Jalan menuju Moorhaven membelah padang rumput yang luas dan basah oleh embun pagi.
Langit belum sepenuhnya cerah. Sisa kabut menggantung di antara bukit-bukit rendah, sementara matahari menumpahkan cahaya pucat ke atas pagar ladang, gudang jerami, dan rumah-rumah kayu yang tersebar jauh di sepanjang jalur. Dari kejauhan, terdengar bunyi lonceng kecil dari leher ternak yang bergerak lambat di balik pagar.
Kael duduk di samping kusir.
Kereta yang mereka tumpangi bergerak perlahan, ditarik dua ekor kerbau besar dengan tanduk lebar. Roda kayunya berderit setiap kali melewati jalan yang tidak rata.
Kael menyandarkan punggung ke papan kursi.
Sudah cukup lama ia berada di jalan.
Desa pertama telah memberinya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Moorhaven seharusnya menjadi titik kedua tempat ia mencari jejak jaringan pemberontak.
Namun untuk saat ini, yang ia miliki hanya peta.
Tidak ada nama.
Tidak ada wajah.
Tidak ada bukti.
Kusir di sampingnya melirik.
“Pedagang?”
Kael menoleh.
“Begitulah.”
Tatapan lelaki itu bergerak ke belakang jubah Kael.
Dua ujung gagang kapak terlihat samar.
“Kau pedagang yang membawa kapak.”
Kael tersenyum.
“Kadang barang dagangan perlu dijaga.”
“Dua kapak?”
“Dua tangan.”
Kusir tertawa kecil.
“Berarti kau petarung.”
Kael tidak membantah.
Lelaki itu kembali memandang jalan.
“Tanpa faksi?”
Kael berhenti sesaat.
Emblem Abyssal Sovereigns telah ia lepaskan sejak memulai misi. Tidak ada alasan membiarkan warga manusia mengenali asalnya sebagai anggota guild iblis.
“Untuk sekarang.”
Kusir mengangguk seperti mengerti.
“Di Moorhaven, petarung seperti itu banyak.”
“Banyak?”
“Tidak terikat kerajaan maupun guild.”
Ia mengangkat bahu.
“Mereka menjaga desa. Kami memberi mereka makanan, tempat tinggal, dan beberapa kebutuhan. Saling menguntungkan.”
Kael memperhatikan.
“Desa mempekerjakan mereka?”
“Kurang lebih.”
Kusir tersenyum.
“Kalau kau memang petarung tanpa faksi, mungkin Moorhaven cocok untukmu.”
Kael menatapnya.
“Kenapa?”
“Desanya tidak banyak masalah.”
“Tidak banyak masalah?”
“Selama sapi tidak hilang.”
Kael tertawa pendek.
“Pekerjaan sederhana.”
“Kau akan terkejut.”
Kusir menunjuk ke depan.
“Lihat.”
Kael mengangkat kepala.
Di balik kabut tipis, atap-atap rumah mulai terlihat.
Moorhaven.
Tidak ada tembok besar.
Hanya pagar kayu, gapura batu sederhana, dan sebuah menara kecil di dekat pusat permukiman.
Kael memperhatikan lebih tajam.
Ada orang berjaga.
Namun bukan prajurit kerajaan.
Di bawah saung kayu dekat gapura, beberapa orang duduk sambil memeriksa persenjataan.
Pedang.
Tombak.
Busur.
Sebuah palu besar.
Mereka terdiri dari manusia dan iblis.
Laki-laki dan perempuan.
Tidak seragam.
Tidak ada lambang kerajaan.
Hanya berbagai senjata dan pakaian perjalanan.
Petarung tanpa faksi.
Kereta mendekati gerbang.
Salah seorang penjaga bangkit.
“Pagi!”
Kusir mengangkat tangan.
“Pagi, Tarek!”
Penjaga itu mengenali kereta.
“Bawa rumput lagi?”
“Kalau kau memberi makan kudaku nanti.”
“Kudamu bukan urusan kami.”
“Begitu juga hutangmu.”
Beberapa petarung tertawa.
Pintu dibuka.
Kereta masuk.
Kael memperhatikan mereka lebih lama.
Mereka tampaknya sudah saling mengenal.
Bukan tentara yang ditempatkan kerajaan.
Bukan pengawas.
Mereka adalah bagian dari kehidupan desa.
Kereta terus berjalan.
Di persimpangan tengah desa, kusir menghentikan kereta.
“Di sini aku ke peternakan.”
Kael turun.
“Terima kasih.”
