tengah desir angin dingin.
Helena menunduk melihat peta kulit tua. "Jika kita tidak dihentikan badai atau penyergapan, dua hari lagi kita sampai ke Aenor—the last sanctuary."
Marguerite mengangguk, meski hatinya masih menahan pertanyaan. Aenor. Nama itu muncul dalam syair lama yang dulu dibacakan ibunya. Sebuah tempat yang katanya hanya bisa ditemukan oleh mereka yang 'berdarah mawar'. Kini, dia sadar makna kata itu bukanlah puisi semata.
Langit senja mulai memudar menjadi kelabu pekat. Di kejauhan, gunung membentang dengan puncaknya yang tertutup awan putih. Tapi bukan gunung yang membuat Marguerite terdiam—melainkan sosok-sosok berjubah hitam yang tampak berdiri diam di tepi jurang, memandang ke arah mereka.
"Aleksandr." Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin.
Ia menghentikan kudanya, dan Helena segera menarik busur. "Arven?"
Tak ada jawaban dari sosok-sosok itu, hanya diam. Tapi saat mereka melangkah satu demi satu, menyatu dalam barisan kabut, Marguerite dapat merasakan tekanan aneh—seolah pikirannya sedang digali tanpa izin.