Pagi datang bersama bunyi ribuan kuku yang menghantam tanah.
Debu terangkat dari jalan timur Umbra Veil dan menggantung di udara seperti kabut cokelat. Di bawah cahaya matahari yang baru menembus punggung pegunungan, barisan kavaleri Umbra Veil bergerak seperti sungai baja yang tidak berujung. Panji-panji kerajaan berkibar di antara tombak dan pedang. Zirah memantulkan cahaya. Napas kuda mengepul. Tanah bergetar di bawah bobot ribuan penunggang.
Dua hari sejak keberangkatan.
Dua hari sejak perintah penumpasan dikeluarkan.
Dan jauh di depan mereka, lima orang sedang menunggu.
Kylia berdiri di sisi kudanya.
Tidak ada armor di tubuhnya.
Ia mengenakan pakaian perjalanan berwarna gelap, ringan, cukup longgar untuk bergerak cepat. Pedang tersarung di pinggang. Rambutnya diikat ke belakang. Wajahnya tenang, meski empat orang yang berdiri di belakangnya tahu bahwa ketenangan itu dipaksa dengan disiplin.
Arelith menurunkan kepala.
Darrel memeriksa tali pelana.
Sariel menepuk leher kudanya.
Mira mengencangkan sarung pedang.
Mereka masih mengenakan bagian zirah yang dulu mereka pakai ketika meninggalkan benteng bersama Kylia. Benda-benda itu tidak lagi memiliki lambang kerajaan yang utuh. Sebagian telah dilepas. Sebagian ditutupi kain.
Namun untuk pertempuran cepat, perlindungan itu masih lebih baik daripada pakaian biasa.
Kylia memandang ke arah jalan.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak perlu.
Ia menarik tali kekang.
Kuda bergerak lebih dahulu.
Empat lainnya mengikuti.
Desa Coppergold telah tertinggal di belakang mereka.
Kylia tidak menoleh.
Ia tidak ingin melihat rumah-rumah yang mungkin sudah dianggap musuh oleh kerajaan hanya karena seorang mantan kapten pernah tidur di sana.
Mereka tidak bisa menang.
Kylia tahu itu.
Lima orang melawan dua ribu pasukan berkuda bukan pertempuran.
Itu bunuh diri.
Tetapi ia tidak berniat menang.
Ia hanya membutuhkan waktu.
Waktu agar penduduk desa dapat bergerak.
Waktu agar anak-anak, orang tua, dan keluarga yang tidak tahu apa-apa tentang perang dapat keluar dari jalur pasukan.
Dan jika ia harus berdiri di tengah jalan untuk membuat dua ribu orang mengejarnya, ia akan melakukannya.
Kylia mengangkat wajah.
Angin timur membawa bau tanah kering.
“Jangan berhenti.”
Empat orang mengangguk.
Lalu mereka melaju.
--o--
Di sisi lain pegunungan, Valrick tersenyum.
Dua ribu lebih pasukan berkuda bergerak bersamanya.
Ia berdiri di atas pelana dengan kepercayaan diri seorang pria yang sudah terlalu lama diberi tahu bahwa ia hebat.
Semalam mereka berkemah di lereng.
Tidak ada serangan.
Tidak ada hambatan.
Pagi ini ia bangun dalam keadaan segar.
Armor barunya terpasang sempurna.
Pedang tergantung di pinggang.
Panji kavaleri utama Umbra Veil berkibar di belakangnya.
Ia memandang barisan panjang pasukannya dan merasa kemenangan sudah berada di tangannya.
“Kita terus ke timur!”
Suara Valrick menggema.
Beberapa perwira meneruskan perintah.
Pasukan bergerak.
Debu semakin tebal.
“Begitu kita memutari pegunungan itu,” teriak Valrick kepada para penunggang di dekatnya, “kita akan menemukan mereka!”
Seseorang bersorak.
Valrick tersenyum lebih lebar.
“Kylia tidak akan bisa bersembunyi selamanya.”
Ia tidak mengatakan bahwa targetnya hanya berjumlah lima orang.
Ia tidak ingin pasukannya memikirkan itu.
Ia ingin mereka percaya bahwa mereka sedang memburu suatu kekuatan pemberontak besar.
Kemenangan atas Kylia akan memberinya lebih dari sekadar keberhasilan militer.
Itu akan mengukuhkan kedudukannya.
Kapten Valrick.
Komandan yang menghentikan pengkhianatan.
Komandan yang menyelamatkan Umbra Veil dari kekacauan.
Ia sudah membayangkan bagaimana para bangsawan akan menyebut namanya.
Kemudian salah satu pengintai memberi tanda dari depan.
“Gerakan!”
Valrick mengambil teropong.
Ia mengangkatnya.
