Veil of Roses

Penulis N
Chapter #11

11

Sore itu, angin dingin bertiup kencang di medan perang yang telah berubah menjadi lautan mayat. Pasukan Aenor dan Arcturus bersatu dalam momen kemenangan, namun rasa lega itu terasa sementara. Arcturus, sang penguasa gelap, telah jatuh, namun banyak yang tahu bahwa tak semua musuh mereka telah terkalahkan. Masih ada sisa-sisa pasukan yang setia pada kekuasaannya, dan dunia masih penuh dengan ketidakpastian.

Marguerite berdiri di atas bukit kecil, memandang ke arah medan yang dipenuhi kengerian. Pedangnya yang masih berlumuran darah tergenggam erat di tangannya. Di dekatnya, Elyantha mendekat, membawa secawan air untuknya. "Kau perlu minum," katanya dengan lembut, namun ada rasa khawatir yang tak bisa disembunyikan di matanya.

Marguerite mengambil air itu dan meneguknya dengan cepat, membiarkan tetesan dingin menyegarkan tenggorokannya yang kering. "Terima kasih," jawabnya singkat. Namun pikirannya tetap melayang, tak bisa terlepas dari apa yang baru saja terjadi. Dia tahu bahwa pertempuran ini baru permulaan.

"Apakah ini benar-benar berakhir?" Elyantha bertanya, merasakan gelisah yang sama di hati Marguerite. "Arcturus telah jatuh, tapi masih banyak pengikutnya yang tersebar."

Marguerite menghela napas dalam-dalam. "Ini baru saja dimulai. Mereka akan mencari cara untuk membalas dendam. Tapi kita tak bisa berhenti sekarang."

Saat mereka berdiri bersama, Aleksandr mendekat. Wajahnya serius, meski ada rasa lega yang jelas terlihat di matanya. "Pasukan kita telah menguasai medan perang, tapi kita harus tetap waspada. Pasukan Arcturus yang tersisa takkan menyerah begitu saja. Kita perlu bergerak cepat."

Marguerite mengangguk, setuju dengan Aleksandr. "Kita harus menghentikan mereka sebelum mereka sempat berkumpul lagi. Kita harus menghancurkan sisa-sisa kekuatan Arcturus, atau dunia ini akan kembali jatuh ke tangan kegelapan."

"Dan apa yang akan kita lakukan dengan dunia yang baru ini?" tanya Elyantha. "Kita tak bisa hanya mengalahkan musuh dan berharap semuanya baik-baik saja."

Marguerite menatap mata Elyantha, melihat keberanian dan kepedulian di sana. "Kita akan membangun kembali. Semua ini, semuanya yang telah hilang, akan kembali. Tapi kita harus melakukannya dengan hati yang bersih, dengan niat yang benar. Kita harus memastikan bahwa kerajaan ini tidak jatuh ke tangan yang salah lagi."

Di belakang mereka, para prajurit Aenor mulai bergerak, merawat yang terluka dan mempersiapkan pemakaman bagi yang gugur. Marguerite menatap ke arah mereka, merasakan perasaan campur aduk—kemenangan dan kehilangan yang begitu berat. Tetapi dalam hatinya, dia tahu bahwa ini adalah perjuangan yang tak bisa dihindari. Mereka harus terus maju.

"Apakah kalian siap untuk melangkah ke masa depan yang baru?" Marguerite bertanya, suaranya penuh ketegasan.

Aleksandr dan Elyantha saling bertukar pandang sejenak, lalu mengangguk. "Siap," jawab Aleksandr, suaranya penuh tekad. "Apapun yang harus dilakukan."

Elyantha menambahkan, "Kita akan menghadapi apapun yang datang. Bersama-sama."

Dengan itu, Marguerite tahu bahwa mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang selanjutnya. Persahabatan mereka, yang teruji dalam pertempuran dan pengorbanan, kini menjadi pondasi yang kuat untuk dunia baru yang ingin mereka bangun. Tetapi tantangan yang lebih besar masih menanti mereka. Masa depan belum sepenuhnya jelas, namun satu hal yang pasti—Marguerite tidak akan pernah menyerah pada takdir yang lebih baik.

