Kabut pagi belum terangkat sepenuhnya ketika Kael kembali ke Moorhaven.
Sisa embun menempel pada ujung rerumputan. Rumah-rumah kayu di dalam desa masih tertutup, sementara beberapa tungku mulai mengeluarkan asap tipis. Hutan di selatan tampak seperti dinding hitam yang menggantung di balik ladang.
Kael berdiri di depan saung tempat para pejuang tanpa faksi biasa berkumpul.
Hari itu tidak ada zirah.
Tidak ada pedang yang terhunus.
Sebagian duduk sambil membersihkan senjata. Yang lain sedang makan. Seorang perempuan iblis tertawa ketika rekannya mencoba memperbaiki tali busur yang putus. Tidak seorang pun mengira pagi itu akan membawa perang ke halaman mereka.
Kael berhenti beberapa langkah dari mereka.
Ia menatap satu per satu wajah.
Kemudian berlutut.
Beberapa kepala langsung terangkat.
“Apa yang dia lakukan?”
Kael menundukkan kepala.
“Mohon.” Suaranya rendah. “Aku perlu bantuan kalian semua untuk menolong temanku yang sedang diburu Umbra Veil.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Pemimpin mereka, pria yang pernah memimpin pertarungan di hutan, bangkit dari duduknya.
Ia mengenakan pakaian ringan dan pedang masih tersarung. Tatapannya jatuh pada Kael cukup lama.
“Kau.”
Kael mengangkat kepala.
“Kami tahu apa yang kau lakukan di Moorhaven.”
Pria itu menunjuknya.
“Berdiri.”
Kael menurut.
“Katakan apa yang terjadi.”
Kael menarik napas.
“Kylia memancing pasukan kerajaan menjauh dari Coppergold.”
Nama itu membuat beberapa orang saling pandang.
“Dia tahu kerajaan akan mengejar.”
Kael menunjuk peta kecil yang dibawanya.
“Dia akan membawa mereka ke jalur sempit di antara hutan dan pegunungan.”
Pemimpin itu melihat peta.
Kael melanjutkan.
“Pasukan kerajaan terlalu besar. Mereka tidak akan menjaga formasi jika target bergerak cepat.”
“Lalu?”
Kael menunjuk ke salah satu sudut ruangan.
Di sana, seorang pria berpakaian serba hitam duduk terikat. Tangannya diikat ke belakang. Tongkatnya telah diambil.
Penyihir yang beberapa waktu lalu mengacaukan peternakan Moorhaven.
“Dia.”
Pemimpin itu memandang tawanan.
“Bagaimana dia membantu?”
“Dia bisa membuat bayangan liar.”
Kael menatapnya.
“Kalau dia memanggil mereka di tempat yang tepat, pasukan kerajaan akan kehilangan formasi.”
Pemimpin tanpa faksi itu terdiam beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Dan kau?”
“Aku akan mengurus barisan yang tersisa.”
“Dengan belasan orang?”
Kael mengangguk.
“Aku tidak butuh mereka semua mati.”
Ia menunjuk pada zirah yang akan dikenakan pasukan kerajaan.
“Kalau mereka kehilangan kuda dan terjatuh, kita lucuti armor mereka.”
Salah satu pejuang mengangkat alis.
“Untuk apa?”
“Untuk pertahanan.”
Kael menatap mereka.
“Kita tidak tahu kapan kerajaan akan datang lagi. Kalian membutuhkan perlindungan yang lebih baik.”
Pemimpin itu mengangguk perlahan.
“Kau memikirkan setelah pertempuran.”
“Kalau kita selamat, akan ada setelahnya.”
Pria itu memandang tiga belas anggota lainnya.
Tidak ada perintah.
Hanya satu tatapan.
Kemudian mereka bangkit hampir bersamaan.
Pedang dikencangkan.
Busur diambil.
Pelindung tangan dipasang.
Tali kuda diperiksa.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sumpah.
Namun semuanya memahami kode yang sama.
Mereka akan membantu.
Pemimpin itu mendekat kepada Kael.
“Kau datang meminta kami mempertaruhkan hidup untuk seseorang yang bahkan bukan bagian dari kelompok kami.”
Kael mengangguk.
“Ya.”
“Kenapa?”
Kael menatap tanah sebentar.
“Karena dia tidak seharusnya mati hanya karena kerajaan memutuskan bahwa dia harus mati.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Sekarang aku mulai mengerti.”
Kael menoleh ke arah hutan.
Jauh di sana, suara kuda sudah mulai terdengar.
Perang belum berakhir.
--o--
Kylia berjalan melewati medan yang mulai sepi.
Tubuhnya terasa berat.
Pedang masih berada di tangannya.
Debu menempel pada pakaian dan darah mengering di lengan.
Valrick tergeletak beberapa meter di depan, satu tangan menekan kaki yang patah.
Ketika melihat Kylia mendekat, wajahnya langsung dipenuhi kebencian.
“Kau…”
Kylia tidak berhenti.
Valrick mengumpat.
Menyebut namanya.
Menyebutnya pengkhianat.
Menyebut Kael dengan berbagai hinaan.
Kylia berjalan terus.
“Pengecut.”
Ia berhenti.
Valrick melanjutkan.
“Kau bersembunyi di balik iblis!”
Kylia menatapnya.
“Cukup.”
Suara itu tidak keras.
Namun dingin.
Valrick terdiam.
“Kau sudah terlalu banyak bicara.”
Kylia kemudian berbalik.
Kael berdiri tidak jauh darinya.