Lelaki itu menunjuk jalan sebelah kiri.
“Moorhaven Inn di sana.”
Kael mengangguk.
“Semoga harimu baik.”
“Begitu juga kau, Kapak Dua.”
Kael menatapnya.
Kusir tertawa lalu melanjutkan perjalanan.
Kael menggeleng kecil.
Kemudian berjalan menuju pusat desa.
--o--
Bangunan kayu dua lantai berdiri di antara kedai dan toko kecil.
Sebuah papan tua tergantung di depannya.
MOORHAVEN INN.
Kael masuk.
Seorang wanita setengah baya menyambut dari meja penerimaan.
“Kamar?”
“Untuk satu malam.”
“Bayar di depan.”
Kael menyerahkan beberapa koin.
Ia naik ke lantai dua.
Kamarnya sempit.
Cukup untuk ranjang, meja, kursi, dan peti kecil.
Kael meletakkan tas di bawah ranjang.
Jari-jarinya sempat menyentuh benda yang tersembunyi di sana.
Dokumen curian dari arsip Abyssal Sovereigns.
Ia memastikan tetap aman.
Kemudian berdiri.
Ia tidak datang ke Moorhaven untuk tidur.
Ia ingin melihat bagaimana desa ini berfungsi.
Jika pemberontak benar-benar menggunakan desa terluar sebagai jaringan mereka, maka tempat seperti Moorhaven seharusnya memiliki titik-titik yang mudah dikenali.
Gudang.
Jalur logistik.
Tempat berkumpul.
Pesan rahasia.
Orang-orang yang bertindak terlalu hati-hati.
Ia akan melihat semuanya.
Kael turun lagi.
Kali ini kedua kapak tetap berada di punggung.
Pisau kecil tetap terpasang di pinggang.
Ia tidak ingin tertangkap tanpa pertahanan apabila sesuatu terjadi.
Ia berjalan ke arah area peternakan.
--o--
Lorong sempit memisahkan rumah-rumah.
Kristal komunikasi di dalam saku Kael tiba-tiba bergetar.
Ia berhenti.
Cahaya biru merembes keluar dari kain.
Kael mengangkat kepala.
Tidak.
Bukan di sini.
Ia melihat ke kanan.
Sebuah gang buntu.
Sepi.
Kael masuk.
Dinding rumah menutup pandangan dari jalan utama.
Ia menarik kristal.
Mantra diucapkan pelan.
Cahaya biru menyala.
Suara laki-laki muncul.
“Kael.”
“Ya.”
“Progress?”
“Baru tiba di desa kedua.”
“Target?”
“Belum.”
Jeda.
“Desa pertama?”
“Bersih.”
“Definisikan bersih.”
“Tidak menemukan aksi penghasutan. Tidak menemukan aktivitas yang jelas terkait jaringan pemberontak.”
Operator terdiam sesaat.
“Lanjutkan.”
Kael menatap dinding.
“Tidak ada yang perlu dilaporkan?”
“Misi adalah misi.”
Nada operator datar.
“Kau diperintahkan menemukan target.”
“Dan kalau desa-desa itu tidak terlibat?”
“Bukan urusanmu.”
Kael diam.
Operator melanjutkan.
“Setelah target ditemukan, istana akan menangani sisanya.”
“Menangani?”
“Desa-desa yang menyembunyikan pemberontak akan dianggap mendukung mereka.”
Kael merasakan jarinya mengencang.
Operator berbicara seolah sedang membacakan daftar barang.
“Jika mereka harus dibersihkan, dibumihanguskan, atau dipindahkan, itu bukan tugasmu.”
Cahaya kristal padam.
Kael berdiri sendirian.
Tangannya perlahan mengepal.
Buku jarinya memutih.
Ia menarik napas.
Kemudian menyimpan kristal.
“Bukan urusanku.”
Ia mengatakannya pelan.
Namun kali ini kalimat itu terasa seperti kebohongan.
--o--
Area peternakan Moorhaven jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Kael.
Pagar kayu membentang luas.
Bangunan beratap tinggi menjadi tempat berteduh sapi-sapi perah.
Puluhan, mungkin lebih dari seratus ternak bergerak perlahan di dalam kandang.
Udara dipenuhi bau rumput, tanah, dan susu segar.
Seorang perempuan iblis mengangkat ember.
Dua lelaki manusia menarik gerobak.
Seorang anak laki-laki berlari membawa tali.
Di sisi lain, dua warga dari ras berbeda sedang mengangkat gentong susu yang berat.
Tidak ada pengawasan militer.