Senja turun di wilayah iblis dengan warna yang aneh.
Langit tidak benar-benar menjadi gelap. Sisa cahaya matahari tertahan di antara awan kelabu, memantul pada menara-menara batu dan kubah hitam yang menjulang di atas kota. Cahaya itu tampak pucat, hampir sakit, sementara dari celah jalan dan lorong-lorong sempit mengalir kabut bayangan yang tipis seperti asap.
Kael berjalan sendirian di tengahnya.
Setiap langkah terasa lebih berat daripada seharusnya.
Darah yang mengering di lengan bajunya berasal dari pertarungan di perbatasan. Beberapa goresan masih terasa panas di sisi tubuhnya. Energi bayangan dalam tubuhnya hampir habis. Ia sudah terlalu sering memaksa inkarnasi bayangan mengalir melalui kedua kapaknya, dan pertarungan bersama perempuan berzirah kerajaan tadi telah menghabiskan sisa yang ia miliki.
Perempuan itu.
Kael menghela napas pendek.
Ia masih tidak mengerti mengapa seorang prajurit kerajaan manusia mau bertarung bersamanya, apalagi mengapa ia terlihat sama gelisahnya ketika berhadapan dengan makhluk-makhluk bayangan liar.
Namun Kael tidak memiliki tenaga untuk memikirkan itu sekarang.
Yang ia butuhkan hanyalah tempat tidur.
Dan energi.
Di hadapannya, bangunan besar mulai memenuhi pandangan.
Abyssal Sovereigns.
Guild yang selama enam tahun menjadi tempat Kael bekerja, makan, bertarung, dan tanpa sadar menjadi bagian dari sesuatu yang mulai ia benci.
Kompleks itu berdiri seperti benteng di tengah kota. Dinding luarnya terbuat dari batu hitam yang dipadatkan oleh energi bayangan, dengan menara-menara pengawas di setiap sudut. Lambang guild, tiga cakar yang mengitari kristal retak, tertanam pada gerbang utama. Di baliknya terdengar suara roda gerobak, derap sepatu, percakapan para pekerja, dan bunyi logam yang beradu.
Tidak ada yang tampak berubah.
Itulah yang paling aneh.
Dunia di dalam guild seolah tidak peduli bahwa Kael baru saja mengetahui sebagian keburukannya.
Ia melewati gerbang.
Seorang penjaga memandangnya sekilas, lalu kembali melihat daftar masuk.
“Pekerjaan selesai?”
Kael mengangkat satu tangan.
“Kurang lebih.”
Penjaga itu mengangguk tanpa bertanya.
Kael terus berjalan.
Aula utama Abyssal Sovereigns jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Atapnya tinggi dan disangga pilar-pilar batu yang dipenuhi ukiran jalur energi. Kristal-kristal hitam tertanam di dinding, mengalirkan cahaya kebiruan yang stabil. Para iblis dari berbagai kelas berlalu-lalang dengan urusan mereka masing-masing.
Beberapa membawa peti.
Beberapa mengenakan zirah.
Sebagian lain membawa tongkat atau gulungan mantra.
Di tempat ini, kekuatan adalah mata uang.
Guild mengatur hampir seluruh distribusi energi bayangan di wilayah iblis. Reaktor mana di bawah tanah mengalirkan energi ke berbagai saluran, kemudian guild membaginya berdasarkan kelas, kemampuan, tugas, dan tingkat kontrak. Para pekerja yang memiliki bakat tempur diberi misi. Mereka yang mampu mengolah energi menjadi penyembuh, pengrajin, atau penyihir ditempatkan pada cabang masing-masing.
Tidak semua iblis menyukai sistem itu.
Namun hampir semua bergantung kepadanya.
Tanpa guild, banyak wilayah akan kehilangan akses terhadap energi bayangan.
Tanpa energi itu, sebagian besar teknologi, senjata, pertahanan, dan jalur transportasi di wilayah iblis akan berhenti.
Sistem itu membuat guild sulit disentuh.
Dan justru karena itulah kekuasaannya menjadi begitu besar.
Kael berhenti di depan papan pengumuman utama.
Ia hanya berniat lewat.
Kemudian sebuah kertas besar yang ditempel di tengah papan menarik perhatiannya.
PENGUMUMAN PENCARIAN.
