Veil of Roses

Penulis N
Chapter #12

12

Pagi hari di kerajaan Altharion membawa angin segar yang melintasi halaman istana. Namun, di dalam istana, udara terasa lebih berat. Setelah pertemuan tadi malam, Marguerite tahu bahwa setiap langkah berikutnya harus diperhitungkan dengan matang. Ancaman yang diterimanya dalam surat, meskipun tidak langsung, tetap memberi peringatan yang jelas: mereka sedang diperhatikan. Dan mereka tidak tahu oleh siapa.

Pagi itu, Aleksandr berjalan ke sisi Marguerite, di mana dia sedang duduk di ruang kerjanya, merenung. Mereka berdua belum berbicara banyak sejak pertemuan dengan Lana, namun ada sebuah ketegangan yang jelas terasa di antara mereka. Seringkali, saat terperangkap dalam permainan politik seperti ini, perasaan pribadi menjadi kabur, dan itu membuat segala keputusan menjadi lebih sulit.

"Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Aleksandr, memecah keheningan.

Marguerite menatap ke luar jendela, seolah mencoba mencari jawaban dari langit yang kelabu. "Aku tidak tahu," jawabnya dengan suara pelan, tetapi penuh keyakinan. "Tapi kita tidak bisa mundur. Kita harus lebih waspada, lebih hati-hati. Setiap keputusan yang kita buat sekarang bisa menentukan arah kerajaan ini."

Aleksandr berjalan mendekat, duduk di kursi yang ada di dekat meja kerjanya. "Aku mengerti. Tapi aku khawatir jika kita terlalu banyak mengandalkan aliansi ini, kita akan kehilangan kendali atas apa yang sebenarnya kita inginkan."

Marguerite memandangnya dengan penuh perhatian, dan ada kesedihan yang tersirat dalam matanya. "Kadang-kadang kita harus berkompromi untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan, Aleksandr. Tapi aku berjanji, aku tidak akan membiarkan kerajaan ini terjerumus dalam permainan politik yang kotor."

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Selama beberapa detik, suasana di antara mereka terasa penuh ketegangan. Tetapi kemudian, Aleksandr bangkit dan melangkah ke arah pintu. "Baiklah, kita akan menghadapinya bersama. Tapi ingat, jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana, aku akan mendukungmu."

Marguerite mengangguk perlahan, dan saat itu Aleksandr melangkah keluar ruangan, meninggalkan Marguerite untuk merenung lebih dalam. Dia tahu bahwa perjalanannya tidak akan mudah, dan setiap pilihan yang mereka buat akan berdampak pada nasib kerajaan. Namun, saat dia menatap lagi ke luar jendela, hatinya terasa lebih ringan.

Di sisi lain istana, Lana sedang berada di ruangannya, memperhatikan sebuah peta besar yang terbentang di atas meja. Peta itu menunjukkan wilayah yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan, dengan banyak garis yang menghubungkan kerajaan-kerajaan, kota-kota, dan benteng-benteng strategis. Di sudut peta, terdapat sebuah tanda yang mencurigakan – wilayah yang tidak dikenal, sebuah tempat yang belum pernah disebutkan sebelumnya dalam perbincangan mereka. Marguerite, yang tiba-tiba muncul di depan pintu, menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

Lana menatap Marguerite dengan tatapan tajam. "Aku tahu kau penasaran dengan ini," katanya, menunjuk ke peta. "Tempat ini... tempat ini mungkin lebih penting dari yang kita kira."

Marguerite melangkah masuk, mendekat dengan rasa ingin tahu yang tak bisa dibendung. "Apa yang kau maksudkan? Kenapa ada tempat yang tidak tercatat di peta resmi?"

Lana mengangkat bahunya, wajahnya menyiratkan keengganan untuk berbicara lebih banyak. "Ada banyak hal yang tersembunyi di luar sana, Marguerite. Tempat ini adalah salah satu dari mereka. Sejak lama, wilayah itu terisolasi, dan tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di sana. Namun aku mendengar kabar bahwa ada sesuatu yang sedang dibangun, sesuatu yang bisa mempengaruhi kita semua."

