Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #6

Bayangan di Masa Lalu

Malam telah jauh melewati tengah ketika Kael akhirnya duduk di tepi ranjangnya.

Aula Abyssal Sovereigns di luar kamar telah kembali tenang. Hanya dengung rendah dari saluran reaktor yang terdengar dari balik dinding, berulang seperti napas raksasa yang tidak pernah tidur. Cahaya kristal di lorong merembes melalui celah pintu, membentuk garis tipis di lantai.

Kael tidak menyalakan lampu.

Ia duduk dalam gelap.

Di hadapannya, sebuah peta besar terbentang di atas meja. Peta Benua Harappa. Wilayah manusia di timur dan selatan, wilayah iblis yang membentang luas di utara dan barat, serta perbatasan yang digambar dengan garis putus-putus karena tidak ada kerajaan yang benar-benar memiliki kendali penuh atasnya.

Jari Kael bergerak perlahan mengikuti garis pegunungan.

Lalu berhenti.

Utara jauh.

Daerah tambang.

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Kenangan lama, yang selama bertahun-tahun dikuburnya di bawah pekerjaan, kontrak, perintah, dan darah, mendadak kembali.

Kael memejamkan mata.

Dan untuk sesaat, ia kembali menjadi dirinya yang dulu.

--o--

Salju pertama turun ketika Kael belum tahu bagaimana rasanya menjadi bebas.

Saat itu usianya masih muda.

Terlalu muda untuk memahami politik klan, harga besi, nilai artefak, ataupun mengapa seorang iblis dewasa bisa tersenyum ketika anak-anak bekerja sampai telapak tangan mereka pecah.

Ia hanya tahu bahwa hidup di utara berarti menggali.

Setiap pagi dimulai sebelum cahaya mencapai lembah.

Permukiman klannya dibangun di sisi pegunungan yang keras. Rumah-rumah rendah terbuat dari batu hitam dan tulang, sementara cerobong tungku mengepulkan asap tebal ke langit yang hampir selalu kelabu. Di bawah permukiman terdapat tambang logam yang dikendalikan langsung oleh pemimpin klan.

Tidak ada guild di sana.

Tidak ada pejabat kerajaan.

Hanya klan.

Dan siapa pun yang memegang tambang memegang kehidupan semua orang.

Kael bekerja di lorong terdalam.

Tangannya kecil, tetapi kapak tambang yang dipakainya hampir sebesar lengannya sendiri. Setiap pukulan menghantam batu, memecah lapisan mineral yang mengandung logam hitam kebiruan.

Tak.

Tak.

Tak.

Batu bergetar.

Serbuk masuk ke paru-parunya.

“Lebih cepat.”

Suara pemimpin klan bergema dari belakang.

Kael tidak menoleh.

Tak.

Tak.

“Yang di depan sudah dua kali lipat.”

Tak.

Tangannya mulai bergetar.

“Kalau kau masih ingin makan malam, jangan berhenti.”

Kael mengangkat kembali kapaknya.

Tak.

Sampai kulit telapak tangannya terbuka.

Sampai darah bercampur debu mineral.

Sampai rasa nyeri tidak lagi memiliki tempat di pikirannya.

Pemimpin klan berjalan melewatinya begitu saja.

“Anak lemah.”

Kael terus menggali.

Ia belajar dengan cepat.

Bukan karena ada yang mengajarinya.

Karena lingkungan tidak memberi pilihan.

Yang kuat mendapat makanan lebih banyak.

Yang cekatan mendapat pekerjaan lebih ringan.

Yang lambat dipindahkan ke lorong terdalam.

Kael tidak ingin menjadi yang terakhir.

Ketika iblis muda lain mulai pulang dengan tubuh penuh debu, Kael masih berada di bawah tanah.

Ketika mereka tertidur, ia masih memeriksa hasil galiannya.

Ketika mereka bertarung karena hal sepele, ia belajar menghindari pukulan.

Sedikit demi sedikit, tubuhnya berubah.

Bahu lebih keras.

Kaki lebih kuat.

Napas lebih panjang.

Ia belum kuat.

Tetapi ia mulai memahami cara bertahan.

Kemudian, pada suatu musim dingin, semuanya runtuh.

--o--

Pagi itu, lonceng klan berbunyi sebelum matahari muncul.

Bukan tanda kerja.

Tanda bahaya.

Kael keluar dari rumah bersama puluhan iblis lain.

Asap tebal mengepul dari pusat permukiman.

Orang-orang berlari.

Beberapa membawa senjata.

Beberapa berteriak.

Kael mencoba melihat apa yang terjadi.

Kemudian seorang penjaga berteriak,

“Artefaknya hilang!”

Suasana berubah.

Seseorang menuduh klan mereka mencuri sebuah artefak berharga milik kelompok luar yang datang beberapa hari sebelumnya.

Tidak ada penyelidikan.

Tidak ada kesempatan menjelaskan.

Klan mereka sudah ditandai.

Pengkhianat.

Pencuri.

Musuh.

Kael tidak memahami seluruhnya.

Ia hanya melihat pemimpin-pemimpin klan mulai memerintahkan semua orang untuk pergi.

“Ke utara!”

“Naik ke pegunungan!”

“Jangan tinggalkan jejak!”

Kael berlari bersama rombongan.

Salju menghantam wajahnya.

Kakinya tenggelam hingga mata kaki.

Ia hanya mengikuti yang lain.

Tidak tahu ke mana.

Tidak tahu mengapa.

Hanya tahu bahwa jika tertinggal, ia akan dihukum atau ditangkap.

Di depannya, puluhan iblis berlari menembus lereng.

Kael mencoba mengejar.

Satu batu licin menghalangi langkah.

Kakinya tersandung.

Tubuhnya jatuh.

Wajahnya menghantam salju.

Rasa sakit menjalar dari hidung ke dahi.

Kael bangkit.

“Jangan tinggalkan aku!”

Tak ada jawaban.

Mereka terus bergerak.

Kael berlari.

“Jangan!”

Kakinya kembali tergelincir.

Ketika akhirnya ia mencapai puncak kecil, tidak ada seorang pun di sana.

Hanya salju.

Pohon-pohon hitam.

Kabut.

Dan jejak kaki yang perlahan tertutup.

Kael berdiri.

Dadanya naik turun.

Ia menatap kosong ke arah jejak yang menghilang.

“...Tunggu.”

Tidak ada siapa-siapa.

Ia berjalan beberapa langkah.

Kemudian berhenti.

Suara kecil keluar dari tenggorokannya.

“Aku di sini.”

Angin menjawab.

Kael menggigit bibir.

Matanya panas.

Ia menolak menangis.

Tidak membantu.

Tidak ada gunanya.

Namun semakin ia menahan, semakin dadanya sesak.

Akhirnya ia duduk di salju.

Kedua tangan memeluk tubuh sendiri.

Bahu kecilnya bergetar.

Ia menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di tambang, sejak dipukul, sejak kelaparan, sejak setiap hari dipaksa bertahan, Kael tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia sendirian.

Benar-benar sendirian.

Dan dunia terasa terlalu besar.

Ia mengusap mata dengan kasar.

“Jangan menangis.”

Suaranya pecah.

“Jangan.”

Namun air mata tetap jatuh.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

--o--

Suara berat datang dari kejauhan.

Bukan langkah kaki.

Roda.

Kael mengangkat kepala.

Dari balik kabut muncul sesuatu yang besar.

Empat makhluk menyerupai kuda menarik sebuah kereta lapis besi.

Lihat selengkapnya