Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #2

Kekuasaan Kegelapan

Hujan mengguyur ibu kota Umbra Veil seperti tirai besi.

Air hitam mengalir di sela batu-batu jalan, membawa lumpur, abu, dan sisa minyak dari lentera mana yang dipasang di sepanjang distrik bangsawan. Di atas kota, menara-menara putih menjulang menembus kabut. Lambang kerajaan berkibar dari puncaknya, disulam dengan benang perak di atas kain hitam. Dari kejauhan, lonceng Kuil Dewi Helia terdengar tiga kali.

Bagi rakyat, suara itu menandakan doa malam.

Bagi Kylia, malam itu terdengar seperti penghakiman.

Ia berdiri di bawah atap batu sebuah bangunan tua di distrik perdagangan bawah. Jubah abu-abu menutupi zirahnya. Rambutnya diikat rapat agar tidak mengganggu pandangan. Lambang kapten kavaleri telah ia lepaskan dari bahu, begitu pula pedang kerajaan yang biasanya tergantung di pinggangnya.

Yang tersisa hanya pakaian perjalanan gelap dan sebilah belati tipis.

Di hadapannya, sebuah pintu besi berkarat tertanam di bawah fondasi rumah kosong.

Pasar gelap.

Kylia menarik napas perlahan.

Ia telah memasuki puluhan medan perang.

Ia pernah melihat manusia terbakar di bawah trebuchet, menyaksikan pasukan kehilangan barisan karena hujan panah, bahkan memerintahkan anak buahnya menebas orang-orang yang mengangkat bendera pemberontak.

Semua itu dapat ia pahami.

Perang memiliki aturan, seburuk apa pun aturan itu.

Namun apa yang disembunyikan di bawah kota ini tidak memiliki aturan.

Hanya harga.

Kylia menyentuh gagang belatinya.

Kemudian membuka pintu.

Bau pertama yang menyambutnya adalah darah lama.

Bau kedua adalah besi.

Bau ketiga seperti kulit yang terbakar.

Tangga batu menurun jauh ke bawah tanah.

Ia mulai berjalan.

--o--

Pasar gelap Umbra Veil tidak terlihat seperti pasar.

Tidak ada tenda warna-warni, tidak ada pedagang yang meneriakkan harga, tidak ada kerumunan biasa.

Tempat itu terlalu tenang.

Lampu mana berwarna kehijauan dipasang di sepanjang dinding. Cahaya mereka memantul pada lantai batu yang basah dan membentuk genangan pucat. Lorong utama terbagi menjadi beberapa jalur sempit. Di satu sisi terdapat meja yang menjual artefak perang. Di sisi lain, senjata tanpa lambang kerajaan ditata dalam peti.

Lebih jauh, Kylia melihat peti-peti kecil berisi kristal jiwa.

Beberapa bahkan masih bergerak di dalamnya.

Ia tidak berhenti.

Tujuannya lebih dalam.

Kylia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, meniru gerak pedagang biasa. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu hati-hati.

Di medan perang, ketakutan memiliki bau.

Di tempat seperti ini, ketakutan memiliki harga.

Seorang pria bertubuh besar berdiri di persimpangan. Dua orang penjaga di belakangnya membawa tombak pendek.

“Pembeli atau penjual?” tanyanya.

“Pembeli.”

“Apa yang dicari?”

“Kontrak.”

Pria itu mengamati Kylia.

“Jenis?”

Kylia menunjukkan sekeping uang logam hitam.

“Militer.”

Mata pria itu berubah.

“Lorong kanan.”

Kylia berjalan.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Bukan karena takut tertangkap.

Karena satu kata itu baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang selama berminggu-minggu ia coba buktikan.

Militer.

Sebuah pintu kayu tebal menunggu di ujung lorong.

Di atasnya terukir lambang tiga mahkota yang saling bertumpuk.

Lambang bangsawan tingkat tinggi.