Di bawah judul itu terdapat ilustrasi wajah seorang pria.
Kael memiringkan kepala.
Ia melihatnya cukup lama.
Rambut pria dalam gambar itu panjang dan disisir ke belakang. Rahangnya jauh lebih lebar. Ada bekas luka besar melintang di wajah. Tubuhnya digambarkan tinggi dan sangat kekar, mengenakan mantel penyusup berkerudung.
Kael menatap gambar itu.
Kemudian dirinya sendiri.
Kembali ke gambar.
Ia hampir tertawa.
“Siapa ini?”
Tulisan di bawahnya lebih buruk.
TERSANGKA: PENYUSUP ARSIP GUILD.
KELAS: TIDAK TERIDENTIFIKASI.
DIDUGA PENYIHIR BAYANGAN.
MAMPU MENGHANCURKAN SEGEL INTERNAL.
DIANGGAP SANGAT BERBAHAYA.
Di bagian paling bawah terdapat hadiah penangkapan.
Jumlahnya cukup besar.
Kael menggaruk sisi kepalanya.
Ia bahkan tidak tahu apakah harus merasa tersanjung atau dihina.
Ilustrasi itu sama sekali tidak mirip dirinya.
“Setidaknya mereka salah orang.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Itu adalah pertama kalinya ia tersenyum sejak memasuki ruang arsip.
Kemudian ia berjalan pergi sebelum seseorang memperhatikan terlalu lama.
--o--
Kamar Kael berada di salah satu sayap asrama pekerja tingkat menengah.
Ruangan itu sederhana.
Satu ranjang.
Satu meja.
Satu lemari.
Satu jendela kecil yang menghadap dinding luar kompleks.
Kael menjatuhkan tubuh ke ranjang tanpa melepas sepatu.
Begitu kepalanya menyentuh bantal, kesadarannya runtuh.
Ia tertidur.
Ketika bangun, langit di luar sudah lebih gelap.
Tubuhnya masih berat.
Energi bayangan di dalam dirinya terasa seperti bara yang tinggal sedikit. Ia duduk, menggosok wajah, lalu memeriksa kedua tangannya.
Masih bisa digunakan.
Itu cukup.
Kael mengenakan kembali jubahnya dan keluar kamar.
Aula utama kini lebih ramai.
Ia berjalan ke meja pemulihan energi di dekat ruang reaktor. Seorang penjaga wanita duduk di belakang meja batu, sibuk memeriksa beberapa keping logam dan catatan kontrak.
Ia berambut hitam pendek dan mengenakan seragam guild dengan garis abu-abu. Wajahnya ramah, terlalu ramah untuk seseorang yang bekerja di tempat seperti itu.
Begitu melihat Kael, ia tersenyum.
“Kael. Wajahmu seperti habis digigit serigala.”
“Empat serigala.”
Penjaga itu tertawa kecil.
“Lebih mahal kalau begitu.”
Kael meletakkan tiga keping emas di atas meja.
“Aku butuh pengisian.”
Penjaga itu melihat uangnya.
Lalu melihat Kael.
“Penuh?”
“Tidak.”
“Setengah?”
“Berapa?”
Ia membuka buku kecil.
“Setengah inti bayangan. Dua keping.”
Kael melihat tiga emas di meja.
“Aku ingin tujuh puluh persen.”
Penjaga itu mengangkat alis.
“Itu empat keping.”
“Cepat sekali berubah.”
“Bukan aku yang menentukan harga.”
Kael mendekat.
“Enam puluh lima.”
“Empat keping.”
“Enam puluh.”
“Empat.”
Kael menunjuk dirinya sendiri.
“Aku pelanggan lama.”
“Justru pelanggan lama harus tahu harga.”
Kael menghela napas.
“Baik. Tiga puluh lima persen.”
Penjaga itu tertawa.
“Kau menawar seperti pedagang pasar.”
“Aku miskin.”
“Kau membawa tiga emas.”
“Sekarang aku hampir miskin.”
Ia memandang Kael beberapa detik.
Kemudian menarik satu keping dari tumpukannya sendiri dan memasukkannya ke laci.
“Tiga emas untuk tujuh puluh persen.”
Kael menatapnya.
“Serius?”
“Pergi sebelum aku berubah pikiran.”