Marguerite merasa sebuah perasaan cemas mulai merayap di dalam dirinya. "Apa yang sedang dibangun di sana? Apakah itu terkait dengan ancaman yang aku terima?"

Lana tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap peta itu dengan tajam, seolah berpikir keras. "Mungkin. Atau mungkin ini hanya salah satu dari banyak permainan yang sedang berlangsung."

Marguerite merasakan beratnya kata-kata itu. "Aku harus tahu lebih banyak tentang ini. Apa yang harus kita lakukan untuk menyelidikinya?"

Lana menatapnya sejenak, lalu berkata, "Ada banyak cara untuk menyelidikinya, tapi tidak semuanya aman. Kita harus berhati-hati. Dan jika kamu benar-benar ingin menyelidiki tempat ini, kita perlu berkoordinasi dengan beberapa pihak yang lebih berpengaruh di kerajaan."

Marguerite mengangguk. "Aku siap untuk itu. Kita tidak bisa hanya duduk diam dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Jika ada ancaman, kita harus menghadapi dan menghadapinya dengan hati-hati."

Namun, ketika Marguerite melangkah mundur, berbalik menuju pintu, dia merasakan perasaan aneh. Seperti ada yang mengawasi mereka, mengintai dari balik bayang-bayang. Keadaan ini semakin menekan dan menantang mereka, namun di balik semua itu, Marguerite tidak bisa menepis perasaan bahwa dia sedang berada di ujung sebuah perjalanan panjang, penuh bahaya dan pengorbanan.

Malam itu, istana Altharion diselimuti oleh ketegangan yang semakin terasa. Meskipun para penghuni istana berusaha menjaga suasana tetap tenang, Marguerite tahu bahwa perangkap yang semakin dekat ini tidak bisa dihindari lagi. Ia berdiri di balkon kamar pribadinya, memandangi cahaya bulan yang terpantul di permukaan air sungai yang mengalir di bawah, tetapi pikirannya berkelana jauh, berusaha menyusun langkah-langkah berikutnya.

Aleksandr sudah memberi isyarat bahwa ia siap membantu, namun di hati Marguerite, keraguan itu masih ada. Apakah mereka cukup siap menghadapi apa yang sedang mereka hadapi? Semua ini terasa seperti serpihan teka-teki yang jauh lebih besar dari apa yang mereka bayangkan.

Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Aleksandr memasuki ruangan dengan langkah tenang, meskipun ada garis ketegangan yang jelas terlihat di wajahnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini sedikit dihiasi oleh kelelahan, namun ia berusaha untuk tetap menunjukkan kekuatan.

"Kita harus segera bergerak, Marguerite," katanya dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Marguerite menoleh, menyadari bahwa situasi mereka semakin genting. "Kita harus tahu apa yang ada di balik semua ini," jawabnya dengan pasti, meskipun hatinya penuh dengan kecemasan. "Tempat itu—tempat yang Lana sebutkan—sepertinya lebih dari sekadar ancaman sederhana. Ada sesuatu di sana yang bisa mengubah segalanya."

Aleksandr mendekat, matanya tak lepas menatapnya. "Kita tidak bisa hanya bergantung pada informasi yang kabur ini. Ada banyak risiko yang harus dipertimbangkan."

Marguerite menghela napas, merasakan beratnya beban yang ia pikul. "Aku tahu, Aleksandr. Tapi jika kita menunggu lebih lama, kita mungkin akan kehilangan kesempatan. Kita harus segera mengetahui lebih banyak tentang tempat itu."

Pikirannya semakin jernih seiring dengan kata-kata yang diucapkan Aleksandr. Terkadang, langkah pertama untuk mengetahui kebenaran memang harus dilakukan dengan mengambil risiko.

"Berarti kita harus segera menuju ke sana?" tanya Aleksandr, memastikan.

Lihat selengkapnya