Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #20

Kompetisi Tanpa Ujung

Angin laut membawa bau garam sampai ke permukiman klan di tenggara jauh wilayah iblis.

Langit sore kelabu, tetapi garis cakrawala di balik tebing masih menyimpan warna jingga yang perlahan padam. Ombak menghantam dinding batu jauh di bawah sana, berulang-ulang, dengan suara berat yang terdengar seperti dentuman dari dunia lain. Rumah-rumah klan berdiri rapat di atas tanah berbatu, terlindung pagar kayu dan dinding rendah yang dibangun menghadap laut.

Vynn berjalan seorang diri menuju gapura.

Langkahnya ringan.

Tidak ada suara besi.

Tidak ada zirah berat.

Hanya pakaian hitam ketat yang memudahkan pergerakan dan beberapa bilah belati yang tersembunyi di balik pinggang, paha, dan punggung bawah.

Ia berhenti tepat di bawah gapura.

Tangannya menyentuh bekas olesan cairan yang melingkar di salah satu batu penanda.

Tipis.

Sudah mengering.

Vynn mendekatkan wajah.

Ia mencium aromanya.

Pahit.

Sedikit seperti getah terbakar.

Ia mengenalinya.

Cairan penanda milik Abyssal Sovereigns.

Guild menggunakan olesan itu untuk menandai permukiman yang kelompok usia potensialnya telah selesai direkrut melalui jaringan kontrak. Tidak semua orang di klan akan tahu makna sebenarnya. Bagi pengawas guild, tanda itu berarti sederhana.

Sudah diambil.

Sudah diproses.

Jangan mengulang.

Vynn mengusap cairan kering itu dengan ujung jari.

“Dua bulan.”

Perkiraannya tidak meleset banyak.

Ia menatap permukiman itu.

Tidak ada pemuda yang cukup kuat berkeliaran di sekitar rumah utama.

Sebagian telah pergi.

Sebagian mungkin sedang berada di wilayah lain.

Sebagian telah menjadi bagian dari pasukan kontrak guild.

Vynn mendecakkan lidah.

“Sekali lagi.”

Ia mundur dari gapura.

“Si dua kapak itu selalu lebih cepat.”

Ia membenci kalimat itu.

Selama bertahun-tahun, Kael selalu berada sedikit di depannya dalam catatan penyelesaian misi. Tidak jauh. Kadang hanya satu atau dua poin. Kadang hanya unggul karena jumlah target. Tetapi cukup untuk membuat Vynn datang ke tempat-tempat seperti ini dengan satu tujuan yang tidak pernah ia akui kepada siapa pun.

Mengalahkan Kael.

Masalahnya, Kael selalu menemukan cara untuk bergerak lebih cepat.

Vynn menendang kerikil.

“Dua kapak besar.”

Ia menggerakkan kedua tangannya.

“Dua kapak besar di punggung, tapi masih bisa bergerak lebih cepat daripada aku yang cuma membawa belati.”

Ia mendecakkan lidah.

“Tidak masuk akal.”

--o--

Matahari hampir tenggelam ketika Vynn duduk di tepi tebing.

Laut menghampar jauh di bawah.

Ombak putih pecah di batu hitam.

Vynn membuka bekal.

Roti keras.

Sangat keras.

Ia menggigit.

Terlalu kering.

Ia tetap mengunyah.

Hari itu hasilnya lima puluh.

Lima puluh jiwa berhasil ditautkan ke dalam kontrak.

Lima puluh.

Angka yang menurutnya seharusnya memuaskan.

Namun tidak.

Ia menatap tangan sendiri.

Jari-jari yang biasa memegang belati.

Jari-jari yang telah membunuh.

Yang telah menggores segel.

Yang telah menutup kontrak.

Ia tahu mengapa ia melakukan semua ini.

Guild memberi emas.

Emas membeli makanan.

Makanan membuat keluarga tetap hidup.

Sederhana.

Setiap iblis yang mengambil misi guild tahu itu.

Tidak ada yang benar-benar bekerja hanya untuk kebesaran guild.

Mereka semua memiliki kebutuhan.

Utang.

Keluarga.

Ambisi.

Rasa takut.

Vynn tidak berbeda.

Ia memakan sisa roti.

Kemudian berdiri.

“Lima puluh.”

Ia menatap laut.

“Setidaknya cukup untuk pulang.”

Vynn mengemasi bekal.

Ia meninggalkan tebing.

Target berikutnya adalah markas guild.

Ia ingin menukar hasil kerjanya dengan emas sebelum malam semakin larut.

--o--

Bangunan utama Abyssal Sovereigns masih ramai ketika Vynn masuk.

Kristal-kristal cahaya menyala di sepanjang dinding.

Para pekerja keluar masuk.

Beberapa iblis membawa peti.

Beberapa lainnya menyeret tubuh-tubuh hasil misi.

Di balik meja penerimaan, resepsionis guild mengangkat kepala.

“Vynn.”

Ia langsung mengenali wajah itu.

“Selamat kembali.”

Vynn menaruh gulungan laporan.

“Kontrak.”

Resepsionis membuka catatan.

“Dan misi pembunuhan senyap?”

“Dua belas target.”

“Semua selesai?”

“Semua.”

Resepsionis memeriksa segel satu per satu.

Kemudian tersenyum.

“Seperti biasa.”

Ia mengambil sekantung koin emas dari laci.

Kantong itu cukup besar untuk digenggam satu tangan.

Ia menyerahkannya.

“Pembayaran lengkap. Tambahan karena target kontrak melebihi rata-rata.”

Vynn mengambilnya.

Berat.

Ia tersenyum kecil.

“Akhirnya.”

Resepsionis mengangkat alis.

“Tidak puas?”

“Belum.”

Vynn berbalik.

Kemudian matanya tertuju pada papan ranking.

Papan itu besar.

Nama-nama iblis tertulis dari atas ke bawah.

Skor penyelesaian quest.

Poin misi.

Jumlah kontrak.

Kecepatan.

Kinerja.

Bagi sebagian pekerja guild, papan itu lebih penting daripada senjata mereka sendiri.

Vynn menatap.

Matanya bergerak cepat.

Ia mencari namanya.

Ada.

Namun di atasnya—

Nama yang dikenalnya.

KAEL.

Vynn berhenti.

Ia sudah menduga.

Namun sesuatu tampak berbeda.

Di samping nama itu ada simbol tengkorak hitam.

Vynn mendekat.

Tengkorak.

Ia pernah melihat simbol tersebut.

Dibuang.

Berkhianat.

Tidak lagi dihitung sebagai anggota.

Vynn berbalik cepat.

Kedua telapak tangannya menghantam meja resepsionis.

“Jelaskan.”

Resepsionis terkejut.

“Vynn—”

“Kael.”

Lihat selengkapnya