Siang di perbatasan tidak pernah terasa seperti siang.
Matahari menggantung pucat di balik lapisan awan kelabu, cahayanya jatuh seperti debu di atas reruntuhan kota yang telah lama ditinggalkan. Menara yang patah berdiri miring di antara bangunan-bangunan tanpa atap. Jalan batu terbelah oleh akar dan retakan lama. Di beberapa tempat, sisa dinding masih membawa bekas terbakar dari perang yang telah berakhir bertahun-tahun lalu.
Tidak ada bendera.
Tidak ada hukum.
Tidak ada kerajaan yang cukup bodoh untuk mengakui tempat itu sebagai miliknya.
Perbatasan antara wilayah manusia dan iblis di Benua Harappa membentang seperti luka yang sengaja dibiarkan terbuka. Orang-orang menyebutnya zona tanpa hukum. Para pedagang menyebutnya jalur bebas. Para prajurit menyebutnya tempat di mana perintah tidak lagi punya arti.
Dan di antara reruntuhan itulah Kylia bersembunyi.
Ia merunduk di balik tembok batu yang separuh runtuh, satu tangan mencengkeram permukaan kasar, sementara matanya mengikuti dua sosok di kejauhan.
Salah satunya mengenakan mantel lapis baja militer Umbra Veil.
Kylia mengenal bentuk bahunya.
Cara berjalan itu juga.
Valrick.
Mantan atasannya.
Dulu, Valrick adalah orang yang belajar bersamanya soal bagaimana menunggang kuda di tengah hujan panah, bagaimana membaca pergeseran barisan musuh, dan kapan seorang prajurit harus membunuh tanpa ragu.
Kylia pernah memandang pria itu sebagai seseorang yang tidak dapat digoyahkan. Terlepas seberapa licik caranya.
Kini ia melihatnya berdiri di hadapan seorang iblis tua berbalut zirah hitam.
Wakil guild.
Kylia mempersempit mata.
Ia tidak dapat mendengar seluruh percakapan dari jarak itu, tetapi beberapa kalimat terbawa angin.
“Jumlahnya berkurang lagi.”
Suara Valrick.
Dingin.
Menekan.
Iblis di hadapannya menundukkan kepala sedikit.
“Kami tidak bisa menyediakan lebih banyak.”
“Bisa.”
“Kau meminta sesuatu yang tidak kami miliki.”
“Kerajaan tidak membayar kekurangan.”
Valrick meletakkan sebuah tabung logam di atas meja batu yang dijadikan tempat perundingan.
“Dalam kontrak ini tercantum enam ratus dua puluh nama. Yang datang hanya dua ratus sembilan.”
Wakil jenderal itu tidak menyentuh tabung tersebut.
“Karena yang tersisa dari enam ratus dua puluh itu tidak lagi hidup. Harusnya kalian periksa pasar gelap kalian daripada datang kemari”
Kylia menahan napas.
Valrick mendengus.
“Perang selalu memakan prajurit.”
“Bukan sebanyak ini.”
Iblis itu mengangkat wajah.
“Ada batas.”
“Batas?”
Suara Valrick berubah tajam.
“Kerajaanmu memiliki guild yang mengendalikan energi bayangan. Klan-klanmu berkembang biak, bertempur, dan menggunakan sumber daya yang tidak dimiliki kerajaan lain. Jangan katakan padaku kalian memiliki batas.”
Wakil itu diam sesaat.
Kemudian menjawab.
“Jumlah kelahiran tidak sebanding dengan jumlah kematian.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun Kylia melihat perubahan kecil pada wajah Valrick.
“Jelaskan.”
“Pasukan kalian meminta semakin banyak.”
“Karena pemberontakan di wilayah kami belum selesai.”
“Dan kalian mengirim mereka kembali ke garis depan.”
“Karena mereka prajurit.”
“Mereka juga memiliki batas.”
Valrick memukul meja.
“Kontrak darah mereka telah disetujui.”
“Dan kontrak tidak menciptakan tubuh baru.”
Kylia memejamkan mata sesaat.
Jadi benar.
Nama-nama yang ia lihat di pasar gelap bukan sekadar daftar budak.
Mereka berasal dari unit militer yang benar-benar pernah ada.
Pasukan iblis dikirim oleh guild.
Mereka dipaksa bertempur untuk kerajaan manusia.
Dan ketika mati, kekosongan mereka diisi oleh kontrak baru.
