Veil of Roses

Penulis N
Chapter #23

23

Kuil itu semakin terasa seperti labirin yang tiada ujungnya. Setiap langkah mereka seolah membawa mereka lebih dalam ke dalam dunia yang tidak mereka kenal. Dinding batu yang keras dan kasar di sekitar mereka memberi kesan seperti menekan udara, membuat mereka sulit bernapas. Sementara itu, bayang-bayang yang bergerak di antara lorong-lorong kuil semakin nyata, seakan mengintai dari balik kegelapan.

Marguerite memimpin langkah mereka, tangannya tetap menggenggam buku kuno itu erat-erat. Setiap langkah yang diambilnya terasa semakin berat. Seiring waktu, kecemasan semakin mendalam di hatinya. Adakah mereka benar-benar siap untuk menghadapi apa pun yang ada di depan mereka?

"Marguerite," suara Ethan memecah keheningan. "Apakah kamu yakin ini jalan yang benar? Kuil ini... terasa seperti ada sesuatu yang tidak biasa."

Marguerite menoleh dan melirik Ethan sekilas. "Aku tidak tahu, Ethan. Tetapi jika simbol ini benar-benar adalah petunjuk, kita harus mengikuti ini hingga akhir."

Ethan mengangguk, meskipun ekspresinya menunjukkan keraguan. "Dan jika simbol itu hanya membawa kita ke dalam perangkap?"

"Apa pun yang terjadi, kita harus siap menghadapi konsekuensinya," jawab Marguerite, matanya penuh tekad. "Kita tak bisa mundur sekarang."

Aleksandr, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Kita akan menemui akhir yang baik, atau kita akan menemui kegelapan... tapi kita harus bertarung sampai akhir."

Marguerite tersenyum tipis, meskipun hatinya tak sepenuhnya yakin. Namun, kata-kata Aleksandr menguatkan semangatnya. Mereka telah melalui begitu banyak hal bersama. Mereka tak bisa membiarkan semuanya berakhir sia-sia.

Tiba-tiba, cahaya redup muncul di ujung lorong yang gelap, seolah mengundang mereka untuk mendekat. Marguerite melangkah maju, tanpa ragu, seakan cahaya itu adalah jawaban yang mereka cari. Ethan dan Aleksandr mengikuti dengan langkah yang lebih hati-hati.

Setibanya mereka di ujung lorong, mereka menemukan sebuah ruang besar yang dipenuhi dengan patung-patung tinggi yang berbentuk manusia, namun wajah mereka tertutup kain putih tebal. Suasana ruangan itu sunyi, namun terasa ada sesuatu yang aneh. Setiap patung seakan memandang mereka, meskipun matanya tertutup kain.

"Ini... ini tidak terasa seperti tempat yang ramah," bisik Ethan, suaranya penuh kehati-hatian.

Marguerite melangkah lebih dekat ke salah satu patung, tangannya meraba kain yang menutupi wajahnya. "Ada sesuatu di sini. Aku bisa merasakannya."

Tiba-tiba, kain yang menutupi patung itu terlepas begitu saja, jatuh ke tanah dengan suara yang bergema di ruangan itu. Wajah patung yang sebelumnya tersembunyi itu kini tampak jelas. Namun, bukan wajah manusia yang mereka temui. Mata patung itu bersinar dengan warna merah gelap, dan bibirnya terengut sedikit seperti sedang tersenyum.

"Ini... bukan patung biasa," kata Aleksandr, suaranya penuh ketegangan.

Marguerite mundur beberapa langkah, namun langkahnya terhenti ketika suara berderak datang dari sudut lain ruangan. Dari balik bayang-bayang yang lebih gelap, sebuah pintu rahasia perlahan terbuka. Di dalamnya, ada cahaya biru yang samar-samar berkilauan.

"Sepertinya ini tujuan kita," kata Marguerite, meskipun rasa takutnya mulai tumbuh. Apa yang akan mereka temui di balik pintu itu?

