Pagi hari menyambut mereka dengan sinar matahari yang lemah, namun cukup untuk memberi harapan baru. Marguerite berdiri di depan gerbang Lembah Bayangan, menatap ke arah jauh, di mana kabut masih menyelimuti lembah dan pegunungan. Beberapa orang yang tersisa di lembah mulai mempersiapkan diri untuk perjalanan yang panjang dan berbahaya. Pasukan bayangan yang telah dibangkitkan tampak menunggu, seakan siap untuk bergerak saat perintah diberikan.
Aleksandr berdiri di sampingnya, menatap wanita itu dengan penuh perhatian. Ia bisa merasakan ketegangan yang masih menyelimuti Marguerite, meskipun tekadnya terlihat jelas di setiap langkah yang diambilnya. Mereka tahu perjalanan ini tidak akan mudah, dan tantangan yang menanti mereka lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan. Tapi, mereka harus melakukannya. Tak ada pilihan lain.
"Apakah kau yakin akan terus melangkah, Marguerite?" tanya Aleksandr dengan suara yang penuh kekhawatiran. "Kau tahu bahwa kita menghadapi lebih dari sekedar pasukan yang harus kita hadapi. Ada lebih banyak bahaya di luar sana."
Marguerite menoleh, tersenyum tipis, meski ada kesedihan di matanya. "Jika aku mundur sekarang, maka apa artinya semua ini? Takdirku sudah mengarah ke titik ini. Aku tidak bisa menolak perjalanan ini, meskipun aku tahu apa yang ada di depan kita."
Ia menoleh kembali ke pasukan bayangan yang setia menunggu perintah. "Mereka telah dibangkitkan bukan hanya untuk mengikuti perintah, tapi untuk memberi mereka tujuan. Mereka harus tahu bahwa mereka ada untuk sesuatu yang lebih besar."
Elyantha dan Helena, yang telah siap dengan peralatan mereka, mendekat, keduanya dengan wajah penuh tekad. "Kami siap, Marguerite. Aenor menunggu," kata Elyantha.
Helena menambahkan, "Mereka sudah mengetahui kita datang. Kita tidak bisa terlambat lagi."
Marguerite menatap mereka, dan ada rasa terima kasih yang mendalam di matanya. "Terima kasih telah bersamaku. Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri."
Dengan itu, mereka memulai perjalanan mereka menuju Aenor. Hutan di sekitar Lembah Bayangan tampak lebih gelap dari biasanya. Setiap langkah mereka membawa mereka lebih jauh ke wilayah yang asing, penuh dengan ancaman yang tak terlihat. Pasukan bayangan mengikuti dengan diam, seakan terhubung oleh ikatan yang tak terlihat, bergerak dengan teratur, tanpa suara. Mereka seperti bayangan itu sendiri, tak kasat mata, namun begitu nyata.
Selama perjalanan, Marguerite terus memikirkan langkah selanjutnya. Ia tahu bahwa Raja Arcturus, dengan segala kekuatannya, pasti sudah menyiapkan sesuatu. Bagaimanapun, Aenor bukan tempat yang mudah untuk ditaklukkan. Setiap langkah mereka menuju kerajaan itu adalah langkah menuju peperangan yang besar. Raja Arcturus pasti sudah mengerahkan segala cara untuk menghalangi mereka.
Namun, ada satu hal yang membuat Marguerite merasa bahwa ia tidak bisa mundur. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk mereka yang telah lama terkurung dalam sejarah yang terlupakan, untuk pasukan yang kembali ke dunia ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, untuk mereka yang layak mendapatkan kebebasan.
Hari pertama perjalanan mereka berjalan lancar. Mereka melewati hutan lebat yang memisahkan Lembah Bayangan dari wilayah luar. Mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah tempat yang aman, jauh dari jangkauan mata-mata atau pasukan kerajaan. Malam itu, mereka berkemah di bawah langit yang cerah, dengan api unggun menyala di tengah-tengah mereka.