Kylia menunggu sampai seorang pembawa peti lewat.

Kemudian menyelinap di belakangnya.

Pintu terbuka.

Ruangan di dalam lebih hangat.

Meja-meja penuh dokumen memenuhi sisi dinding. Gulungan kontrak disusun berdasarkan lambang kerajaan, nama klan, dan kelas iblis. Beberapa pria berjubah bangsawan berdiri sambil berbicara pelan.

Kylia menempelkan tubuh di balik tumpukan peti.

Ia mendengar suara.

“Gelombang kedua sudah dikirim?”

“Delapan puluh tiga.”

“Masih kurang.”

“Mereka belum terbiasa dengan perintah fase kedua.”

“Kalau begitu paksa.”

Kylia membeku.

Fase kedua.

Ia tahu istilah itu.

Semua perwira kerajaan tahu.

Secara resmi, Kontrak Jiwa merupakan metode pengendalian terhadap ras iblis yang digunakan dalam kondisi perang. Fase pertama hanya memberi pemegang kontrak kemampuan mengawasi dan memberikan perintah terbatas.

Fase kedua berbeda.

Fase kedua merampas kehendak.

Tidak ada lagi penolakan.

Tidak ada lagi keinginan.

Makhluk yang terkena fase kedua masih bisa bergerak, berbicara, bahkan bertarung.

Tetapi bukan karena ia memilih.

Ia hanya melaksanakan.

Kylia mengintip dari balik peti.

Seorang bangsawan membuka kontrak.

“Divisi Ketujuh Klampor.”

Lembar berikutnya.

“Regu Pengepung Morvane.”

Lembar berikutnya.

“Pasukan Penjaga Sungai Vark.”

Kylia merasakan tenggorokannya mengering.

Nama-nama itu bukan nama individu.

Itu nama unit tempur.

Divisi.

Regu.

Pasukan.

Seluruh kelompok iblis.

Dipaksa bekerja.

Ia bergerak perlahan menuju meja paling ujung.

Sebuah buku besar terbuka.

Matanya menyapu halaman.

PEMBERIAN KONTRAK JIWA UNTUK OPERASI KERAJAAN.

Di bawahnya terdapat kolom.

Nama unit.

Jumlah personel.

Kerajaan pengguna.

Tujuan.

Status kontrak.

Kylia membaca satu baris.

Pemberontakan Timur.

Tiga ratus tujuh belas iblis.

Fase kedua.

Berhasil.

Baris berikutnya.

Perang Perbatasan Utara.

Seratus sembilan puluh dua iblis.

Fase kedua.

Masih aktif.

Baris berikutnya.

Penaklukan Benteng Hareth.

Empat ratus lima puluh.

Fase kedua.

Semua unit hilang.

Kylia menahan napas.

Tangannya meremas tepi meja.

Semua unit hilang.

Di bagian bawah terdapat tanda pengesahan.

Bukan tanda tangan seorang pedagang.

Bukan kepala pasukan.

Cap kerajaan.

Cap milik dewan perang Umbra Veil.

Lalu tepat di bawahnya ada lambang keluarga aristokrat yang selama puluhan tahun menjadi pendukung utama takhta.

Kylia menatapnya lama.

Selama ini kerajaan mereka mengajarkan bahwa Umbra Veil adalah pelindung umat manusia.

Kerajaan terbesar di benua Harappa.

Benteng manusia terakhir dari ancaman ras iblis.

Tempat Kuil Dewi Helia berdiri sebagai pusat iman delapan puluh persen manusia di sisi benua mereka.

Mereka diajari bahwa perang adalah kewajiban.

Bahwa iblis adalah musuh.

Bahwa pasukan kerajaan bertempur untuk mempertahankan umat manusia.

Namun catatan di hadapannya berkata lain.

Kerajaan tidak hanya membunuh iblis.

Kerajaan membeli mereka.

Lihat selengkapnya