Malam telah mengeringkan hujan yang turun sejak sore, tetapi jalan-jalan Coppergold masih menyimpan kilau lembap di bawah cahaya lampu minyak.
Udara terasa dingin.
Kabut tipis mengambang rendah di antara rumah-rumah kayu. Dari kandang ternak terdengar sesekali bunyi lonceng, sementara suara penduduk yang pulang dari kedai semakin jarang terdengar.
Kael keluar dari kedai.
“Terima kasih atas kedatangannya.”
Suara pelayan terdengar dari belakang sebelum pintu kayu tertutup.
Kael baru melangkah dua langkah ketika berhenti.
Seseorang berdiri di sebelah kanan pintu.
Bersandar pada dinding.
Kylia.
Tidak mengenakan armor.
Tidak membawa senjata yang terlihat.
Hanya pakaian sederhana seperti penduduk desa lainnya.
Namun cara matanya menatap Kael tidak berubah.
Tajam.
Tidak bergeming.
Kael tidak berkata apa-apa.
Kylia juga tidak langsung bergerak.
Kemudian ia bertanya.
“Kenapa kau di Coppergold?”
Kael diam.
“Kenapa kau menyamar sebagai pedagang?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa kau mengamati pondokku?”
Kael menahan napas.
“Kenapa kau mengikuti Sariel dari Moorhaven?”
Diam.
“Kenapa kau tidak memakai lambang guild?”
Kael menatapnya.
Kylia mendorong tubuhnya dari dinding.
“Kenapa kau tidak melaporkan keberadaanku?”
Kael masih bungkam.
Kylia mendekat satu langkah.
“Kau tahu aku ada di sini sejak Moorhaven?”
Tidak.
Kael tidak menjawab.
Kylia berhenti beberapa langkah di depannya.
Tatapannya berubah.
Tidak lagi seperti seseorang yang sedang menginterogasi.
Lebih tenang.
Lebih berat.
“Kael.”
Untuk pertama kalinya, namanya terdengar seperti sesuatu yang tidak mengandung tuduhan.
“Apakah kau ditugaskan untuk memburuku?”
Kael menatap matanya.
Waktu terasa berhenti sesaat.
Ia bisa berbohong.
Ia sudah melakukan itu berkali-kali dalam hidup.
Namun malam itu, tidak ada kebohongan yang terasa cukup besar untuk menutupi apa yang berdiri di antara mereka.
“Maaf.”
Satu kata.
Kylia tidak berkedip.
Kael menunduk sedikit.
Itu bukan penyangkalan.
Dan mereka berdua tahu.
--o--
Di pusat Umbra Veil, lampu kristal menyala terang di ruang Dewan Tertinggi.
Sebelas orang tua duduk dalam lingkaran.
Pakaian mereka berbeda-beda sesuai keluarga dan jabatan, namun semuanya membawa warna yang sama: hitam, emas, dan putih.
Warna kekuasaan.
Pintu terbuka.
Valrick masuk.
Ia menundukkan kepala.
“Laporan.”
Salah satu anggota dewan berbicara.
“Bicara.”
Valrick tersenyum.
“Lokasi target telah dilacak.”
Keheningan yang muncul setelahnya terasa seperti kepuasan.
Satu anggota dewan menyandarkan tubuh.
“Di mana?”
“Desa Coppergold.”
Beberapa wajah saling bertukar pandang.
“Jauh dari benteng.”
“Terpencil.”
“Sedikit garnisun.”
Seseorang tersenyum.
“Bagus.”
Yang lain mengetukkan jari pada meja.
“Jalan itu semakin terbuka.”
Valrick tidak berkata apa-apa.
Ia tahu apa yang mereka pikirkan.
Bukan sekadar menangkap Kylia.
Mereka ingin menghapus pengaruhnya.
Menghancurkan simpati yang mungkin masih dimilikinya di wilayah terluar.
Menjadikan pelariannya sebagai bukti bahwa seorang perwira yang menentang kerajaan tidak memiliki tempat.
Salah seorang dewan tertawa pelan.
“Kapten Valrick.”
“Ya?”
“Sebagai imbalan atas keberhasilanmu melacak lokasinya, kau memperoleh hak menggunakan seluruh divisi kavaleri utama.”
Valrick mengangkat kepala.
“Seluruh?”
“Seluruh.”
“Untuk mengejar seorang perempuan?”
Pria tua itu tersenyum.
“Bukan seorang perempuan.”
Ia menyandarkan tubuh.
“Seorang pengkhianat.”
Valrick tersenyum.
Kali ini lebih licik.
“Aku siap.”
“Bagus.”
Valrick membungkuk.
“Dengan seluruh divisi kavaleri, dia tidak akan sempat melarikan diri lagi.”
Pintu ditutup setelah ia pergi.
Salah satu anggota dewan menatap yang lain.