Suasana dalam gudang itu berubah begitu cepat. Anggota Obsidian Circle terdiam, seakan dipenuhi rasa takut yang mendalam. Marguerite dan Aleksandr pun merasa terperangkap dalam kebingungan yang luar biasa, tidak mengerti apa yang terjadi. Sosok bercahaya itu kini berdiri di depan mereka, aura kuat yang memancar dari tubuhnya membuat ruang itu terasa semakin dingin.
"Siapa... siapa kau?" tanya Aleksandr, suaranya tergetar. Ia tetap mempertahankan pedangnya, meskipun tahu lawan yang ada di depan mereka bukanlah musuh biasa.
Sosok itu mengangkat tangannya, memancarkan sinar putih yang semakin terang. Kemudian, suara yang dalam dan memekakkan telinga terdengar, seakan berasal dari dalam bumi. "Aku bukan siapa-siapa, hanya penjaga yang akan mengungkap kebenaran yang kau cari."
Marguerite merasa ada ketegangan yang sangat tebal di udara, seperti ada sesuatu yang besar akan terungkap. "Kebenaran apa?" tanyanya dengan suara gemetar. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sosok itu menghela napas, dan tiba-tiba, kilatan cahaya menyilaukan itu meredup. Ketika cahaya itu hilang, sosok itu tampak lebih jelas. Kini, mereka bisa melihat seorang pria tua dengan mata yang penuh kebijaksanaan, wajah yang dipenuhi dengan kerutan, namun aura yang dimilikinya begitu kuat dan agung.
"Aku adalah penghubung antara dunia yang terlupakan dan yang dikenal," jawab pria itu dengan tenang. "Aku datang untuk memberitahukan kalian semua, kebenaran yang tersembunyi di balik The Obsidian Circle dan takdir kalian berdua."
Marguerite merasa cemas, namun rasa ingin tahu juga memaksanya untuk bertanya lebih lanjut. "Apa yang kau maksud? Apa hubungan kami dengan kelompok ini?"
Pria itu menatap Marguerite dan Aleksandr dengan tajam. "Kalian adalah dua potongan kunci yang diperlukan untuk membuka gerbang kekuasaan yang lebih besar. The Obsidian Circle tidak hanya menginginkan gulungan itu. Mereka mencari sesuatu yang jauh lebih berbahaya—sesuatu yang bisa mengubah takdir seluruh kerajaan."
Aleksandr tidak bisa menahan perasaan herannya. "Apa yang mereka inginkan?" tanyanya, sambil tetap siap dengan pedangnya.
"Sesuatu yang sudah hilang sejak berabad-abad lalu," jawab pria itu dengan berat. "Gulungan itu bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi juga kunci untuk membuka rahasia kuno yang bisa meruntuhkan seluruh dunia ini jika digunakan dengan salah."
Marguerite menggigit bibirnya, merasakan ketegangan yang semakin mencekam. "Lalu, mengapa mereka menginginkan kami?"
"Karena kalian berdua adalah pewaris dari darah yang memiliki koneksi langsung dengan masa lalu," kata pria itu, menatap tajam pada keduanya. "Satu dari kalian memiliki darah kerajaan yang telah lama hilang, dan satu lagi—" dia berhenti sejenak, menatap Marguerite dengan penuh arti, "—memiliki kekuatan yang bahkan tidak kalian pahami."
Marguerite tertegun. "Kekuatan apa?"
Pria itu menggelengkan kepala, seolah menyadari bahwa mereka belum siap untuk memahami sepenuhnya. "Waktunya belum tiba untuk menjelaskan segalanya. Namun, ingatlah ini, kalian tidak akan bisa melarikan diri dari takdir yang telah digariskan."
Anggota Obsidian Circle yang sebelumnya terdiam kini mulai bergerak maju, walaupun mereka tampak sedikit teragak-agak. Pemimpin mereka, pria tua yang sebelumnya berbicara dengan penuh kebencian, kali ini lebih tenang, namun tatapannya penuh perhitungan.
"Kau pikir kau bisa menghalangi kami?" katanya dengan sinis. "Kami akan tetap menguasai apa yang menjadi hak kami."
Pria bercahaya itu hanya tersenyum tipis. "Kalian telah terlambat. Apa yang kalian kejar sudah berubah. Dan kalian tidak akan pernah menguasainya."
Tanpa memberi kesempatan lebih lanjut, pria itu mengangkat tangannya sekali lagi, dan tiba-tiba, seluruh ruangan dipenuhi dengan cahaya yang sangat kuat. Para anggota Obsidian Circle terhuyung mundur, ketakutan akan kekuatan yang tak terduga itu.
"Pergilah, sebelum aku mengubah takdir kalian," kata pria itu dengan suara yang menggelegar.
Marguerite dan Aleksandr tertegun, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka sadar bahwa ini bukan hanya tentang mereka lagi, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih besar—dan lebih berbahaya.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, cahaya itu mulai mereda, meninggalkan keheningan yang aneh. Ketika mereka membuka mata, sosok pria bercahaya itu sudah menghilang, meninggalkan hanya seberkas cahaya yang kini lenyap dalam kegelapan.
Aleksandr menatap Marguerite dengan ekspresi cemas. "Apa yang baru saja terjadi? Siapa pria itu?"
Marguerite tidak bisa menjawab, hanya bisa menatap ke arah tempat pria itu berdiri dengan rasa kebingungan yang mendalam. "Aku... aku tidak tahu."
Namun, mereka tahu satu hal pasti—perjalanan mereka baru saja dimulai, dan takdir mereka jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan.
Marguerite menghela napas panjang setelah kejadian yang baru saja mereka alami. Dia berdiri di tengah gudang yang kini sepi, suara derap langkah kaki para anggota Obsidian Circle yang mundur, masih bergema di telinganya. Walau mereka telah pergi, rasa ketegangan itu tak kunjung hilang. Bahkan, semakin kuat.
"Apakah kau mendengarnya?" Aleksandr bertanya pelan, matanya mengamati sekeliling, seolah mencari tanda-tanda keberadaan pria bercahaya itu.
Marguerite mengangguk pelan. "Aku mendengarnya. Itu... bukan sekadar peringatan, Aleksandr. Apa yang kita hadapi jauh lebih besar daripada yang kita kira."
Mereka berdua berdiri beberapa saat dalam diam, mencoba memproses segala sesuatu yang baru saja terungkap. Kebenaran yang hampir mustahil untuk diterima.
"Kita harus segera mencari tahu lebih banyak tentang gulungan itu," kata Aleksandr, akhirnya memecah keheningan yang tebal. "Aku tidak yakin dengan apa yang dia katakan, tapi kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja."
Marguerite mengangguk setuju. Dia merasa cemas, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang mulai terbakar. Sesuatu yang membimbingnya untuk terus maju, meskipun jalan yang ada sangat gelap dan penuh bahaya. "Aku tahu. Kita harus mencari tahu siapa yang sebenarnya berusaha menguasai gulungan itu, dan apa yang sebenarnya mereka inginkan."
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari arah pintu gudang yang terbuka. Aleksandr dan Marguerite berbalik, siap menghadapi ancaman berikutnya. Tetapi yang mereka temui bukanlah musuh, melainkan seseorang yang sudah sangat dikenal.