Di kejauhan, di antara dua sisi hutan dan jalur batu yang menyempit, ia melihat lima penunggang.
Kecil.
Terlalu kecil.
Lalu sosok di depan berbalik.
Kylia.
Valrick langsung mengenalinya.
Senyumnya berubah menjadi seringai.
“Dia.”
Ia tertawa.
“Dia benar-benar menunggu kita.”
Salah seorang perwira bertanya,
“Perintah, Kapten?”
Valrick mengangkat tangan.
“Maju.”
Barisan awal mempercepat.
Namun lima penunggang di depan justru berbalik dan melaju ke utara.
Valrick menurunkan teropong.
“Kejar!”
Kuda-kuda bergerak lebih cepat.
Masalahnya, medan berubah.
Jalur yang tadinya terbuka mulai menyempit karena dua hutan menjulur dari barat dan timur. Pegunungan berdiri di belakang, memaksa aliran kavaleri mengikuti sebuah koridor alami yang makin lama makin sempit. Barisan yang semula dapat bergerak melebar kini harus memanjang mengikuti jalan batu di antara pepohonan.
Perwira di belakang mulai meneriakkan perintah.
“Jaga jarak!”
“Jangan terlalu rapat!”
Tetapi momentum dua ribu pasukan yang bergerak mengejar target kecil terlalu besar.
Barisan depan terus maju.
Barisan tengah mengikuti.
Barisan belakang ikut menekan.
Formasi horizontal berubah menjadi kolom panjang.
Valrick tidak peduli.
Ia hanya melihat Kylia.
“Jangan biarkan dia lolos!”
Kylia menoleh sekali.
Ia melihat semuanya.
Pasukan.
Kontur.
Pepohonan.
Koridor sempit.
Dan kesalahan yang baru saja dilakukan Valrick.
Dadanya berdegup.
Bukan kemenangan.
Hanya satu celah.
Namun sebelum ia dapat memberi tanda kepada bawahannya—
Suara melengking membelah hutan.
Bukan teriakan manusia.
Bukan suara kuda.
Sesuatu yang jauh lebih dalam.
AUMAN pertama membuat burung-burung beterbangan dari pepohonan.
Kylia menarik kudanya.
Arelith menoleh.
Darrel mengangkat pedangnya.
Sariel berhenti bernapas sesaat.
Lalu dari hutan timur sesuatu menerjang.
Hitam.
Besar.
Empat kaki.
Mata merah menyala dalam rongga wajah yang tidak memiliki bentuk sempurna.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Puluhan.
Bayangan liar.
--o--
Pasukan Umbra Veil belum pernah melihat jumlah sebanyak itu.
Makhluk-makhluk itu menerobos dari sela pepohonan tanpa pola yang jelas.
Mereka tidak peduli pada siapa yang menghalangi.
Kuda.
Penunggang.
Perwira.
Semua sama.
Yang pertama menghantam seekor kuda dari samping.
Kuda itu menjerit.
Tubuhnya terpelanting.
Penunggangnya jatuh.
Makhluk bayangan menyambar sebelum ia sempat bangkit.
Darah.
Debu.
Jeritan.
Barisan kavaleri pecah.
“FORMASI!”
Suara perwira hilang di bawah suara panik.
Makhluk-makhluk itu menerobos celah antara kuda dan kuda.
Zirah yang dirancang untuk menahan pedang dan panah tidak banyak berguna terhadap cakar yang menemukan sambungan pelindung.
Satu bayangan liar merobek bagian leher seorang prajurit.
Yang lain menghantam dada kuda hingga hewan itu jatuh.
Barisan tengah mencoba berputar.
Terlalu sempit.
Kuda-kuda saling bertabrakan.
Sebagian terjatuh.
Sebagian mencoba mundur.
Mereka justru bertabrakan dengan barisan belakang.
Kepanikan menyebar.
“Makhluk bayangan!”
“Jangan biarkan mereka masuk!”
“Mana penyihir?”
“Tidak ada!”
Itulah kelemahan mereka.
Mereka tahu cara memakai bayangan untuk menakut-nakuti musuh.
Mereka tidak tahu cara melawan sesuatu yang terbuat dari bayangan ketika sesuatu itu menyerang balik.
Valrick menatap kekacauan dari atas kudanya.
Wajahnya kehilangan warna.
“Tidak…”
Satu makhluk besar melompat melewati tiga kuda.
Valrick menarik kekang.
“Arahkan pasukan ke kiri!”
Tidak ada yang mendengar.
Atau tidak ada yang mampu melakukannya.
Barisan di belakang mulai mundur.
Beberapa prajurit menjatuhkan tombak.
Satu perwira terlempar dari kudanya.
Bunyi kuku berubah menjadi bunyi retakan tulang.
Valrick menatap koridor sempit itu.