Langit Aenor perlahan meredup, seolah ikut merestui keputusan yang akan mengubah arah sejarah. Dengan jubah dan perbekalan seadanya, Marguerite, Aleksandr, Helena, dan Elyantha berdiri di hadapan lengkungan batu tua di tepi barat lembah. Di sanalah gerbang menuju Umbra Terram—tanah bayangan—bersemayam, tersegel selama ratusan tahun oleh mantra pengikat darah dan janji yang dilupakan.
Elyantha berdiri paling depan. "Begitu kita lewati ini, tidak ada jalan kembali sampai misi kita selesai."
Marguerite menatap batu-batu lumut yang berdenyut lembut dengan cahaya ungu kebiruan. Aroma tanah basah bercampur dengan energi kuno yang menggetarkan udara.
Aleksandr menggenggam tangan Marguerite. "Kau yakin?"
Ia mengangguk mantap. "Aku harus tahu siapa aku sebenarnya. Kalau memang Veil adalah bagian dariku, aku tidak bisa terus hidup dalam bayangan sejarah yang tak pernah dijelaskan."
Dengan mantra pendek dari Elyantha, gerbang terbuka perlahan, dan kabut hitam merembes keluar dari celahnya. Di balik kabut itu, hutan tak dikenal menyambut, penuh bayangan yang bergerak sendiri dan bisikan yang memanggil dari kejauhan.
Langkah pertama mereka terasa seperti menyeberang dari dunia ke dunia. Udara menjadi berat, dan waktu tak terasa nyata di sini. Pohon-pohon menjulang tinggi, daunnya berwarna keperakan, dan tanah dipenuhi bunga merah yang tumbuh tanpa arah.
"Aku mengenali tempat ini," bisik Aleksandr. "Di sinilah ibuku berasal."
"Apakah dia masih hidup?" tanya Marguerite.
Aleksandr terdiam sejenak. "Mungkin. Tapi dia bukan lagi manusia sepenuhnya. Tak ada yang tinggal lama di Umbra Terram tanpa berubah."
Mereka terus berjalan, melewati danau hitam yang permukaannya memantulkan bayangan masa lalu—adegan dari kehidupan mereka yang terdalam, paling tersembunyi. Marguerite melihat dirinya kecil, memeluk ibunya yang mengajarkan tarian kerajaan. Tapi wajah ibunya kabur, tak bisa ia ingat jelas.
Helena berhenti sejenak. "Gerbang berikutnya adalah Kuil Cermin. Di sana, kebenaran tidak bisa disembunyikan. Apapun yang tersisa dari asal usulmu akan terungkap di sana, Marguerite."
Mereka mendaki tebing batu menuju kuil yang tersembunyi di balik rimbun bayangan. Ketika mereka sampai di depan pintu, pintu itu terbuka sendiri. Udara dingin menerpa, membawa bisikan-bisikan dalam bahasa yang telah lama hilang.
Di dalamnya, terdapat cermin raksasa berbingkai batu obsidian. Tapi bukan pantulan biasa yang muncul. Cermin itu mulai memunculkan sosok wanita muda dengan mata emas—wajah yang identik dengan Marguerite, tapi dengan luka panjang melintang di pipinya.
"Aku adalah bayang-bayangmu," suara itu berkata. "Bagian dari darah yang disangkal dunia. Jika kau ingin memahami siapa dirimu, maka terimalah aku."
Marguerite melangkah maju, meski tubuhnya bergetar.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Sentuh cermin. Biarkan aku menyatu kembali."
Elyantha berteriak, "Jangan! Sekali kau menyatu dengannya, tak ada yang bisa memisahkan kegelapan dan terang dalam darahmu!"
Marguerite ragu, namun Aleksandr mendekat. "Pilihannya bukan antara terang atau gelap, melainkan menjadi utuh atau terus retak."
Dengan napas panjang, Marguerite menempelkan tangannya pada permukaan cermin.
Cahaya dan bayangan meledak dalam pusaran yang menelan seluruh kuil.
Kilatan cahaya melesat menembus langit-langit Kuil Cermin. Marguerite terjatuh, tubuhnya terhuyung, napas memburu. Saat ia membuka mata, cermin telah hancur berkeping-keping, dan kabut hitam merayap perlahan menuju tubuhnya, menyatu ke dalam kulitnya, ke dalam darahnya.
"Marguerite!" Aleksandr menerjang ke arahnya, memeluknya erat. Tapi tubuh Marguerite membara, bukan karena panas, melainkan kekuatan yang bangkit dari dalam dirinya sendiri.
"Semuanya... terasa hidup," bisiknya. "Aku bisa merasakannya... seluruh kekuatan yang terikat selama ini. Semua keturunan yang dilupakan. Aku bukan hanya keturunan ratu, Aleks. Aku bagian dari sesuatu yang jauh lebih tua."
Helena dan Elyantha menatapnya ngeri, takjub sekaligus cemas. Di sekitar Marguerite, tanah bergetar halus dan bunga-bunga merah di hutan mulai mekar serentak—hal yang tak pernah terjadi bahkan di Umbra Terram.
"Kau menyatu dengannya," gumam Elyantha. "Kau adalah Veil itu sendiri."