Kylia membuka mata lagi.
Valrick sedang berbicara.
“Dewan Perang tidak akan menerima alasan.”
“Kalau begitu beri tahu Dewan Perang bahwa perang yang kalian menangkan telah memakan lebih banyak daripada yang mampu kami lahirkan.”
Valrick berdiri.
“Kami tidak meminta belas kasihan.”
Wakil iblis itu menatapnya tanpa bergerak.
“Aku juga tidak memberikannya.”
Percakapan berakhir.
Valrick mengambil tabung logam.
Ia berbalik.
Kylia segera menunduk.
Langkah kaki melewati reruntuhan.
Mendekat.
Lalu menjauh.
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Setelah suara sepatu Valrick hilang, Kylia menarik napas.
Tangannya terasa dingin.
Ia tidak mendapatkan dokumen.
Tidak mendapatkan kontrak.
Namun percakapan tadi telah memberi bentuk pada sesuatu yang selama ini hanya berupa kecurigaan.
Kerajaan tidak menggunakan iblis sebagai sekutu.
Kerajaan menggunakan mereka sebagai pasukan pembersih garis depan.
Kylia meraba bagian dalam mantelnya.
Ia masih menyimpan salinan beberapa catatan yang dicurinya dari pasar gelap.
Cukup untuk menghancurkan seorang bangsawan.
Belum cukup untuk mengguncang kerajaan.
Ia berdiri.
Waktunya pergi.
Kylia bergerak menjauh dari tempat perundingan, menyusuri reruntuhan yang lebih dalam. Ia memilih jalur yang terlindung dari pandangan. Sebagai kapten kavaleri, ia terbiasa bergerak di medan terbuka. Namun dalam penyelidikan seperti ini, kecepatan bukan yang utama.
Ketenangan adalah senjata.
Sayangnya, perbatasan tidak pernah memberi banyak kesempatan untuk tenang.
Kylia baru melangkah melewati bekas gerbang kota ketika merasakan sesuatu.
Bulu kuduknya berdiri.
Udara di depan berubah.
Dingin.
Bukan dingin angin.
Dingin seperti sesuatu yang baru saja membuka mata.
Kylia berhenti.
Tidak ada suara.
Ia menatap lorong reruntuhan di depannya.
Bayangan bergerak di antara batu.
Cepat.
Terlalu cepat.
Tangannya langsung menuju pedang.
“Keluar.”
Tidak ada jawaban.
Lalu satu bayangan melesat.
Kylia mencabut pedang.
Sosok hitam menghantam dari kiri.
CLANG!
Bilahnya menahan cakar yang terlalu panjang untuk disebut manusia.
Kylia mundur dua langkah.
Makhluk itu melompat kembali.
Kylia menarik napas.
Satu.
Kemudian empat bayangan besar muncul dari reruntuhan.
Tubuh mereka tidak benar-benar padat. Bentuknya seperti daging yang terbuat dari asap hitam, dengan tonjolan tulang dan rahang yang terbuka terlalu lebar. Mata mereka tidak bercahaya.
Mereka hanya memiliki rongga hitam.
Di belakangnya, puluhan bentuk kecil bergerak dari sela batu.
Kylia mengutuk dalam hati.
Makhluk bayangan liar.
Bukan iblis.
Bukan pula hewan.
Mereka adalah bentuk fisik dari inkarnasi bayangan yang dirapalkan oleh para pengguna kelas penyihir. Energi yang terlepas dari kendali dapat mengental, mengambil bentuk, dan berkembang menjadi sesuatu yang menyerang apa pun yang memiliki denyut kehidupan.
Biasanya mereka dapat dihindari.
Biasanya.
Empat makhluk besar menerjang bersamaan.
Kylia memutar tubuh.
Ia menebas yang pertama dari bahu menuju pinggang.
Bilahnya menembus.
Makhluk itu terpecah.
Namun belum jatuh.
Bayangan hitam kembali menyatu.
Kylia memaki pelan.
“Bagus.”
Ia mengangkat pedang.
Bayangan merambat dari lengan kanannya menuju gagang.
“Kalau begitu, jangan mati.”
Inkarnasi bayangan muncul.
Energi gelap melingkari lengannya, kemudian mengalir ke bilah seperti lapisan tipis api tanpa cahaya.
Kylia maju.
Tebasan pertama mengenai kaki salah satu monster.
Tebasan kedua menghantam leher.