Makhluk-makhluk bayangan itu bergerak dengan cepat, seolah-olah mereka bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga sesuatu yang terbuat dari kegelapan itu sendiri. Mereka tidak mengeluarkan suara, hanya langkah berat yang menggema di udara sepi, dan matanya yang bersinar tajam menatap mereka dengan kebencian yang mendalam.
"Siapkan diri kalian!" teriak Aleksandr, menarik pedangnya dengan sigap.
Marguerite merasakan getaran aneh di tubuhnya, seolah ada kekuatan yang tak terlihat mulai mengalir di dalam dirinya. Setiap detik yang berlalu terasa semakin menegangkan, namun ia tahu satu hal—mereka tidak bisa mundur. Keputusan mereka untuk datang ke dunia ini bukan hanya untuk mencari kebenaran, tetapi untuk bertahan hidup.
Salah satu makhluk bayangan bergerak cepat ke arah mereka, tangannya yang panjang mencoba mencengkeram tubuh Marguerite. Dengan insting tajam, ia menghindar, melompat ke samping, dan menyerang dengan pedangnya. Namun, pedang itu hanya menembus bayangan tipis, seperti memotong udara kosong.
"Waspadalah!" teriak Ethan, yang kini terlibat dalam pertempuran sengit dengan makhluk lain.
Marguerite menatap makhluk itu dengan cemas. Meskipun fisiknya tampak nyata, tubuhnya terasa seperti kabut yang sulit ditangkap. Ini bukan sekadar pertempuran fisik. Ini adalah ujian kekuatan batin mereka, untuk bertahan di dunia yang penuh dengan kegelapan ini.
Satu makhluk mencoba menyerang dari belakang, tetapi dengan refleks cepat, Marguerite berbalik dan menghujamkan pedangnya ke arah makhluk itu. Kali ini, pedangnya berhasil mengenai sasaran. Namun, tubuh bayangan itu meledak menjadi serpihan kegelapan, hanya untuk segera bersatu kembali dalam bentuk yang lebih besar dan lebih mengerikan.
"Tidak akan berakhir begitu saja," kata Aleksandr, memandang kengerian di depannya. "Mereka akan terus muncul, tidak peduli seberapa banyak kita melawan."
Marguerite merasakan kekuatan aneh itu kembali mengalir di dalam dirinya, lebih kuat dari sebelumnya. Dia mulai menyadari bahwa mungkin inilah yang dimaksud pria di lembah—mereka harus menemukan cara untuk mengendalikan kekuatan ini, atau mereka tidak akan pernah bisa keluar dari sini.
Sementara itu, Ethan memutar pedangnya, berusaha menciptakan ruang untuk mereka bertahan. "Marguerite, kita harus menemukan cara untuk menghancurkan mereka! Kita tidak bisa terus bertarung tanpa tujuan."
Dengan fokus penuh, Marguerite menutup matanya sejenak, mencoba merasakan sumber dari kekuatan yang mulai membara di dalam dirinya. Suara pria yang muncul di dunia ini masih terngiang di telinganya. "Apakah kalian siap menghadapi apa yang ada di dalamnya?" Kebenaran itu begitu dekat, namun mereka harus berjuang untuk mencapainya.
Kekuatan yang terpendam itu mulai menjelma menjadi sesuatu yang lebih nyata. Marguerite membuka matanya, dan kali ini, pandangannya dipenuhi dengan tekad yang bulat. "Aku tahu bagaimana cara mengalahkan mereka," katanya dengan suara tegas, dan bahkan Aleksandr serta Ethan melihat ada perubahan dalam dirinya.
Marguerite mengangkat tangan ke udara, memusatkan energi dari dalam dirinya. Secara perlahan, cahaya mulai muncul dari telapak tangannya, membentuk lingkaran energi yang berputar. Itu bukan hanya cahaya biasa; cahaya itu membawa kekuatan purba, seolah menyatu dengan dunia itu sendiri.
Makhluk bayangan itu terhenti, seakan terkejut dengan energi yang muncul begitu tiba-tiba. Dalam sekejap, Marguerite melemparkan energi itu ke arah salah satu makhluk. Cahaya itu menyentuh tubuh makhluk itu, dan dalam sekejap, tubuhnya meledak menjadi puing-puing bayangan yang hancur, hilang dalam kegelapan.
