Hujan tipis turun di atas menara Abyssal Sovereigns ketika seorang manusia memasuki wilayah yang seharusnya tidak pernah memberinya tempat.
Air menetes dari ujung mantel gelapnya.
Sepatu botnya meninggalkan jejak basah di lantai batu aula penerimaan. Dua pengawal guild berdiri di kiri dan kanan pintu utama, tangan mereka berada dekat gagang senjata, tetapi tidak satu pun menghalangi jalan.
Lambang Umbra Veil masih terpasang di dadanya.
Namun armornya berbeda.
Lebih berat di bahu. Lebih sempit di pinggang. Pelindung dada baru dengan garis perak yang belum banyak tergores. Lambang kavaleri tertanam lebih tinggi daripada milik para perwira yang pernah datang sebelumnya.
Lord Mireth Duskborne memperhatikan semuanya dari balkon atas.
Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenali orang itu.
Valrick.
Dulu seorang letnan yang berdiri di sisi Kylia.
Kini seorang kapten.
Dan posisi yang sekarang dikenakannya pernah menjadi milik orang lain.
Mireth turun perlahan.
Valrick menunggu di aula.
Ketika mereka berhadapan, tidak ada yang langsung berbicara.
Mireth tersenyum tipis.
“Promosi.”
Valrick menatapnya.
“Keperluan kerajaan berubah.”
“Begitu juga armor.”
Mata Mireth turun ke pelindung bahu Valrick.
“Cepat sekali kau mengganti milik seseorang.”
Rahang Valrick mengeras.
“Aku datang untuk urusan resmi.”
“Justru itu yang menarik.”
Mireth berjalan menuju ruang pertemuan.
“Silakan.”
--o--
Pintu batu menutup di belakang mereka.
Ruangan perundingan Abyssal Sovereigns tidak memiliki lambang keagamaan. Tidak ada ornamen. Hanya meja panjang dari batu hitam, dua kursi, dan kristal cahaya redup yang menggantung di atas kepala.
Valrick meletakkan sebuah kotak logam.
“Kerajaan mengubah kesepakatan.”
Mireth duduk.
“Kontrak jiwa?”
“Dikurangi.”
“Berapa?”
“Tidak lagi prioritas.”
Mireth mengangkat alis.
“Lalu apa yang kalian minta?”
Valrick membuka kotak itu.
Beberapa lembar dokumen.
Satu peta.
Satu segel kerajaan.
Dan satu gambar.
Seorang perempuan.
Wajahnya tidak terlalu jelas.
Namun cukup untuk dikenali oleh seseorang yang pernah melihatnya bertahun-tahun.
“Target,” kata Valrick.
Mireth tidak menyentuh gambar itu.
“Pemberontak?”
“Bekas perwira kerajaan.”
“Sendirian?”
“Tidak.”
Valrick mendorong peta ke tengah.
“Dia memiliki simpatisan. Desa-desa pinggiran diduga menjadi tempat persembunyian dan titik penyebaran pamflet anti-kerajaan.”
Mireth membaca.
Kemudian tersenyum.
“Dan kau ingin kami memburu seorang perwira manusia.”
“Beserta jaringan yang melindunginya.”
“Kenapa tidak kirim pasukanmu?”
Valrick terdiam.
Mireth mengamati matanya.
“Aku akan menebak.”
Senyumnya melebar sedikit.
“Kalian tidak ingin terlihat melakukan pembersihan politik di wilayah sendiri.”
Valrick tidak membantah.
“Guild memiliki jaringan yang lebih luas.”
“Benar.”
Mireth menutup dokumen.
“Imbalannya?”
Valrick menyebut jumlah.
Mireth tidak menjawab.
Kemudian menyebut jumlah yang lebih besar.
Valrick menatapnya.
“Kau sudah diberi angka.”
“Aku mendengar.”
“Lalu?”
“Orang yang kalian buru tidak akan mudah ditemukan.”
Mireth menunjuk gambar.
“Dia mantan komandan.”
“Yang kini bersembunyi.”
“Semakin sulit.”
Valrick menghembuskan napas.
“Tambahan artefak cahaya.”
Mireth berhenti.
“Berapa?”
“Jumlah yang cukup untuk memperpanjang pasokan energi kalian.”
Itu membuat ruangan berubah.
Mireth bersandar.
Sembilan belas bulan.
Angka yang belum diketahui manusia di ruangan itu, tetapi terlalu jelas di kepala Mireth.
Artefak dari Kuil Helia.
Sumber yang semakin sulit diperoleh.
Paket baru berarti reaktor lebih aman.
Guild lebih kuat.
Dan semakin banyak iblis akan membayar untuk akses inkarnasi bayangan.
Mireth menatap Valrick cukup lama.
“Jadi sekarang kalian ingin kami mengganti pasukan yang tidak cukup tersedia dengan satu buronan.”
“Dan seluruh simpatisannya.”
Mireth mengetukkan jari ke meja.
“Menarik.”
Ia mengambil gambar itu.
“Namanya?”
Valrick menjawab.
“Tidak perlu kau ketahui lebih dari itu.”
Mireth menatap gambar sekali lagi.
Lalu mengangkat pandangan.
“Orang yang sekarang memakai posisi komandan kavaleri ini...”
Matanya turun ke armor Valrick.
“...sedang memakai jabatan yang dulu dimiliki target?”
Valrick tidak bergerak.
Mireth tersenyum.
“Lucu.”
“Ini bukan permainan.”
“Bagiku, semuanya adalah perhitungan.”
Mireth meletakkan gambar.
“Kami menerima.”
Valrick berdiri.
“Bagus.”
“Dengan satu syarat.”
“Apa?”
Mireth menggeser dokumen ke arah Valrick.
“Biarkan kami bergerak dengan cara kami sendiri.”
Valrick menatap segel guild.
“Jangan membunuh warga yang tidak terlibat.”
Mireth hampir tertawa.
“Kau datang ke guild iblis untuk meminta belas kasihan?”
“Aku meminta hasil.”
Mireth menatapnya.
“Kau sebaiknya belajar membedakan keduanya.”
--o--
Menjelang tengah hari, Kael berjalan kembali menuju markas sambil memikirkan satu-satunya hal yang terasa lebih penting daripada pekerjaan.
Makan siang.
Perutnya kosong sejak pagi.
Ia melewati jalan utama distrik iblis ketika sebuah rombongan kecil melintas.
Tiga kereta.
Ditarik Serevalis besar berbulu gelap.
Para kusir mengenakan pakaian perjalanan.
Tidak terlalu mencolok.
Namun di sisi kereta paling belakang, Kael melihat lambang yang tidak mungkin salah.