Pagi hari datang dengan cahaya yang suram, seperti tidak ingin memberi harapan setelah kegelapan malam yang panjang. Meski kemenangan telah mereka raih di medan pertempuran, dunia yang mereka tinggalkan di belakang masih penuh dengan ketidakpastian. Setiap langkah ke depan adalah langkah ke dalam kekosongan yang luas, di mana banyak pertanyaan yang belum terjawab. Marguerite dan pasukannya, walau telah menumbangkan Arcturus, kini harus menghadapi kenyataan bahwa banyak hal yang perlu dibangun kembali.

Pagi itu, Marguerite duduk di ruang utama istana, matanya kosong menatap peta kerajaan yang terbentang di depannya. Aleksandr berdiri di dekat jendela, melirik keluar dengan wajah yang penuh keraguan. Di sisi lain, Elyantha masih sibuk merawat luka-luka yang masih ada, memeriksa setiap prajurit yang kembali ke markas.

Marguerite akhirnya memecah keheningan. "Kita perlu memutuskan langkah selanjutnya," katanya, suaranya berat. "Kerajaan ini telah runtuh hampir seluruhnya. Kota-kota, desa-desa, semuanya terisolasi. Kami telah mengalahkan Arcturus, tetapi kekacauan yang ditinggalkannya masih terlalu besar untuk kami tangani sendirian."

Aleksandr menghela napas panjang. "Benar, kita tidak bisa hanya duduk dan menunggu semuanya pulih dengan sendirinya. Kita membutuhkan dukungan dari kerajaan-kerajaan lain, atau kita akan terus terpecah. Arcturus tidak hanya meninggalkan pasukan yang setia padanya, tetapi juga banyak pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kekosongan kekuasaan ini."

Marguerite menatap Aleksandr, matanya penuh determinasi. "Kita harus mencari aliansi. Mungkin ini saat yang tepat untuk mendekatkan diri kepada kerajaan-kerajaan tetangga. Kita tak punya banyak pilihan. Jika kita tidak melangkah cepat, kita bisa kehilangan apa yang telah kita perjuangkan."

Elyantha yang sejak tadi mendengarkan, akhirnya menyela. "Tapi aliansi itu bukan tanpa risiko, Marguerite. Kita harus berhati-hati. Beberapa kerajaan ini tidak memiliki niat yang baik. Mereka mungkin hanya menunggu kesempatan untuk menundukkan kita atau mengambil keuntungan dari keruntuhan kita."

Marguerite memutar peta itu, jari-jarinya menyentuh garis yang membagi wilayah mereka dari kerajaan-kerajaan tetangga. "Aku tahu risikonya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Kita harus memperkuat posisi kita sebelum musuh lain datang menyerang."

Ketika ketegangan itu semakin memuncak, tiba-tiba pintu ruang itu terbuka. Seorang pengawal datang dengan cepat, wajahnya penuh kecemasan. "Yang Mulia, ada pesan dari kerajaan Altharion."

Marguerite segera mengangkat pandangannya. "Apa isi pesannya?" tanyanya, suara penuh perhatian.

Pengawal itu menyerahkan sebuah gulungan surat dengan segel kerajaan yang tak asing baginya. Marguerite membuka segel itu dan membaca isinya dengan cermat. Di sana tertulis permintaan untuk bertemu langsung, namun ada juga ancaman tersirat yang menyertai undangan tersebut.

Aleksandr mendekat, membaca sekilas surat itu. "Kerajaan Altharion. Mereka mungkin menganggap kita lemah setelah pertempuran ini. Kita harus berhati-hati."

Marguerite mengangguk. "Aku tahu. Tapi kita tak bisa menghindari pertemuan ini. Jika kita menolak, mereka mungkin akan melihatnya sebagai tanda ketidakmampuan atau ketakutan."

Elyantha mengamati Marguerite dengan serius. "Apakah ini yang terbaik, Marguerite? Bagaimana jika mereka membawa pasukan dan tidak hanya sekedar berdiplomasi?"

Lihat selengkapnya