Ethan mengangguk, dan mereka bertiga melangkah maju, memasuki pintu rahasia yang terbuka. Ruangan di baliknya tampak sangat berbeda—dindingnya dihiasi dengan tulisan-tulisan kuno yang tampaknya memancarkan kekuatan yang begitu besar. Di tengah ruangan, terdapat sebuah altar yang menjulang tinggi, di atasnya terletak sebuah batu besar yang bersinar dengan cahaya biru kehijauan.

"Itulah yang kita cari," kata Aleksandr, suaranya penuh keyakinan.

Marguerite mendekat ke altar, merasakan getaran kuat yang berasal dari batu tersebut. Sesuatu di dalam dirinya terasa seolah terhubung dengan batu itu, seperti panggilan dari dalam yang tak bisa ditahan. Ia ingin menyentuhnya, ingin tahu apa yang tersembunyi di balik kekuatan yang begitu besar.

Namun, saat tangannya menyentuh permukaan batu, seluruh ruangan tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya biru itu memancar lebih terang, menyelimuti mereka dalam kilauan yang membutakan. Marguerite merasakan sensasi yang sangat kuat, seakan tubuhnya terangkat dari tanah.

"Marguerite!" teriak Ethan, namun suaranya terdengar jauh di telinganya.

Seketika, semuanya menjadi hening. Ruangan yang sebelumnya penuh dengan cahaya kini kembali gelap, dan Marguerite merasa dirinya jatuh ke dalam ruang kosong yang tak terlihat ujungnya.

Marguerite merasakan tubuhnya jatuh bebas, diselimuti kegelapan yang mengelilinginya. Suara-suara sekitar terasa seperti bisikan jauh yang tidak jelas, seolah-olah dia terperangkap di dalam ruang yang tak bisa dijangkau. Segala sesuatu terasa terdistorsi, seakan dunia di sekitarnya berubah bentuk dan ruang.

Namun, meskipun segala sesuatu tampak hancur, dia bisa merasakan sesuatu yang familiar. Sebuah perasaan yang menghubungkannya dengan sesuatu lebih besar, sesuatu yang sudah lama hilang, namun kini kembali.

Akhirnya, tubuhnya menghentak tanah dengan keras, dan dia terjerembab ke dalam sebuah ruangan gelap. Marguerite terengah-engah, merasakan sakit di tubuhnya. Ia membuka mata perlahan, hanya untuk menemukan dirinya berada di tempat yang sama sekali asing.

Dinding di sekelilingnya dipenuhi dengan tulisan-tulisan kuno yang tampaknya lebih terang daripada sebelumnya, bersinar dalam nuansa biru kehijauan yang lembut. Pijakan kakinya terasa dingin, namun udara di sekitarnya hangat, penuh dengan energi yang tak dapat dijelaskan.

"Apa ini...?" suara Marguerite terdengar lirih, tetapi suaranya sendiri terasa asing baginya, seolah terdistorsi oleh sesuatu yang luar biasa.

Sebelum dia sempat menyadari apa yang terjadi, langkah kaki terdengar dari kejauhan. Dia menoleh, dan sesosok bayangan muncul di ujung ruangan, siluet seseorang yang terlihat seperti pria, dengan langkahnya yang pasti.

Marguerite terbangun, berdiri dengan cepat meskipun tubuhnya masih terasa lemah. Bayangan itu mendekat, dan semakin jelaslah bahwa itu adalah sosok yang dikenalnya.

"Ethan?" suaranya penuh kebingungan dan kelegaan.

Namun, saat sosok itu semakin mendekat, sesuatu yang tidak biasa muncul di matanya. Mata Ethan tampak kosong, tidak ada kehidupan yang biasanya ada di sana. Seolah-olah dia bukan Ethan yang dia kenal.

"Marguerite... apa yang telah kau lakukan?" suara Ethan yang tak lagi penuh kehangatan itu mengalir keluar dari bibirnya, membuat Marguerite terdiam, terkejut.

"Apa maksudmu?" Marguerite bertanya, suaranya gemetar.

Lihat selengkapnya