Ethan dan Aleksandr tertegun sejenak, tidak menyangka Marguerite bisa menghasilkan kekuatan sebesar itu. Namun, makhluk lainnya tidak tinggal diam. Mereka semakin menggila, semakin banyak yang muncul dari kegelapan.
"Kita harus terus bertarung!" teriak Aleksandr, memotong salah satu makhluk yang mencoba menyerangnya.
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan, suara aneh terdengar dari kejauhan. Seperti suara derap langkah yang jauh lebih berat. Semakin lama, suara itu semakin jelas, dan tiba-tiba, makhluk-makhluk bayangan yang ada di sekitar mereka mundur, menarik diri ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
"Ada sesuatu yang lebih besar datang!" teriak Ethan, matanya menatap ke arah suara itu.
Marguerite menatap tajam, berusaha mencari tanda-tanda apa yang mungkin muncul. Dalam keheningan yang mendalam, sebuah bayangan besar mulai muncul dari kegelapan. Itu bukan lagi sekadar makhluk bayangan biasa. Ini adalah sosok yang jauh lebih mengerikan, lebih besar, dan lebih kuat. Bentuknya tidak jelas, hanya sebuah siluet besar yang tampaknya menguasai seluruh lembah.
"Apa itu?" tanya Aleksandr, suaranya penuh ketakutan.
Marguerite merasakan kekuatan yang ada dalam dirinya mulai mengalir lebih kuat, lebih panas. "Ini adalah ujian terakhir," kata Marguerite dengan penuh keyakinan, meskipun hati mereka dipenuhi kecemasan.
Sosok besar itu semakin mendekat, dan mereka tahu mereka harus siap menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang pernah mereka bayangkan. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan sekarang adalah bertarung hingga akhir.
Sosok besar itu semakin mendekat, membuat tanah di bawah mereka bergetar seolah-olah seluruh dunia hendak pecah. Dalam cahaya redup yang terpancar dari energi Marguerite, mereka bisa melihat sedikit bayangan dari makhluk tersebut. Wujudnya bukan sekadar makhluk fisik, tetapi lebih seperti entitas yang terbuat dari kegelapan itu sendiri, dengan mata yang berkilau merah seperti api yang marah.
"Ini bukan makhluk biasa," bisik Aleksandr dengan cemas. "Kita tidak tahu apa yang kita hadapi."
Ethan menyarungkan pedangnya, kemudian memeriksa sekeliling mereka. "Apapun itu, kita harus siap menghadapi yang terburuk. Kalau kita tidak bisa mengalahkannya di sini, dunia yang kita kenal bisa hancur."
Marguerite merasakan kekuatan dalam dirinya terus berkembang, namun ada rasa takut yang menggerogoti hatinya. Apakah mereka benar-benar bisa menghadapi makhluk sebesar ini? Setiap langkah yang mereka ambil, semakin berat, semakin mendalam. Namun, satu hal yang ia yakini: mereka tidak bisa mundur. Jika ini adalah takdir mereka, mereka harus siap menghadapinya.
Makhluk itu tiba-tiba berhenti beberapa langkah dari mereka, menatap dengan tatapan tajam yang membuat udara terasa beku. Dari dalam dirinya, muncul suara yang dalam dan menggelegar, seperti suara ribuan suara yang tercampur menjadi satu.
"Apakah kalian benar-benar ingin tahu kebenaran?" suara itu bergetar di udara, mengusik ketenangan mereka. "Kalian yang datang ke dunia ini harus siap menghadapi apa yang sudah lama terkunci. Dunia ini bukan untuk kalian. Kalian bukan bagian dari takdir ini."
Marguerite merasa darahnya berdebar kencang. "Kami datang untuk mencari kebenaran, dan kami tidak akan mundur!" jawabnya dengan suara penuh tekad.
Makhluk itu tertawa, namun tawa itu terasa tidak manusiawi, seolah berasal dari kedalaman yang gelap. "Kebenaran... Kebenaran akan memakanmu, Marguerite. Apakah kamu siap membayar harga yang harus dibayar?"