Marguerite duduk di dekat api, terbenam dalam pikirannya. Aleksandr duduk di sampingnya, menjaga jarak namun tetap mendekatkan diri. Ia tahu betapa beratnya beban yang ditanggung oleh wanita ini. Tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai individu yang terus berjuang untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
"Apakah kau berpikir tentang mereka?" tanya Aleksandr dengan suara lembut.
Marguerite mengangguk pelan. "Tentang mereka yang akan datang setelah ini, tentang mereka yang aku harap akan melihat dunia ini dengan mata yang lebih jernih. Aku tidak ingin mereka kembali ke dalam bayang-bayang setelah kita memenangkan perang ini. Aku ingin mereka tahu bahwa mereka berhak mendapatkan tempat di dunia ini."
Aleksandr menatap api unggun, sesekali menyapu pandangannya ke arah pasukan yang tidur. "Kau tahu bahwa itu tidak akan mudah. Dunia tidak mudah menerima perubahan, apalagi perubahan besar seperti yang kau usulkan. Kita akan menghadapi banyak sekali perlawanan."
Marguerite menatap langit, merasa ketenangan malam memberikan sedikit kedamaian. "Aku tahu. Tapi jika kita tidak berusaha, siapa lagi yang akan melakukannya? Jika kita tidak berjuang untuk mereka, untuk warisan mereka, siapa lagi yang akan menjaga agar sejarah mereka tidak dilupakan?"
Aleksandr menarik napas panjang. "Aku akan selalu di sisimu, Marguerite. Apapun yang terjadi, kita akan melaluinya bersama."
Marguerite tersenyum kecil. "Terima kasih, Aleksandr. Tanpamu, aku tak tahu apakah aku bisa melangkah sejauh ini."
Mereka duduk bersama dalam keheningan, hanya terdengar suara api unggun yang berdesis dan angin malam yang berhembus perlahan. Perjalanan masih panjang, dan tantangan yang mereka hadapi semakin besar, tapi Marguerite merasa sedikit lebih kuat, karena ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Pagi menyambut mereka dengan kabut tipis yang menyelimuti bumi. Suasana hutan yang sepi dan tenang kini terasa berbeda, seolah alam itu sendiri merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Setelah istirahat semalam, pasukan bayangan sudah bersiap, meskipun banyak dari mereka yang tidak tidur sama sekali, memilih untuk berjaga.
Marguerite berdiri di pinggir perkemahan, mengamati langit yang perlahan mulai cerah. Di belakangnya, Aleksandr dan Elyantha tampak sedang memeriksa peralatan perang, sementara Helena mempersiapkan peta dan strategi untuk perjalanan lebih lanjut. Di depan mereka, pasukan bayangan yang terdiri dari berbagai macam bentuk makhluk gelap, siap berangkat kapan saja, seolah menunggu perintah yang lebih pasti.
"Semua sudah siap, Marguerite?" tanya Elyantha dengan suara rendah namun penuh tegas.
Marguerite mengangguk, lalu menoleh ke arah Aleksandr. "Kita harus bergegas. Waktu tidak berpihak pada kita."
Aleksandr berjalan mendekat, matanya tajam mengamati sekeliling. "Namun, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Jika kita terus maju seperti ini, kita mungkin langsung bertemu dengan perlawanan yang lebih besar dari yang kita perkirakan."
"Ini saatnya kita menghadapi kenyataan, Aleksandr. Kita tidak punya pilihan," jawab Marguerite dengan suara mantap. "Aenor menanti kita, dan kita harus lebih cepat sampai di sana. Kalau kita terlambat, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka yang menunggu."
Marguerite memandang ke dalam kedalaman hutan, di mana kabut semakin memudar. Dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanan ini adalah langkah terakhir mereka sebelum menghadapi pertempuran yang sesungguhnya. Jika mereka bisa sampai ke Aenor dengan selamat, maka kemenangan akan menjadi milik mereka, tetapi jika mereka gagal... semuanya akan berakhir dengan kehancuran.
Helena mengangguk, lalu mulai memimpin jalan menuju arah yang lebih dalam ke hutan. Pasukan bayangan mengikuti mereka, bergerak dengan lincah namun hati-hati. Setiap langkah mereka seperti menghindari bahaya yang tak tampak, menghindari jebakan dan mata-mata yang mungkin mengintai.