Marguerite merasakan segenap perasaan bertabrakan dalam dirinya. Pilihan itu, yang disarankan oleh suara yang menghantui mereka, terasa sangat sulit. Melangkah maju atau mundur, kedua opsi itu berisiko. Namun, tidak ada jalan mundur. Di depan mereka berdiri patung itu, menunggu keputusan yang harus diambil.
Ethan berdiri di sampingnya, ekspresinya tenang, meskipun Marguerite bisa merasakan ketegangan yang tak terucapkan. Sebuah dilema, sebuah teka-teki besar yang harus mereka pecahkan—takdir yang tak terelakkan.
"Apakah kita harus memilih satu dari kita untuk maju?" tanya Marguerite, suara gemetar dalam keheningan yang menekan. "Apakah itu berarti kita harus bertarung?"
Ethan menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Aku rasa itu bukan pertarungan fisik. Mungkin ini lebih kepada keputusan moral, atau mungkin ujian dari hati kita."
Di hadapan mereka, pintu besar yang terbuka semakin terang. Dari dalam, sesuatu tampak bergerak. Cahaya yang berkilau seolah menunggu mereka untuk masuk lebih jauh.
Marguerite merasakan dorongan yang kuat untuk melangkah maju. Seperti ada sesuatu yang menariknya, memanggilnya untuk mengikuti cahaya itu. Tetapi di dalam hatinya, dia merasakan ketakutan yang besar. Apa yang akan terjadi di balik pintu itu? Apa yang akan mereka hadapi?
Tiba-tiba, suara itu kembali bergema, lebih keras dan lebih menuntut. "Pilihlah, anak-anak takdir. Satu langkah ke depan akan menentukan jalanmu."
Marguerite menarik napas dalam-dalam dan menatap Ethan. "Apa menurutmu, Ethan? Apa yang harus kita lakukan?"
Ethan tampak berpikir sejenak, lalu perlahan dia mengangkat tangannya, menggenggam tangan Marguerite dengan lembut. "Aku tidak tahu apa yang ada di depan kita. Tapi satu hal yang aku tahu, aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian, Marguerite."
Marguerite menatap mata Ethan yang penuh keyakinan. Ada kehangatan dalam tatapannya yang memberi sedikit ketenangan di tengah kegelisahannya. Ini adalah pilihan yang sangat besar, tetapi mereka harus melangkah, apapun yang menunggu mereka di sana.
Mereka melangkah bersama ke dalam cahaya itu.
Begitu mereka memasuki ruangan yang lebih luas, semuanya berubah. Suasana terasa semakin berat, dan Marguerite bisa merasakan sebuah kekuatan yang mempengaruhi suasana hati mereka. Di depan mereka, sebuah jalan panjang terbentang, dipenuhi dengan cabang-cabang pohon besar yang tampak tua dan kuat. Namun, jalan itu gelap, dengan hanya beberapa cahaya samar yang menerangi setiap langkah mereka.
Di ujung jalan, ada dua sosok yang berdiri tegak, menunggu mereka. Kedua sosok itu mengenakan jubah panjang yang tertutup sepenuhnya, wajah mereka tersembunyi dalam bayangan. Di depan mereka terhampar sebuah meja batu besar, dengan dua pedang yang tergeletak di atasnya.
"Siapakah yang akan memilih?" suara itu kembali terdengar, namun kali ini terdengar lebih dalam, lebih mendalam. "Hanya satu yang dapat maju, satu yang dapat memilih takdir."
Marguerite merasa perutnya terasa mual. Apa maksud dari semua ini? Kenapa harus ada pedang-pedang itu? Apa yang mereka harapkan dari mereka berdua? Tiba-tiba, dia merasa seperti terjebak dalam sebuah permainan yang jauh lebih besar dari dirinya.
Ethan menggenggam tangannya lebih erat, membuat Marguerite merasakan keteguhan dalam dirinya, meskipun dalam ketidakpastian. "Kita akan memilih bersama," bisiknya, suara penuh keyakinan. "Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama."
Mereka berjalan lebih dekat ke meja batu itu. Saat mereka melangkah, sosok-sosok yang menunggu mereka bergerak maju, membuka jubah mereka. Di dalam cahaya yang samar, wajah mereka terungkap—mereka adalah dua figur yang sangat dikenal oleh Marguerite, meskipun saat itu mereka tampak berbeda, lebih misterius dan penuh teka-teki. Dua sosok yang telah mengawasi mereka sejak awal.
"Selamat datang," kata salah satu dari mereka, suaranya penuh berat. "Ini adalah ujian terakhirmu."
Marguerite dan Ethan saling berpandangan. Ujian terakhir? Apa yang sebenarnya dimaksud dengan ini?
"Ambillah pedang itu," kata sosok lainnya, suaranya seperti bisikan. "Dan pilih takdirmu."
Tanpa ada kata-kata lebih lanjut, mereka berdua berdiri di hadapan meja batu itu. Tangan mereka menggenggam erat, seakan berusaha memberikan kekuatan satu sama lain. Inilah saat yang paling penting dalam perjalanan mereka.
Marguerite menatap pedang itu, lalu perlahan tangannya bergerak untuk meraihnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Marguerite meraih pedang pertama. Hatinya berdebar begitu keras, seolah menandakan bahwa setiap detik berikutnya akan sangat menentukan. Pedang itu terasa berat di tangannya, namun ada sesuatu yang kuat dan stabil mengalir dari ujung bilahnya, seperti sebuah energi yang telah menunggu untuk dibebaskan.
Ethan berdiri di sampingnya, juga memegang pedang dengan gagah. Wajahnya serius, namun sorot matanya tetap penuh kepercayaan. Ini adalah momen yang sudah mereka tunggu, meskipun tidak mereka harapkan. Mereka tidak tahu apa yang ada di depan, namun mereka tahu satu hal: mereka tidak akan mundur.
"Apakah kalian sudah siap?" suara itu kembali bergema, mengisi ruangan dengan kekuatan yang memaksa mereka untuk menjawab.
Marguerite dan Ethan saling berpandangan. Mereka mengangguk serempak, seolah-olah mereka telah mencapai kesepakatan tanpa kata-kata.
"Satu langkah lebih dekat," lanjut suara itu dengan nada yang lebih rendah, "Satu pilihan terakhir, sebelum semuanya berubah."
Dengan satu gerakan serentak, mereka melangkah maju, menuju ujung jalan yang penuh kabut. Di sana, patung-patung besar dengan mata yang tertutup tertata rapi, seolah menjaga setiap langkah mereka. Setiap langkah yang mereka ambil semakin terasa berat, seperti dunia ini menahan mereka untuk maju.