Veil of Roses

Penulis N
Chapter #15

15

Marguerite merasakan jantungnya berdegup kencang saat halaman demi halaman buku itu terbuka di hadapannya. Setiap simbol, setiap kata yang tercetak dengan tinta kuno itu, seakan-akan membisikan rahasia yang belum terungkap. Ia berusaha memahami setiap detail, tetapi semakin lama semakin banyak yang tidak ia pahami. Ada sesuatu yang menakutkan, tetapi juga memikat dalam setiap lekukan kata-kata yang terkandung dalam gulungan itu.

"Ethan," panggilnya, suaranya sedikit bergetar, "apa ini semua nyata?"

Ethan mengalihkan pandangannya dari halaman terakhir yang baru ia baca, menatap Marguerite dengan mata yang penuh tekad. "Semua ini adalah kenyataan yang tak bisa kita hindari. Apa yang ada di sini, apa yang ditulis oleh para penjaga, adalah bagian dari warisan yang lebih besar, lebih dalam daripada yang pernah kita bayangkan."

Aleksandr, yang sejak tadi terdiam dan hanya memerhatikan mereka, akhirnya berbicara. "Jika kita terus membaca ini, apa yang akan terjadi? Bukankah ada kemungkinan kita bisa terjebak dalam sesuatu yang lebih berbahaya dari yang kita tahu?"

Marguerite memandang Aleksandr, matanya penuh pertanyaan. "Apakah kamu takut?"

Aleksandr menatapnya, lalu menggelengkan kepala. "Bukan takut. Aku hanya tidak ingin kita berakhir seperti mereka. Para penjaga itu, mereka yang telah gagal."

Ethan menatap mereka berdua bergantian. "Kita tak bisa mundur. Kita sudah tahu apa yang kita cari. Buku ini bukan sekedar objek yang harus ditemukan, ini adalah kunci untuk memahami apa yang telah terjadi dan apa yang akan datang."

Marguerite menunduk, jari-jarinya menyentuh simbol yang tampaknya lebih bersinar dibandingkan dengan yang lain. "Ethan, apa maksud dari simbol ini?"

Ethan melihat dengan seksama dan mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. "Ini... ini simbol dari negeri yang terlupakan. Dari kerajaan yang telah hilang dan terhapus dari catatan sejarah," kata Ethan dengan pelan. "Tapi lebih dari itu, simbol ini berarti sesuatu yang lebih besar. Seperti pertanda dari kekuatan yang lebih kuat dari yang kita tahu."

Aleksandr terdiam sejenak, lalu berkata, "Kekuatan apa itu, Ethan? Dan mengapa kita yang harus menemukannya?"

Ethan terdiam sejenak, menatap buku itu dengan mata yang kelam, seolah berusaha mencari jawaban dari setiap huruf yang ada di hadapannya. "Karena kita yang ditakdirkan untuk menemukannya. Kita yang diberi kesempatan untuk mengungkap semuanya. Semua ini sudah tertulis sejak lama. Tapi... kita juga yang harus bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi."

Marguerite merasakan ketegangan yang menggelayuti di dalam dadanya. Semua yang mereka hadapi sekarang semakin jauh dari apa yang mereka bayangkan. Ini lebih dari sekadar pencarian rahasia. Ini adalah ujian, bukan hanya untuk mereka, tapi untuk dunia yang mereka tinggali.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Marguerite, suara penuh tekad meski masih ada sedikit keraguan yang tersisa.

Ethan menatapnya dengan penuh keyakinan. "Kita harus melanjutkan perjalanan ini. Tidak ada jalan lain. Tetapi kita juga harus siap dengan apa yang akan datang."

Namun, tepat saat itu, sebuah suara keras terdengar dari arah luar ruangan. Suara langkah kaki yang cepat dan terengah-engah. Mereka bertiga saling berpandangan, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Seseorang datang!" teriak Aleksandr, suara cemas menyelimuti kata-katanya.

Ethan bergerak lebih cepat, menutup buku itu dengan hati-hati, lalu menyembunyikannya di dalam jubahnya. "Tidak ada waktu untuk ragu. Kita harus pergi sekarang."

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka bertiga bergerak cepat, meninggalkan ruang bawah tanah itu. Langkah-langkah mereka menggema di lorong gelap, sementara ketegangan semakin terasa. Apa yang akan mereka hadapi sekarang?

Marguerite merasa keringat dingin merayapi punggungnya. Mereka baru saja mulai menyentuh lapisan pertama dari misteri ini, dan kini mereka sudah terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar. Dunia yang mereka kenal mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak dapat mereka kontrol lagi.

"Ke mana kita pergi?" tanya Marguerite, saat mereka terus berlari, mencari jalan keluar.

Ethan tidak menjawab langsung, tapi matanya yang tajam menunjukkan arah yang harus mereka tuju. "Ada tempat yang harus kita cari. Tempat yang tersembunyi, di mana kebenaran tentang segalanya tersimpan."

Aleksandr mempercepat langkahnya, tak ingin tertinggal. "Apa tempat itu?"

Ethan menoleh sebentar, matanya penuh makna. "Tempat yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang siap menghadapi kegelapan."

Tanpa berkata lebih banyak lagi, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke tempat yang belum mereka pahami sepenuhnya. Setiap langkah terasa semakin berat, semakin penuh dengan ancaman yang tak terlihat. Kegelapan yang mereka cari kini semakin mendekat, dan mereka tahu bahwa tidak ada jalan kembali.

Langkah kaki mereka semakin cepat, menembus kegelapan lorong yang panjang dan sempit. Marguerite bisa merasakan udara semakin pengap, dan suara langkah mereka yang terpantul di dinding makin keras, seolah mengintensifkan ketegangan yang ada.

Ethan memimpin mereka melalui lorong-lorong bawah tanah yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Di sepanjang perjalanan, mereka tak menjumpai seorang pun. Hanya suara bisikan angin yang terdengar. Marguerite merasakan ada sesuatu yang ganjil. Lorong ini terasa seperti milik dunia lain, dunia yang dilupakan, seperti terjebak di antara waktu dan kenangan.

"Di mana kita sebenarnya?" tanya Aleksandr, suaranya dipenuhi rasa curiga. "Tempat ini tidak ada dalam catatan manapun."

"Ini bukan tempat yang tertera di mana pun," jawab Ethan sambil berlari, tak menoleh sedikit pun ke belakang. "Ini adalah tempat yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Dan kini kita adalah bagian dari mereka."

Marguerite bisa merasakan kecemasan Aleksandr, meskipun ia berusaha untuk tetap tenang. "Apakah kita akan selamat?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.

Ethan berhenti sejenak di persimpangan, memandang ke kiri dan ke kanan, lalu mengangguk pelan. "Kita akan selamat jika kita bisa mencapai pintu terakhir. Setelah itu, baru kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Marguerite merasa dada yang semula penuh dengan keraguan kini dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan. Apa yang sebenarnya mereka cari? Apa yang tersembunyi di balik pintu terakhir yang dimaksud Ethan? Apakah itu jawabannya? Atau justru awal dari bahaya yang lebih besar?

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, lorong yang mereka masuki semakin sempit, seperti ada yang berusaha menahan mereka. Hawa dingin menggigit kulit mereka, dan semakin lama semakin terasa seperti sesuatu yang sedang mengintai mereka dari dalam kegelapan.

Lihat selengkapnya