Langit barat daya Umbra Veil berwarna keemasan ketika lonceng pertama Kuil Helia berbunyi.
Bukan cahaya pagi biasa yang jatuh di sana. Berkas-berkas cahaya turun dari langit seperti sungai yang dibekukan di udara, menembus awan dan menyentuh puncak kuil sebelum menyebar ke seluruh kompleks. Batu-batu putih dinding kuil memantulkannya hingga dataran tinggi di sekelilingnya tampak seperti dilapisi logam pucat. Kabut tipis yang biasanya menggantung di lembah menghilang sebelum mencapai halaman luar.
Di tengah semua itu, Kylia berdiri diam.
Ia telah melihat kuil itu ratusan kali.
Namun pagi itu, bangunan tersebut terasa lebih besar daripada sebelumnya.
Kuil Dewi Helia berdiri di atas dataran batu yang dikelilingi bukit-bukit tinggi. Sejak Umbra Veil menaklukkannya dan menguasai jalur ritualnya, wilayah itu tidak pernah benar-benar dibiarkan terbuka. Dinding benteng dibangun mengelilingi kompleks utama, lengkap dengan menara pengawas, gerbang berlapis besi, dan jalur patroli.
Kini garnisunnya bertambah.
Puluhan tenda baru berdiri di balik tembok.
Ratusan prajurit berjaga di sepanjang parapet.
Kereta artileri ditarik ke posisi masing-masing.
Kuda-kuda perang diikat dalam barisan panjang.
Semua orang tahu mengapa.
Eryndor Vale datang.
Kerajaan itu tidak lagi puas menyewa hak penggunaan cahaya dari Umbra Veil. Mereka menginginkan kuil itu sendiri. Penguasaan penuh atas sumber Sinar Abadi akan mengubah peta kekuatan manusia di Harappa.
Sinar yang jatuh ke Kuil Helia bukan sekadar simbol keagamaan. Sejak berabad-abad lalu, berkas-berkas cahaya alami itu dipercaya sebagai berkah Dewi Helia. Para pendeta memelihara ritual kuno untuk menyalurkan sebagian dayanya ke jaringan energi kerajaan.
Dari sanalah inkarnasi para prajurit Umbra Veil diperkuat.
Dari sanalah sebagian besar perlindungan sihir kerajaan berasal.
Dan dari sanalah para aristokrat memperoleh kekuatan yang membuat kerajaan mereka mampu mengendalikan wilayah paling luas di sisi manusia Benua Harappa.
Hari itu, sumber cahaya itu akan dipertahankan dengan darah.
“Kylia.”
Suara seorang pendeta membuatnya menoleh.
Pendeta itu mengenakan jubah putih panjang dengan garis emas di dada. Di belakangnya berdiri beberapa pendeta lain, membawa mangkuk batu yang diisi cahaya cair.
“Ritual telah selesai disiapkan.”
Kylia mengangguk.
“Berapa lama?”
“Puncak penyaluran berlangsung kurang dari satu jam.”
“Cukup.”
Pendeta itu menatapnya beberapa saat.
“Kau akan membawa legiun ke selatan.”
“Ya.”
“Berkah Helia akan menguatkan inkarnasimu.”
Kylia menatap cahaya di atas kuil.
Entah mengapa, kalimat itu terdengar seperti janji yang terlalu mudah.
Ia menurunkan pandangan.
“Kalau begitu kita gunakan sebaik mungkin.”
--o--
Ratusan prajurit elit memasuki ruang ritual secara bertahap.
Kylia berjalan bersama barisan terdepan.
Ruangan itu jauh lebih tenang daripada halaman luar. Tidak ada bunyi sepatu perang. Tidak ada suara besi. Hanya suara nyanyian para pendeta yang bergerak seperti gema lembut di antara pilar putih.
Di tengah ruangan berdiri sebuah lingkaran batu.
Kylia berdiri di sana.
“Taruh tanganmu.”
Ia menurut.
Cahaya turun.
Untuk sesaat, semuanya putih.
Kylia merasa seolah seluruh tubuhnya ditembus matahari.
Energi merambat dari telapak tangannya, naik ke lengan, masuk ke dada, kemudian bercampur dengan inti inkarnasi bayangannya.
Aneh.
Bayangan yang selama ini terasa dingin di dalam tubuhnya justru menjadi hangat.
Tidak panas.
Hangat.
Kekuatan itu mengalir dengan lembut, namun tekanannya besar. Kylia harus menahan napas agar tidak kehilangan keseimbangan.
“Jangan menolak,” bisik pendeta.
Kylia mengencangkan rahang.
Cahaya dan bayangan bertemu di dalam dirinya.
Tidak menyatu.
Hanya berputar mengelilingi satu sama lain.
Inkarnasi bayangan yang biasanya menempel pada otot dan senjata kini terasa jauh lebih padat.
Kylia membuka mata.
Cahaya mereda.
Salah satu pendeta tersenyum.
