Bau daun tumbuk dan alkohol herbal memenuhi bangsal kesehatan Moorhaven.
Cahaya sore menembus jendela-jendela kecil di dinding kayu, jatuh miring ke atas ranjang-ranjang sederhana yang berjajar rapat. Di luar, suara aktivitas desa terdengar samar, bercampur dengan bunyi ember, langkah kaki, dan sesekali lenguhan sapi dari arah peternakan.
Kael membuka mata.
Bahu kanannya terasa panas.
Seorang perempuan manusia muda berdiri di samping ranjang sambil membawa mangkuk batu. Rambutnya diikat sederhana. Jemarinya bernoda hijau dari tumbukan dedaunan yang baru disiapkan.
“Mana yang terluka?”
Kael menunjuk bahunya.
Perempuan itu tampak sedikit gugup.
“Boleh saya lihat?”
Kael mengangguk.
Ia menyingkap jubah Kael perlahan sampai bagian bahunya terbuka. Beberapa luka akibat cakar makhluk bayangan tampak merah di kulit.
Perempuan itu terdiam sesaat.
“Tidak terlalu dalam.”
“Beruntung.”
“Jangan bergerak.”
Ia mengambil sebagian tumbukan dari mangkuk.
Jari-jarinya menyentuh bahu Kael.
Kael meringis.
“Perih?”
“Sedikit.”
Perempuan itu semakin hati-hati.
“Ramuan ini mengeringkan luka luar. Tidak langsung menyembuhkan, tapi membantu menutup permukaannya.”
Kael memandang wajahnya.
Ia terlihat sungkan.
“Namamu?”
“Lina.”
“Kael.”
“Saya tahu.”
Kael mengangkat alis.
“Dari mana?”
“Orang-orang membicarakan petarung baru yang semalam membantu.”
Perempuan itu segera kembali fokus pada lukanya.
“Tidak banyak orang yang bisa bergerak seperti Anda.”
Kael hampir tersenyum.
“Tidak perlu mengagungkan.”
“Saya tidak mengagungkan.”
“Bagus.”
Lina selesai membalurkan tumbukan.
Ia mengambil botol kaca kecil dari meja.
“Minum ini.”
“Apa?”
“Elixir pemulih stamina.”
Kael menerima botol.
“Terima kasih.”
“Jangan diminum sekaligus.”
Lina berhenti di samping pintu.
“Dan jangan bertarung lagi sampai lukanya mengering.”
Kael mengangguk.
“Baik.”
Perempuan itu pergi.
Kael menatap botol di tangannya.
Ia baru hendak membuka tutup ketika suara berat terdengar dari ranjang sebelah.
“Kau cepat sekali pulih.”
Kael menoleh.
Pria besar yang pernah berdiri di antara para petarung semalam sedang duduk.
Sariel.
Bahkan di ranjang rumah sakit, tubuhnya terlihat terlalu besar untuk ruang tersebut.
“Semalam kau juga tidak kelihatan seperti orang yang terluka parah,” kata Sariel.
“Begitu juga kau.”
Sariel tertawa.
“Aku jauh lebih keras dari kelihatannya.”
Kael melirik tangan Sariel yang diperban.
“Tidak meyakinkan.”
Sariel tertawa lagi.
“Fair.”
Ia kemudian menatap Kael dengan serius.
“Gerakanmu bagus.”
Kael diam.
“Kau memanfaatkan pohon.”
“Ya.”
“Naik turun.”
“Ya.”
“Melompat dari satu cabang ke cabang lain.”
Sariel menggeleng.
“Kalau aku mencoba begitu, pohonnya yang tumbang.”
Kael terkekeh kecil.
Sariel hendak turun dari ranjang.
“Oh, sial.”
“Ada apa?”
“Aku harus kembali.”
“Kemana?”
“Coppergold.”
Sariel mengambil pakaian luar.
“Aku datang ke Moorhaven untuk mengambil susu. Seharusnya sudah pulang sejak kemarin.”
Kael mengingat nama itu.
Coppergold.
Desa terluar berikutnya.
Tepat pada jalur yang hendak ia datangi.
“Kau menuju sana sekarang?”
Sariel mengangguk.
“Kalau kau tidak keberatan.”
“Aku ikut.”
Sariel berhenti.
“Serius?”
Kael berdiri.
“Aku memang sedang menuju daerah itu.”
“Bagus.”
Sariel tersenyum.
“Kereta tidak ada, jadi kita jalan.”
Kael menatap tubuh besar pria itu.
“Dengan jalan kaki?”
Sariel menunjuk pintu.
“Sayangnya.”
--o--
Jalur menuju Coppergold membentang melewati lereng dan hutan tipis.
Matahari sudah condong ketika Kael dan Sariel meninggalkan Moorhaven.
Sariel membawa dua gentong susu.
Kael berjalan di sampingnya.
Beberapa saat mereka tidak berbicara.
Kemudian Sariel menunjuk sebuah menara batu yang tampak dari kejauhan.
“Lihat itu?”
Kael menoleh.
Sebuah bangunan tinggi berdiri di atas bukit rendah.
Dindingnya penuh lumut.
Atapnya sudah runtuh.
Beberapa celah jendela ditumbuhi semak.
“Menara pengawas?”
“Dulu.”
Sariel menghela napas.
“Itu milik Umbra Veil.”
Kael menatapnya lebih lama.
“Masih aktif?”
“Tidak.”
Sariel berjalan sambil membawa gentong.
“Ayahku pernah bertugas di sana.”
Kael menoleh.
“Kapan?”
“Sekitar empat puluh tahun lalu.”
“Empat puluh?”
Sariel tertawa kecil.
“Ayahku sudah lama meninggal.”