Pagi di desa terluar Umbra Veil selalu datang tanpa upacara.
Tidak ada bunyi terompet dari menara. Tidak ada lonceng kuil. Tidak ada derap sepatu prajurit yang bergema di jalan batu. Hanya suara kayu terbakar dari dapur rumah-rumah kecil, ayam yang berkokok dari balik pagar, serta roda gerobak yang sesekali berdecit ketika seseorang mulai membawa hasil ladang ke pasar.
Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah kayu dan batu.
Kylia duduk di beranda sebuah rumah sederhana, memandang secangkir teh yang diletakkan di atas meja beberapa menit lalu.
Asap tipis naik dari permukaannya.
Wangi daun kering, rempah pahit, dan sesuatu yang menyerupai kulit kayu memenuhi udara.
Tangannya belum menyentuhnya.
Sudah tiga bulan sejak pertempuran di benteng selatan.
Tiga bulan sejak anak panah itu menembus armornya.
Tiga bulan sejak ia terbangun di ruang perawatan dengan tubuh yang terasa seperti milik orang lain.
Dan tiga bulan sejak ia meninggalkan kehidupan lamanya.
Kylia masih membawa pedangnya.
Ia tidak lagi mengenakan armor.
Tidak ada lambang kapten.
Tidak ada jubah perwira.
Tidak ada simbol kerajaan pada tubuhnya.
Hanya pakaian sederhana berwarna cokelat gelap, sepatu kulit, dan rambut yang kini dibiarkan lebih longgar daripada ketika ia masih memimpin legiun.
Di belakang rumah, beberapa orang sedang memotong kayu.
Sebagian adalah warga desa.
Sebagian lagi mantan bawahannya.
Mereka tidak lagi memakai seragam.
Mereka bekerja sebagai petani, pengangkut, penjaga gerobak, atau apa pun yang dapat menjaga mereka tetap hidup tanpa menarik perhatian kerajaan.
Di mata desa, mereka hanyalah pendatang.
Kylia menyukai itu.
Setidaknya untuk sekarang.
Ia mengangkat cangkir.
Belum meminumnya.
Tatapannya turun ke permukaan teh.
Terlalu tenang.
Pikiran yang seharusnya sudah lama mati tiba-tiba bergerak lagi.
Malam di benteng.
Tiga bulan lalu.
--o--
Rasa pahit masih memenuhi tenggorokan Kylia ketika ia keluar dari ruang perawatan.
Satu tangan menekan dinding.
Satu kaki masih terasa berat.
Racun dari anak panah itu telah berhasil ditahan, tetapi tabib memperingatkan bahwa tubuhnya membutuhkan waktu untuk pulih. Ia dilarang bergerak terlalu jauh.
Kylia tidak peduli.
Ia hanya keluar sebentar.
Mencari udara.
Mencari kepastian.
Lorong benteng jauh lebih sunyi daripada biasanya. Sebagian besar perwira telah kembali beristirahat setelah pertempuran.
Kylia berjalan tertatih-tatih.
Kemudian mendengar suara.
“Surat untuk Letnan Arelith.”
Kylia berhenti.
Seorang pembawa merpati berdiri di ujung lorong.
Merpati putih mendarat di lengannya.
Gulungan kecil dilepas.
Arelith membuka surat itu.
Kylia menatap dari kejauhan.
Ia tidak mendengar isinya.
Hanya melihat gerakan mata bawahannya.
Selesai membaca, Arelith melipat surat.
“Dari mana?” tanya seorang perwira lain.
“Istana.”
Kylia membeku.
Istana.
Surat berikutnya datang.
Untuk komandan legiun lain.
Bukan untuknya.
Surat ketiga.
Untuk pejabat logistik.
Keempat.
Untuk kepala garnisun.
Semua menerima komunikasi langsung.
Tidak seorang pun datang kepadanya.
Tidak ada yang memanggil namanya.
Tidak ada satu pun surat yang dibawa masuk ke ruang perawatan.
Kylia menempel lebih kuat ke dinding.
Jari-jarinya mengencang.
Ia mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Mungkin surat biasa.
Mungkin laporan administratif.
Mungkin semuanya memang tidak penting.
Namun satu kemungkinan muncul.
Dan kemungkinan itu membuat darahnya dingin.
Ia sudah tidak dianggap sebagai komandan utama.
Mungkin istana telah memindahkan kewenangannya.
Mungkin mereka sedang menyusun pengganti.
Atau lebih buruk.
Mungkin mereka sedang menyusun sesuatu yang tidak ingin ia ketahui.
Kylia menatap Arelith.
Wajah letnannya terlihat lelah.
Namun ia tidak tampak mengetahui bahwa komandannya sedang berada di ujung lorong.
Kylia mundur perlahan.
Langkahnya tidak lagi hanya terasa berat karena luka.
Ia merasa sedang berdiri di tengah sesuatu yang tidak dapat dilihat.
Sesuatu yang bergerak di balik dinding.
Malam itu ia tidak tidur.
Ia kembali ke kamar.
Menatap armor yang tergeletak di lantai.
Memandang pedang.
Kemudian menatap jendela.
Ia menyadari satu hal.
Jika istana benar-benar berencana menyingkirkannya, ia tidak memiliki banyak waktu.
Sebelum fajar.
Sebelum sebagian besar perwira bangun.
Sebelum semua akses keluar ditutup atau orang-orang mulai mempertanyakan kepergiannya.
Ia harus pergi.
Kylia bangkit.
Melepas armor.
Satu bagian demi satu.
Pelat dada.
Pelindung bahu.
Pelindung lengan.
Sabuk.
Ia membiarkannya tergeletak.
Hanya pedang yang dibawanya.
Benda itu satu-satunya yang tidak sanggup ia tinggalkan.
Ia keluar melalui jalur belakang.
Benteng masih sunyi.
Kabut malam menyelimuti jalan sempit di belakang gudang.
Kylia hampir mencapai area kandang ketika ia melihat beberapa sosok.
Arelith.
Sariel.
Darrel.
Dan beberapa prajurit lain.
Mereka sedang mengikat simpul pada tali kuda.
Kylia berhenti.
“Apa yang kalian lakukan?”
Darrel menoleh.
“Menunggu.”
“Untuk?”
“Untukmu.”
Kylia menatap mereka satu per satu.
“Kembali ke kamar.”
Tidak ada yang bergerak.
Arelith mengencangkan ikatan pelana.
“Tidak.”
“Kalian tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan.”
“Justru kami tahu.”
Sariel, yang tubuhnya paling besar di antara mereka, mengangkat kepala.
“Kami ikut.”
Kylia mengerutkan kening.
“Aku tidak tahu ke mana aku pergi.”
Darrel tersenyum tipis.
“Lebih baik tidak tahu bersamamu daripada tahu tetapi tetap tinggal.”
“Ini pengkhianatan.”
Arelith menatapnya lurus.
“Kalau benar, maka kami sudah memilih.”
Kylia terdiam.
Angin pagi belum datang.
Tidak ada suara.
Ia menatap mereka.
Mereka semua terluka.