Kabut pagi menggantung rendah di antara pepohonan ketika desa itu mulai terbangun.
Embun menempel pada ujung rumput, menetes perlahan dari daun-daun lebar yang tumbuh liar di sepanjang pagar kayu. Asap tipis keluar dari cerobong rumah-rumah kecil. Di kejauhan terdengar bunyi kapak menghantam batang pohon, disusul suara ayam dan roda gerobak yang mulai bergerak menuju jalan utama.
Kylia berdiri di tanah lapang di belakang salah satu rumah.
Pedangnya berada di tangan kanan.
Tidak ada zirah.
Tidak ada inkarnasi bayangan.
Hanya pakaian sederhana, sepatu kulit, dan tubuh yang telah kembali cukup kuat setelah tiga bulan pemulihan.
Di hadapannya, Darrel bergerak maju.
Pedang kayu di tangannya meluncur lurus.
Kylia memiringkan tubuh.
Terlambat bagi Darrel.
Pergelangan tangannya ditangkap.
Kylia memutar.
Pedang kayu terlepas.
Darrel kehilangan keseimbangan.
Kylia menyentuh sisi lehernya dengan ujung pedang kayu miliknya.
“Ulang.”
Darrel mengembuskan napas.
“Tanpa bayangan, kau tetap menyebalkan.”
“Kau terlalu lambat.”
“Ini pagi.”
“Itu alasan.”
Darrel mengambil pedang kayu kembali.
Dua langkah mundur.
Kali ini ia tidak menyerang langsung.
Ia memutar dari kanan.
Kylia menunggu.
Darrel mengubah arah.
Serangan rendah.
Kylia melompat setengah langkah, membiarkan bilah melewati kakinya, lalu memukul bahu Darrel.
Tak.
Darrel menggeram.
“Kau membaca gerakanku.”
“Sudah sejak dulu.”
“Dulu aku bisa mengimbangi.”
“Dulu aku pakai armor.”
Darrel tertawa pendek.
“Benar.”
Mereka kembali mengambil posisi.
Di sekitar lapangan, beberapa warga desa memperhatikan sambil tetap mengerjakan urusan masing-masing. Seorang lelaki tua sedang memperbaiki pagar. Dua anak kecil berusaha meniru gerakan mereka dengan ranting.
Kylia membiarkan mereka melihat.
Di tempat ini, latihan bukan lagi persiapan untuk perang.
Hanya cara untuk memastikan tubuhnya tidak melupakan apa yang dulu membuatnya bertahan hidup.
Darrel menyerang lagi.
Kylia menangkis.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian memutar pedangnya dan menghantam pergelangan tangannya.
Pedang kayu kembali jatuh.
Darrel mendecakkan lidah.
“Kali ini aku benar-benar mulai merasa kasihan pada orang yang harus menghadapimu.”
Kylia tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Berarti refleksmu mulai kembali.”
Darrel memandang tangan kanannya.
“Kau masih bisa mengajar.”
Kylia tidak menjawab.
Ia mengambil pedang kayu yang jatuh.
Kemudian mendengar langkah.
Berat.
Cepat.
Tiga orang di lapangan menoleh hampir bersamaan.
Sariel muncul dari balik rumah.
Wajahnya serius.
Tidak seperti biasanya.
Tubuh besarnya masih membawa dua ikat kayu bakar di bahu. Daun-daun kering menempel pada pakaiannya. Ada goresan tipis pada lengan, mungkin akibat ranting.
Namun bukan itu yang membuat Kylia berhenti.
Mata Sariel tidak tertuju pada kayu.
Ia langsung mencari Kylia.
“Berhenti.”
Kylia menurunkan pedang kayu.
“Apa?”
Sariel meletakkan ikatan kayu.
“Aku menemukan sesuatu di hutan.”
Nada suaranya membuat suasana lapangan berubah.
Darrel menaruh pedangnya.
“Binatang?”
“Bukan.”
Sariel menggeleng.
“Jejak.”
Kylia mengernyitkan dahi.
“Jejak apa?”
Sariel menyeka keringat dari pelipis.
“Aku tidak tahu.”
Ia mengangkat satu telapak tangannya.
“Besarnya seperti ini.”
Kylia menatap tangannya.
Sariel kemudian membuat ukuran lebih lebar.
“Lebih besar daripada kuda biasa.”
Kylia diam.
Sariel melanjutkan.
“Empat kaki. Jelas jejak tunggangan. Tapi bentuknya bukan jejak kuda.”
Sesuatu dalam ingatan Kylia bergerak.
Kelas strategi dan pengenalan makhluk.
Salah satu materi yang dulu ia anggap tidak akan pernah diperlukan.
Tunggangan ras iblis.
Kylia berjalan mendekat.
“Dari arah mana?”
“Barat laut.”
“Menuju desa?”
Sariel menggeleng.
“Tidak tahu.”
Kylia menatapnya.
“Kenapa?”
“Jejaknya hilang di area berbatu.”
“Berapa banyak?”
“Sulit dipastikan.”
Sariel menatap hutan.
“Setidaknya satu.”
Kylia diam.
Satu Serevalis.
Tunggangan besar yang biasa digunakan perjalanan jarak jauh oleh ras iblis.
Makhluk itu tidak seharusnya berada di wilayah terluar Umbra Veil.
Bukan tanpa alasan.
Apalagi sedekat ini dengan sebuah desa terpencil.
Kylia menunduk.
“Bawa aku ke sana.”
Darrel melangkah maju.
“Aku ikut.”
Kylia menoleh.
“Tidak semua orang.”
Sariel tersenyum tipis.
“Berarti aku ikut.”
Kylia mengambil pedangnya.
“Dan kita tidak membuat keributan.”
Ia menatap hutan.
“Kalau ada seseorang di sana, aku ingin tahu apakah dia hanya lewat.”
Atau sedang mencari seseorang.
Kalimat terakhir itu tidak keluar.
Namun pikirannya sudah sampai ke sana.
--o--
Beberapa kilometer dari desa, di tengah hutan yang sama, seseorang masih tertidur.
Kael tidur dengan posisi yang tidak layak disebut nyaman.
Punggungnya menempel pada akar pohon besar. Salah satu kaki tertekuk. Jubahnya menjadi alas seadanya. Peta wilayah terluar Umbra Veil masih terbuka di tangan kirinya, sementara tangan kanan menggenggam tongkat perjalanan yang belum sempat ia lepaskan.
Api unggun di depannya sudah lama padam.
Malam sebelumnya ia berniat menyusun jalur pengamatan.
Ia membandingkan peta hasil perjalanan dengan informasi dari informan.
Memetakan desa-desa.
Menghitung waktu tempuh.
Mencari titik yang memungkinkan seseorang hidup tersembunyi tanpa ditemukan patroli kerajaan.
Lalu ia ketiduran.
Bukan hal yang mengejutkan.
Beberapa hari naik karavan Serevalis dari wilayah selatan jauh telah membuat tubuhnya remuk. Tidak peduli seberapa baik bantalan kursi kereta, perjalanan panjang tetap menghancurkan punggung.