Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #8

Bara Reaktor

Malam telah menutup seluruh wilayah Abyssal Sovereigns ketika Kael kembali ke markas.

Langit di atas kota iblis nyaris tidak memiliki warna. Awan hitam menggantung rendah, memantulkan semburat kebiruan dari jaringan kristal yang menyalurkan energi bayangan ke seluruh distrik. Dari jauh, menara guild tampak seperti tulang-tulang raksasa yang berdiri di tengah kabut. Di bawahnya, gerobak pengangkut bergerak keluar-masuk gerbang, membawa bijih, senjata, artefak, dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mempertahankan sistem energi yang menopang kehidupan seluruh wilayah.

Kael melangkah melewati gerbang dengan tubuh yang masih menyimpan bau medan perang.

Tanah selatan.

Darah.

Asap.

Dan sesuatu yang lebih sulit dihilangkan daripada semua itu.

Tatapan kosong para korban.

Ia tidak menyukai perasaan itu.

Misi seharusnya sederhana. Mengamati medan perang, menghitung korban, mencatat posisi, memastikan jalur aman. Ia telah melakukan tugas seperti itu berkali-kali.

Tetapi kali ini berbeda.

Kylia berada di sana.

Sekali lagi.

Kael mempercepat langkah.

Aula utama masih ramai. Para pekerja guild bergerak membawa peti dan dokumen, beberapa penyihir keluar dari ruang distribusi energi, sementara dua iblis dari divisi pertahanan sedang berdebat mengenai jadwal patroli.

Di balik meja depan, resepsionis yang pernah ditemuinya sebelumnya langsung mengenali wajahnya.

“Kael.”

Ia mengangkat tangan.

“Pulang juga.”

Kael berhenti.

“Kelihatannya aku masih hidup.”

“Sayang sekali.”

Kael menatapnya.

Wanita itu tertawa kecil.

Ia mengambil sebuah kantung kulit dari bawah meja lalu meletakkannya di depan Kael.

“Hadiah quest.”

Kael mengangkat alis.

“Sudah?”

“Laporan awalmu diterima.”

Ia mendorong kantung itu mendekat.

“Hitung sendiri.”

Kael membukanya.

Suara logam beradu terdengar lembut.

Koin emas.

Cukup banyak.

Kael menatap resepsionis itu.

“Bukankah biasanya dibayar setelah semua data diverifikasi?”

“Bonus.”

“Untuk?”

“Kau kembali.”

Kael hampir tersenyum.

“Guild mulai murah hati.”

“Jangan salah paham. Kalau kau mati, kami tidak perlu bayar.”

Ia memasukkan kantung ke jubah.

“Terima kasih.”

“Divisi logistik menunggumu.”

“Sekarang?”

“Katanya jangan datang besok.”

Kael menghela napas.

“Tentu saja.”

Ia melanjutkan perjalanan.

--o--

Kepala Divisi Logistik berada di ruangan yang dipenuhi peta dan papan catatan.

Tidak ada ruang untuk duduk.

Semua dinding digunakan.

Jalur pengangkutan.

Persediaan.

Distribusi.

Kebutuhan reaktor.

Jumlah pekerja.

Dan satu papan besar di tengah ruangan yang berisi angka-angka medan perang.

Kael menyerahkan catatan.

“Medan selatan.”

Kepala divisi, seorang iblis tua bertubuh pendek dengan mata tajam, membacanya cepat.

“Korban?”

“Perkiraan tiga banding dua. Umbra Veil lebih banyak.”

“Jasad yang dapat dipanen?”

“Banyak.”

Pria itu mengangguk.

“Kereta?”

“Minimal delapan tambahan.”

“Jalur?”

Kael menunjuk peta.

“Dari sisi barat hutan lebih aman. Jalan utama terlalu dekat dengan benteng.”

“Pasukan manusia?”

“Umbra Veil tidak akan mengejar jauh. Eryndor sudah mundur.”

Kepala divisi menandai peta.

“Pengumpul berangkat sebelum pagi.”

Kael menatapnya.

“Guild lain?”

Pria itu memahami maksudnya.

“Pasti datang.”

“Berapa cepat?”

“Cukup cepat untuk mencuri apa yang terlambat kita ambil.”

Ia memberi isyarat kepada pembantunya.

“Kereta disiapkan.”

Kael mengangguk.

Ia hendak pergi ketika pria itu berkata,

“Kerja bagus.”

Kael berhenti.

Pujian itu tidak terasa seperti pujian.

Ia menoleh.

“Kepala divisi.”

“Ya?”

“Mayat sebanyak itu…”

Pria itu menunggu.

Kael tidak menyelesaikan kalimatnya.

Kepala divisi hanya menjawab,

“Di sini, semua yang mati masih punya nilai.”

Kael menatapnya.

Kemudian pergi.

--o--

Pintu chamber reaktor jauh lebih berat daripada pintu ruangan biasa.

Kael meletakkan telapak tangan pada permukaan batu.

Segel mengenalinya.

Pintu terbuka.

Udara di dalam langsung terasa berbeda.

Lebih padat.

Lebih hangat.

Energi bayangan mengalir seperti arus tak terlihat.

Di tengah chamber, inti reaktor berdiri di dalam struktur logam hitam. Kristal utamanya tidak pernah benar-benar menyala terang. Ia hanya memiliki bara merah keunguan di dalam kegelapan, seperti jantung yang terus dipaksa berdetak.

Penyihir penjaga berdiri di salah satu sisi.

Ia pria yang sama yang mengawasi pengisian energi Kael beberapa waktu lalu.

“Kael.”

“Belum tidur?”

“Reaktor tidak tidur.”

Kael berdiri di sampingnya.

Beberapa tabung kristal mengelilingi inti.

“Laporan medan perang sudah masuk?”

“Baru saja.”

Kael melihat bara reaktor.

“Kau dapat tahu?”

Penyihir itu mengangguk.

“Semua energi pada jaringan terhubung.”

Kael terdiam sejenak.

Kemudian bertanya,

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Penyihir itu menoleh.

“Selama tidak menyangkut gaji.”

Kael hampir tersenyum.

“Artefak cahaya.”

Ekspresi penyihir berubah sedikit.

“Kenapa?”

“Aku ingin tahu bagaimana reaktor bekerja.”

Pria itu memperhatikan Kael beberapa saat.

Kemudian berjalan menuju sisi inti.

“Karena kau mulai melihat pertanyaan yang benar?”

Lihat selengkapnya