Senja turun perlahan di Desa Shadow Valkyrie, menyisakan cahaya keemasan di atas ladang-ladang yang baru dipanen.
Jalan tanah membelah permukiman kecil itu dari timur ke barat. Rumah-rumah berdinding kayu berdiri berdampingan dengan bangunan batu yang lebih tua. Asap tipis keluar dari cerobong. Aroma tanah basah, jerami, susu kambing, dan masakan sore bercampur di udara.
Kael berjalan melewati gapura desa.
Ia langsung tahu tempat ini berbeda.
Tidak ada pos penjaga kerajaan.
Tidak ada menara pengawas.
Tidak ada prajurit berseragam.
Yang ada hanya kehidupan.
Seorang manusia membawa dua keranjang sayuran di bahu. Di depannya, seorang iblis bertelinga panjang menarik seekor kambing yang tampaknya lebih keras kepala daripada pemiliknya. Beberapa anak berlari di antara kaki orang dewasa. Seorang perempuan manusia menawar harga seikat tanaman kepada pedagang iblis.
Tidak ada yang saling memperhatikan dengan curiga.
Kael hampir memperlambat langkah.
Informasi dari guild mengatakan desa-desa terluar telah banyak dipengaruhi oleh jaringan pemberontak. Pamflet anti-kerajaan beredar. Penduduk diduga membantu menyembunyikan simpatisan.
Ia tidak melihat itu.
Yang ia lihat hanyalah orang-orang pulang membawa hasil panen.
Seorang lelaki tua menoleh kepadanya.
“Pendatang?”
Kael tersenyum ramah.
“Kelihatan sekali?”
“Tidak banyak wajah baru di sini.”
Lelaki itu menunjuk ke jalan utama.
“Penginapan ada di tengah desa. Bangunannya beratap merah. Tidak mungkin salah.”
Seorang perempuan di dekatnya ikut menyela.
“Kalau sudah lapar, kedai di sebelah sumur lebih murah.”
Kael mengangguk.
“Terima kasih.”
Ia berjalan lagi.
Salah satu anak kecil yang berlari melewatinya bahkan menoleh sambil tersenyum.
Kael membalas dengan anggukan.
Di belakang senyumnya, pikirannya mulai bergerak.
Desa yang diracuni propaganda pemberontak?
Belum tentu.
Ia baru tiba.
Ia tidak boleh membuat kesimpulan terlalu cepat.
--o--
Kamar penginapan kecil itu sederhana.
Satu ranjang.
Satu meja.
Satu jendela.
Sebuah baskom air.
Kael menaruh tas di lantai lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan kristal komunikasi dari saku dalam mantelnya.
Benda itu berwarna biru bening, dengan garis-garis tipis seperti urat.
Ia menempelkan dua jari pada permukaannya.
“Resonansi ketiga.”
Kristal menyala.
Cahaya biru berkedip.
Beberapa detik kemudian, suara dari sisi lain muncul.
“Kael.”
Suara petugas komunikasi guild.
“Laporan.”
Kael bersandar.
“Sudah masuk wilayah terluar Umbra Veil.”
“Target?”
“Belum ditemukan.”
“Jejak pamflet?”
“Belum cukup.”
Suara di kristal terdengar lebih tegas.
“Informasi dari pusat menyebut jaringan itu aktif di sejumlah desa. Jangan tertipu dengan keramahan penduduk.”
Kael menatap langit sore dari jendela.
“Aku tahu.”
“Kau menemukan sesuatu?”
Ia diam.
Mengingat gapura.
Warga.
Anak-anak.
Pedagang.
Tidak ada yang tampak seperti jaringan pemberontak.
“Belum.”
“Lanjutkan penyelidikan. Laporkan jika ada perkembangan.”
“Dimengerti.”
Cahaya kristal padam.
Kael menaruhnya kembali.
Ia memandang benda itu beberapa saat.
Ada bagian dari percakapan yang sengaja tidak ia ceritakan.
Bahwa penduduk di desa menyambutnya tanpa curiga.
Bahwa tidak seorang pun berbicara buruk tentang kerajaan.
Bahwa orang-orang sibuk dengan makanan, ternak, dan hasil ladang.
Kalau informasi guild benar, seharusnya ada ketegangan.
Kebencian.
Bisik-bisik.
Setidaknya satu tanda.
Namun mungkin semuanya memang pandai menyembunyikan diri.
Kael berdiri.
“Malam.”
--o--
Malam datang bersama suara-suara kecil.
Kael keluar dari penginapan tanpa membawa kapak.
Ia bahkan tidak mengenakan tudung sepenuhnya.
Untuk sekali ini, ia ingin terlihat seperti pendatang biasa.
Perbekalannya habis.
Perutnya mulai menggeram.
Di dekat sudut jalan, seorang lelaki iblis paruh baya duduk di belakang tungku batu kecil.
Asap tipis mengepul.
“Kentang bakar,” kata pria itu ketika Kael mendekat.
Kael berhenti.
“Kentang?”
“Baru matang.”
Ia menunjuk bara.
“Harga murah.”
Kael membeli satu.
Kentang itu dibungkus daun.
Panasnya masih terasa di tangan.
Kael meniup permukaannya lalu menggigit.
Lembut.
Sedikit gosong.
Enak.
“Bagus,” gumamnya.
Lelaki itu tersenyum.
“Dari mana?”
Kael menelan.
“Jauh.”
“Kelihatan.”
“Separah itu?”
“Pedagang biasanya tahu harus membawa apa. Kau datang seperti orang yang tidak tahu.”
Kael tertawa kecil.
“Bisa dibilang begitu.”
Pria itu tidak bertanya lebih jauh.
Kael menghargainya.
Ia berdiri di pinggir jalan sambil makan.
Sampai terdengar suara seorang anak.
“Ibu! Cepat!”
Seorang iblis kecil menarik-narik dress terusan ibunya.
“Festival mulai!”
“Sebentar.”
“Tidak mau!”