Marguerite dan Ethan melangkah lebih jauh ke dalam istana, melewati lorong-lorong besar yang tampak semakin gelap, meskipun cahaya terang dari luar masih bisa menyelinap melalui jendela tinggi. Setiap langkah mereka semakin terasa berat, seolah-olah istana itu sendiri menahan tubuh mereka untuk bergerak maju.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai di sebuah ruang besar yang tampaknya merupakan ruang utama dari istana tersebut. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah meja batu besar, dengan sebuah buku terbuka yang diletakkan di atasnya. Ruangan itu sunyi, dan hanya ada gema langkah mereka yang terpantul dari dinding-dinding batu.
"Ethan... Apa ini?" tanya Marguerite, suaranya gemetar. Matanya tertuju pada buku itu, yang seolah mengundang mereka untuk mendekat.
Ethan mengangkat alis, tetapi tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju dan mendekati meja batu tersebut. Ia mengamati buku yang terbuka itu, namun halaman-halamannya tampak kosong, hanya ada sedikit goresan tulisan yang tidak bisa terbaca dengan jelas.
"Ini aneh," gumam Ethan, mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di balik buku tersebut.
Marguerite mengikutinya dengan langkah hati-hati, rasa penasaran membara di dalam dirinya. Saat ia berdiri di samping Ethan, matanya terfokus pada halaman yang tertulis samar itu. Tiba-tiba, seberkas cahaya biru muncul dari dalam buku, menyinari wajah mereka.
"Siapa yang menulis ini?" tanya Marguerite dengan terkejut.
Namun, sebelum Ethan bisa menjawab, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih keras dan lebih jelas dari sebelumnya.
"Untuk menemukan kebenaran, kalian harus menulis takdir kalian sendiri."
Marguerite dan Ethan saling berpandangan, bingung dengan apa yang baru saja mereka dengar. Suara itu terdengar seperti sebuah peringatan-sebuah perintah.
"Apa maksudnya?" tanya Marguerite.
"Aku tidak tahu... Tapi sepertinya, kita harus menulis sesuatu di sini." Ethan memandang buku itu lagi, matanya menyipit. "Mungkin, ini adalah kunci untuk melanjutkan ujian ini."
Dengan hati-hati, Ethan meraih pena yang tergeletak di samping buku dan mulai menulis di halaman yang kosong. Marguerite berdiri di sampingnya, menunggu dengan rasa cemas yang semakin memburuk. Ketika pena menyentuh halaman, cahaya biru semakin terang, menyelimuti seluruh ruangan, dan suara itu terdengar lagi, lebih kuat dari sebelumnya.
"Keputusan kalian akan menentukan takdir kerajaan ini. Pilih dengan bijak."
Ethan mengerutkan keningnya. "Takdir kerajaan... Apa maksudnya? Kita tidak bisa begitu saja memilih tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan pembicaraan, seluruh ruangan tiba-tiba bergetar. Dinding-dinding batu itu mulai retak, dan dari celah-celah yang muncul, asap hitam keluar, membentuk sosok-sosok yang menyeramkan. Mereka bisa melihat bayangan gelap yang bergerak-gerak, menghampiri mereka dengan cepat.
"Ethan!" Marguerite teriak panik. "Apa yang sedang terjadi?"
Sosok-sosok itu semakin mendekat, dan dalam ketegangan yang meningkat, suara itu kembali terdengar.
"Untuk setiap pilihan, ada konsekuensinya. Kini saatnya kalian membayar harga."
Marguerite merasa tubuhnya gemetar, sementara Ethan memegang tangannya dengan erat, berusaha menenangkan dirinya. Namun, tak ada yang bisa mempersiapkan mereka untuk apa yang akan datang.
Dengan sekejap, bayangan-bayangan itu berubah menjadi sosok manusia yang nyata, dengan mata merah menyala dan wajah yang dipenuhi luka-luka seperti korban dari peperangan. Mereka bergerak maju dengan penuh kekuatan, seolah tidak ada lagi kesempatan untuk mundur.
"Ethan... apa yang kita lakukan?" tanya Marguerite dengan suara terbata.
"Tidak ada pilihan lain," jawab Ethan, dengan tatapan penuh tekad. "Kita harus bertahan. Kita sudah sampai sejauh ini."
Sosok-sosok itu semakin mendekat, dan Marguerite bisa merasakan hawa dingin yang membekukan kulitnya. Namun, di saat terakhir, ketika semuanya terasa hampir mustahil, tiba-tiba sebuah cahaya putih menyelimuti mereka. Cahaya itu datang dari buku yang mereka temui di meja batu.
"Cahaya...," Marguerite berbisik, matanya terbuka lebar.
Ethan menarik Marguerite ke belakangnya, mencoba melindunginya dari ancaman yang semakin dekat. Namun, cahaya itu terus tumbuh lebih kuat, hingga akhirnya seluruh ruangan terisi dengan cahaya yang membutakan mata mereka.
Ketika cahaya itu mereda, sosok-sosok tersebut menghilang begitu saja. Ruangan itu kembali sunyi, dan hanya ada mereka berdua, terengah-engah, masih terkejut oleh apa yang baru saja terjadi.
"Apa... apa yang baru saja terjadi?" tanya Marguerite, masih belum bisa memahami.
Ethan menatap buku itu dengan intens. "Aku rasa kita baru saja melewati ujian besar. Namun... ini belum selesai."
Marguerite memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu, namun juga cemas. "Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Ethan menarik napas dalam-dalam. "Kita harus menulis pilihan kita, Marguerite. Ini belum berakhir."
Ethan dan Marguerite berdiri dalam keheningan yang penuh dengan ketegangan. Di sekitar mereka, udara terasa semakin berat, seolah-olah istana itu mengerti betapa besar beban yang kini mereka pikul. Buku yang tergeletak di atas meja batu itu tampak seperti sebuah ancaman, namun juga memberikan sebuah harapan yang samar.
"Bagaimana kita bisa tahu apa yang harus kita pilih?" tanya Marguerite dengan suara bergetar. "Apa yang terjadi jika kita salah?"
Ethan memandang buku itu, wajahnya penuh dengan kebingungan dan kecemasan. Namun, di balik itu semua, ada rasa tekad yang tak tergoyahkan. "Tidak ada cara untuk mengetahui pasti. Namun, kita tidak punya pilihan selain melangkah. Kita harus membuat keputusan, Marguerite, apapun risikonya."
Marguerite mengangguk pelan. Meskipun hatinya penuh dengan keraguan, ia tahu bahwa mereka tidak bisa mundur lagi. Mereka telah terjebak dalam pertempuran ini jauh lebih dalam daripada yang mereka duga. Tak ada jalan kembali.