Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #19

Resonansi

Malam telah menenggelamkan Coppergold ketika padang ilalang mulai berkilau oleh embun.

Di kejauhan, gugusan pegunungan membentuk dinding hitam yang mengitari wilayah permukiman. Cahaya bulan jatuh di atas ujung-ujung ilalang, membuat hamparan itu tampak seperti lautan kecil yang bergerak perlahan setiap kali angin lewat. Tidak ada suara manusia di sana. Hanya gesekan rumput, suara serangga malam, dan sesekali derit burung yang terbang rendah di antara lereng.

Di tengah padang itu, Kael bergerak.

Satu langkah.

Putar.

Tebas.

Batang ilalang terpotong.

Kapak kanan menyusul.

Dua batang lagi jatuh.

Kapak kiri bergerak dari bawah ke atas.

Satu garis hitam membelah udara.

Kael berputar pada tumit, menjatuhkan tubuh rendah, lalu melempar pisau kecil dari tangannya.

Sret.

Batang ilalang paling jauh terpotong tepat pada pangkal.

Pisau kembali ke telapak tangannya.

Ia tidak berhenti.

Kaki bergerak lebih cepat.

Tubuhnya merunduk di antara rumput.

Kapak kanan menebas.

Kapak kiri mengikuti.

Pisau menusuk.

Tiga senjata.

Tiga arah.

Satu gerakan.

Tidak ada lawan di hadapannya.

Hanya ilalang.

Namun Kael bertarung seperti menghadapi pasukan.

Setiap batang yang tumbang menjadi sasaran berikutnya. Ia tidak menyerang secara acak. Ia membangun ritme. Langkah pendek. Pergeseran pusat berat. Putaran pinggul. Pergantian tangan. Setiap senjata mengambil bagian dalam pola yang berbeda.

Pengalaman bertahun-tahun di guild terlihat dari cara tubuhnya bergerak tanpa perlu berpikir.

Ia tidak membuang satu gerakan pun.

Tebasan.

Putar.

Langkah.

Lompat.

Turun.

Kapak kiri menghantam sekumpulan batang.

Kapak kanan memotong yang lain.

Pisau terbang.

Kael meraihnya kembali.

Kemudian ia memaksa dirinya semakin cepat.

Ilalang berjatuhan seperti hujan.

Napasnya mulai berat.

Luka di rusuknya kembali terasa.

Ia tidak peduli.

Ia terus bergerak.

Setiap kali pikirannya mencoba kembali kepada satu pertanyaan, ia menebas lebih keras.

Guild.

Kapak.

Kylia.

Pisau.

Pengkhianatan.

Kapak.

Penebusan.

Tebasan.

Ia berhenti mendadak.

Beberapa batang ilalang yang terpotong masih melayang sebelum jatuh ke tanah.

Kael menunduk.

Napasnya memburu.

Tangannya sedikit gemetar.

Ia menatap kedua kapaknya.

“Sudah cukup.”

Namun dirinya sendiri tahu itu bohong.

Ia tidak sedang berlatih.

Ia sedang menghukum dirinya sendiri.

Ia menyesali bahwa ia meninggalkan Abyssal Sovereigns. Guild itu telah memberinya tempat ketika tidak ada siapa pun yang menginginkannya. Memberinya makanan. Senjata. Pekerjaan. Identitas.

Semua itu sekarang terasa seperti hutang.

Namun di sisi lain, ketika mengingat Coppergold, ketika mengingat bagaimana penduduk desa dapat selamat karena ia memilih berdiri di sisi yang berlawanan dari kontraknya, ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa lega.

Setidaknya sekali.

Ia melakukan sesuatu bukan demi bayaran.

Bukan demi posisi.

Bukan demi guild.

Ia melakukan sesuatu karena ia memilih.

Kael mengembuskan napas.

“Kapan memilih bisa terasa seperti kalah?”

Suara langkah dari belakang membuatnya menoleh.

Seseorang berjalan di antara ilalang.

Kael langsung mengangkat salah satu kapak.

Kemudian berhenti.

Kylia muncul dari balik rerumputan.

“Benar disini rupanya.”

Kael menurunkan senjata.

Kylia membawa keranjang kecil di satu tangan dan kantong air di tangan lain.

Ia mengenakan pakaian sederhana seperti perempuan desa pada umumnya. Rambutnya diikat longgar. Tidak ada armor. Tidak ada tanda bahwa ia pernah memimpin pasukan.

Kylia berjalan mendekat.

“Masih berlatih?”

Kael mengangkat bahu.

“Kadang.”

Kylia melihat ilalang yang hampir habis di sekitar mereka.

“Kadang?”

Kael menatap sekeliling.

“Mungkin agak lama.”

Kylia tersenyum tipis.

Ia duduk di atas tanah.

Keranjang diletakkan di sampingnya.

“Kau seharusnya tidak memaksakan diri.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau masih terluka.”

Kael melihat rusuknya.

Kemudian menghela napas.

“Luka tidak suka menunggu.”

“Begitu pula kesembuhan.”

Kael diam.

Kylia membuka keranjang.

Aroma roti segar langsung menyebar.

Lihat selengkapnya