Kabut masih menggantung di atas medan perang ketika Kael mencapai garis pepohonan.
Pagi telah bergeser menuju siang, tetapi matahari hampir tidak terasa. Asap dari tenda-tenda terbakar, tanah basah yang terinjak ribuan kaki, dan bau darah bercampur menjadi satu udara berat yang menempel di tenggorokan. Di kejauhan, dinding benteng selatan Umbra Veil menjulang seperti gigi raksasa. Panji kerajaan masih berkibar di atasnya, meski beberapa telah robek dan ternoda jelaga.
Di antara pepohonan, Kael berhenti.
Bayangan menutupi tubuhnya seperti selaput tipis.
Ia tidak benar-benar menghilang. Inkarnasi bayangan tidak mampu melakukan itu. Namun ia dapat mengganggu perhatian orang lain, mengaburkan bentuk tubuhnya, dan menyamarkan keberadaannya selama ia tetap bergerak mengikuti bayangan alami di sekelilingnya.
Cukup untuk membuat seorang prajurit yang sedang berlari melewatinya hanya melihat batang pohon.
Cukup untuk membuat pemanah yang sedang mencari musuh tidak menyadari ada seseorang berdiri beberapa langkah dari mereka.
Kael berjongkok di balik batang pohon yang hangus.
Di hadapannya, perang belum selesai.
Namun bagian terburuknya telah lewat.
Pasukan Umbra Veil bergerak mundur ke benteng.
Barisan yang sebelumnya tersusun rapi kini terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Beberapa prajurit membantu rekannya yang terluka. Sebagian lainnya bahkan kehilangan senjata. Kuda-kuda berlari tanpa penunggang. Kereta medis bergerak terburu-buru menuju gerbang.
Di belakang mereka, pasukan Eryndor Vale tidak mengejar secara penuh.
Mereka mempertahankan jarak.
Menjaga formasi.
Mengamankan mesin pengepung yang tersisa.
Kael mengamati semuanya dalam diam.
“Lebih buruk dari perkiraan,” gumamnya.
Ia mengeluarkan lempeng catatan kecil dari balik mantel.
Tugasnya sederhana.
Mengamati.
Menghitung.
Melaporkan.
Tidak terlibat.
Itulah perintah yang diberikan kepadanya.
Kael tidak boleh ikut campur dalam perang manusia.
Tidak boleh tertangkap.
Tidak boleh membuang energi yang diperlukan untuk perjalanan kembali.
Dan terutama, ia tidak boleh membuat guild mengetahui bahwa ia memiliki hubungan dengan salah satu prajurit kerajaan yang pernah membantunya.
Kael menarik napas perlahan.
Lalu bergerak lebih dalam.
--o--
Dari posisi yang lebih tinggi, medan perang terlihat seperti peta yang dibakar.
Tubuh manusia dan iblis bercampur di antara lumpur. Sebagian masih bergerak. Sebagian tidak. Tunggul panah berdiri dari tanah. Perisai patah berserakan. Kuda yang mati dibiarkan tergeletak di antara kereta yang terbakar.
Kael menatap garis benteng.
Satu bagian dinding luar rusak.
Namun gerbang masih tertutup.
Umbra Veil selamat.
Setidaknya untuk hari ini.
Ia memiringkan kepala.
Ada sesuatu yang aneh.
Bukan pada pasukan.
Pada udara.
Bayangan bergerak tidak mengikuti arah angin.
Kael langsung menurunkan tubuh.
Kabut hitam muncul di sisi kiri medan perang.
Tipis pada awalnya.
Kemudian melebar.
Bukan kabut biasa.
Warnanya terlalu pekat.
Tidak memantulkan cahaya.
Kael mengenal sihir itu.
Kabut Hitam.
Salah satu bentuk ilusi tingkat tinggi yang biasanya digunakan guild pembunuh bayaran ras iblis. Sihir itu tidak hanya mengaburkan penglihatan. Ia mengganggu penilaian jarak, arah, dan persepsi suara. Orang yang terperangkap di dalamnya dapat melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau gagal melihat sesuatu yang tepat berada di depan wajahnya.
Kael menatap kabut itu.
Ia tahu teknik tersebut bukan berasal dari pasukan biasa.
Seseorang sedang memburu target.
Kemudian ia melihat siapa targetnya.
Kael nyaris mengumpat.
Kylia.
Perempuan itu berada di antara pasukan Umbra Veil yang sedang bergerak menuju gerbang.
Atau setidaknya, itulah yang tampak.
Kabut hitam mulai melingkari dirinya.
Kylia berhenti.
Pedangnya terangkat.
Ia melihat ke satu arah.
Lalu ke arah lainnya.
Kael dapat melihat ketegangan dari cara tubuhnya bergerak.
Ia sedang mencari sesuatu.
Namun sesuatu yang salah terjadi.
Kylia bergerak ke kiri.
Kemudian kembali.
Salah.
Ia sedang diarahkan.
Dari kejauhan, Kael melihat sebuah titik cahaya kecil.
Kilatan logam.
Busur ditarik.
Satu penembak.
Tersembunyi jauh di antara pepohonan.
Kael langsung tahu apa yang akan terjadi.
Ia bisa bergerak.
Sangat mudah.
Satu ledakan inkarnasi bayangan.
Satu lompatan.
Mungkin ia bisa mengubah arah panah.
Namun kemudian ia teringat siapa Kylia.
Prajurit elit kerajaan.
Kemungkinan besar lawan.
Dan bahkan jika bukan, campur tangannya dapat mengungkapkan keberadaannya.
Kael tetap diam.
“Bodoh,” bisiknya.
Kylia melangkah.
Panah dilepaskan.
Whussh.
Kael melihat tubuh Kylia bergerak terlambat.
Anak panah menghantam zirahnya.
Tubuhnya jatuh.
Sejumlah prajurit segera berlari membawanya.
Kael memejamkan mata sesaat.
Ia tidak bergerak.
“Bukan urusanku.”
Kata-kata itu terdengar kosong bahkan bagi dirinya sendiri.
Ia membuka mata lagi.
Dari balik pepohonan, beberapa sosok hitam menarik busur mereka kembali.
Mereka tidak mendekat.
Pembunuh bayaran.
Kael menghitung.
Empat.
Mungkin lima.
Mereka bergerak ke arah hutan lain setelah memastikan Kylia dibawa masuk.
Kael menunggu.
Satu menit.
Dua.
Tidak ada pengejaran.
Tidak ada pasukan yang datang ke arah hutan.
Ia menghela napas.
Setidaknya ia tidak perlu melakukan sesuatu yang bodoh.
Kael menoleh ke medan perang.
“Sekarang pekerjaan.”
--o--
Ia mulai menghitung.
Bukan jumlah prajurit yang masih hidup.
Mayat.
Itulah yang dicari guild.
Kael berjalan melalui medan perang yang perlahan mulai sepi. Ia tetap menggunakan inkarnasi bayangan untuk menghindari pandangan kedua belah pihak.
Prajurit Umbra Veil sibuk membawa korban mereka.
Pasukan Eryndor Vale sedang mengumpulkan yang selamat dan mengambil perlengkapan yang masih dapat digunakan.