“Helia memberkatimu.”
Kylia memandang telapak tangannya.
Bayangan tipis bergerak di antara jari.
Lebih kuat.
Lebih tajam.
Namun entah mengapa, ia tidak merasa diberkati.
Ia merasa sedang membawa senjata yang suatu saat nanti akan meminta harga.
Ia tidak mengucapkannya.
Di luar ruangan, terompet berbunyi.
Waktunya berangkat.
--o--
Benteng perbatasan selatan Umbra Veil dipenuhi suara logam.
Kylia berdiri di atas menara komando ketika seluruh medan berada di bawah pandangannya.
Ia mempelajari peta.
Garis depan.
Jalur lembah.
Hutan.
Dataran terbuka.
Pos artileri.
Gerbang.
“Legiun pertama di depan,” katanya.
Arelith berdiri di sampingnya.
Letnan itu lebih muda darinya, namun memiliki pengalaman cukup untuk dipercaya memimpin banyak prajurit infanteri.
“Kavaleri dua dan tiga di belakangnya?”
“Tidak.”
Kylia menunjuk sisi timur.
“Pisahkan kavaleri. Mereka menjaga celah di antara infanteri dan dinding.”
Arelith mengangguk.
“Pemanah?”
“Semua di dinding luar. Prioritas mereka pasukan pembawa tangga dan mesin pengepung.”
“Artileri?”
“Jangan tembak sebelum ada jarak yang jelas.”
Arelith melihat peta.
“Kalau mereka mengirim gelombang pertama sekaligus?”
“Biarkan mereka mendekat.”
Kylia mengangkat kepala.
“Benteng adalah senjata kita. Jangan membuangnya hanya karena mereka ingin membuat kita panik.”
Perintah bergerak dari mulut ke mulut.
Legiun disusun berlapis.
Infanteri berat di garis depan.
Infanteri biasa di belakang.
Kavaleri ditempatkan di titik-titik yang dapat menjadi jalur serangan balik.
Pemanah mengisi dinding.
Artileri menunggu dengan moncong diarahkan ke dataran.
Tidak lama kemudian, Kylia bersiap meninggalkan benteng.
Dua puluh pasukan berkuda elit menunggunya.
Arelith mendekat.
“Kau ikut?”
“Kita perlu mengetahui jumlah mereka.”
Ia menaiki kudanya.
“Kalau pasukan mereka terlalu besar, strategi kita berubah sebelum mereka mencapai benteng.”
Arelith mengangguk.
“Kembalilah.”
Kylia menatapnya.
“Aku akan kembali.”
Ia tidak tahu mengapa kalimat itu terasa seperti sesuatu yang harus dijanjikan.
--o--
Hutan di luar benteng masih basah oleh embun ketika Kylia membawa dua puluh pasukan berkuda menembus pepohonannya.
Mereka bergerak tanpa suara.
Kuda-kuda berjalan perlahan.
Kylia mengangkat tangan.
Berhenti.
Ia turun.
Berjongkok di balik semak.
Di balik hutan, dataran terbuka membentang.
Dan di sanalah mereka melihatnya.
Camp Eryndor Vale.
Tenda-tenda berdiri sejauh pandangan mata.
Ribuan.
Panji-panji biru tua berkibar dalam angin.
Mesin pengepung tersebar di beberapa titik.
Kylia mengeluarkan lensa pengintai kecil dari kantong pinggang.
Ia mengamati.
Infanteri berat.
Pasukan tombak.
Pemanah.
Kavaleri.
Artileri.
Ia menghitung berdasarkan blok.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia mengulang.
Kemudian melihat bagian timur.
Cadangan.
Masih tidak terlalu banyak.
Kylia menurunkan lensa.
“Tidak sebesar yang kita takutkan.”
Salah satu pasukan di belakangnya bertanya,
“Berapa?”
Kylia menatap camp sekali lagi.
“Setidaknya beberapa ribu.”
“Lebih banyak daripada kita?”
“Sedikit.”
Ia menambahkan,
“Tapi bukan dua kali lipat.”
Ia belum tahu bahwa perhitungan itu hanya melihat apa yang sengaja diperlihatkan musuh.
Kylia menaiki kembali kudanya.
“Pulang.”
Mereka bergerak.
Tidak ada yang melihat beberapa baris tenda tersembunyi di balik bukit jauh.
Tidak ada yang menyadari bahwa sebagian besar pasukan Eryndor Vale belum turun ke medan.
Dan tidak ada yang memberi Kylia alasan untuk percaya bahwa pertempuran akan berubah dalam waktu sesingkat itu.
--o--
Ketika Kylia kembali ke benteng, suara pertama yang ia dengar adalah jeritan.
Bukan suara latihan.
Bukan alarm biasa.
Suara manusia yang sedang mati.
Ia menarik kudanya lebih cepat.
Hutan terbuka.
Benteng terlihat.
Dan dunia di depannya berubah.
Pasukan Eryndor Vale telah maju.