Tengah hari membakar kawasan hutan buangan di belakang kompleks utama Abyssal Sovereigns.
Panas menempel pada batu-batu arena, membuat udara di atas permukaannya bergetar. Dari kejauhan terdengar suara teriakan para petarung yang sedang berlatih, denting logam dari arena lain, dan bunyi berat tubuh makhluk bayangan yang menghantam tanah. Bau keringat, tanah, minyak senjata, dan energi bayangan bercampur menjadi aroma khas tempat yang sejak puluhan tahun terakhir menjadi tanah bagi mereka yang ingin membuktikan diri.
Vynn berdiri sendirian di tepi arena.
Ia memandang gelanggang di hadapannya.
Arena pelatihan Abyssal Sovereigns tidak dibuat seperti lapangan datar. Bongkahan batu menjulang dari tanah dalam berbagai ukuran, sebagian setinggi dada, sebagian hanya setengah lutut, beberapa memanjang miring seperti tulang punggung yang muncul dari bumi. Permukaannya tidak rata. Ada retakan, sudut tajam, dan celah sempit yang memaksa siapa pun yang bertarung di dalamnya untuk terus memindahkan pusat berat.
Tempat itu bukan sekadar medan latihan.
Guild menggunakannya sebagai tempat menguji petarung.
Tempat mengajari rekrutan.
Dan, pada hari-hari tertentu, tempat mempertontonkan pertarungan bagi ribuan orang yang bersedia membayar.
Bagi banyak iblis, arena itu adalah panggung.
Bagi Vynn, arena itu selalu terasa seperti cermin.
Di sana, kemampuan seseorang tidak dapat disembunyikan.
Enam tahun lalu, ketika usianya masih jauh lebih muda, ia pertama kali berdiri di tempat ini dengan hanya beberapa bilah pisau dan satu keyakinan besar: ia harus menjadi yang terbaik.
Ingatan itu datang begitu jelas sampai Vynn menutup mata.
Kemudian masa lalu menyeretnya ke belakang.
--o--
Enam tahun lalu, suara pisau menembus kayu terdengar bertubi-tubi.
Tak.
Tak.
Tak.
Tak.
Empat bilah berturut-turut menancap tepat di pusat dada manekin.
Vynn muda menarik napas, lalu mengangkat satu pisau lagi.
Manekin kayu di hadapannya berbentuk seperti iblis humanoid, dibungkus jerami padat di bagian dada dan kepala. Di arena lain, sasaran berbentuk binatang-binatang aneh berdiri berjajar. Ada yang menyerupai serigala bertaring panjang, burung dengan sayap terbuka, sampai makhluk besar bertanduk.
Vynn melempar.
Pisau berputar satu kali.
Melewati sisi manekin.
Kemudian membelok setelah mengenai batu kecil yang ia lemparkan sebelumnya.
Bilah itu menghantam leher sasaran dari samping.
Suara sorakan kecil muncul dari belakang.
“Lagi!”
Vynn menoleh.
Beberapa iblis perempuan berdiri di luar pagar arena.
Mereka bukan prajurit.
Sebagian pekerja guild.
Sebagian penduduk sipil dari permukiman sekitar.
Dalam sepuluh hari terakhir, mereka mulai mengenal namanya.
Vynn.
Pemuda baru.
Assassin.
Gerak cepat.
Lemparan akurat.
Dan, yang paling membuat banyak orang membicarakannya, ia tahu cara menggunakan medan.
Ia tidak sekadar melempar pisau.
Ia menggunakan permukaan batu.
Dinding.
Benda kecil.
Sudut.
Bahkan gravitasi.
Satu bilah dapat tampak meleset sebelum tiba-tiba menghantam titik vital dari arah yang tidak disangka.
Vynn tersenyum.
Ia menyukai perhatian.
Bahkan sangat menyukainya.
Seorang petarung lain menepuk bahunya.
“Kau cepat.”
Vynn mengangkat alis.
“Aku tahu.”
“Tidak merendah sedikit?”
“Untuk apa?”
Tawa muncul.
Vynn kembali ke sasaran.
Pisau berikutnya menancap tepat di mata manekin.
Sorak semakin besar.
Pada hari kesepuluh, namanya sudah mulai beredar.
“Dia akan jadi assassin terbaik.”
“Lemparannya gila.”
“Kalau dia terus seperti ini, bahkan Lord Mireth akan memperhatikannya.”
Kalimat terakhir itu membuat Vynn lebih tegak.
Lord Mireth.
Nama itu memiliki bobot.
Bagi seorang rekrutan baru, diperhatikan oleh pemimpin Abyssal Sovereigns berarti lebih dari sekadar pujian.
Itu berarti jalan menuju posisi yang lebih tinggi.
Vynn mulai membayangkan dirinya.
Papan ranking.
Misi besar.
Emas.
Nama.
Dan mungkin suatu hari, ia akan berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi daripada semua orang yang sekarang memandangnya.
Hari kesebelas datang.
Vynn mendaftarkan diri dalam ujian tanding.
Bukan misi.
Bukan kontrak.
Sekadar pertarungan hiburan yang diadakan guild.
Arena akan dipenuhi penonton.
Pekerja.
Petarung.
Warga sipil.
Bahkan beberapa pedagang dari wilayah sekitar.
Di satu sisi stadion, tempat duduk mewah berdiri di atas panggung batu.
Lord Mireth duduk di sana.
Dua pengawal bertubuh besar berada di belakangnya.
Vynn melihat ke arah itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tahu persis siapa yang ingin ia lihat.
Dan Lord Mireth memang menatap ke arena.
Namun bukan hanya Vynn yang berada di sana.
Dua makhluk bayangan liar masuk dari pintu lain.
Tubuh keduanya jauh lebih besar daripada makhluk yang biasa digunakan untuk latihan.
Bayangan mereka dipadatkan.
Lapisan tubuhnya menebal.
Otot yang sebenarnya bukan otot menonjol seperti besi yang dipaksa hidup.
Seorang penyihir pengendali berdiri di luar batas arena.
Begitu gerbang ditutup, seluruh stadion bergemuruh.
Vynn menggenggam beberapa pisau.
Ia tersenyum.
“Mulai.”
Makhluk pertama menerjang.
Vynn bergerak.
Batu di bawah kakinya memaksanya melompat.
Ia mendarat di atas bongkahan batu miring.
Tiga pisau terbang.
Makhluk itu memiringkan tubuh.
Bilah menancap.
Namun tidak menembus.
Vynn mengerutkan dahi.
“Bagus.”
Makhluk kedua melompat.
Ia hampir menghantam Vynn.
Vynn memutar tubuh.
Kaki belakangnya mengenai sisi batu.
Ia terangkat.
Mendarat di batu lain.
Dua pisau lagi.
Tidak cukup.
Satu bilah memantul.
Makhluk pertama menerjang.
Vynn berguling.
Cakar melewati rambutnya.
Ia berdiri.
Melempar.
Lagi.
Tidak tembus.
Kulit bayangan terlalu padat.
Penonton mulai bereaksi.
Sebagian bersorak.
Sebagian mulai menertawakan.
Vynn tidak mendengar.
Fokusnya hanya pada gerakan.
Makhluk kedua bergerak menyamping.
Batu membuat arah serangan tidak lurus.
Vynn menggunakan itu.
Ia melompat di atas kepala makhluk pertama, melempar dua pisau ke belakang tanpa menoleh.
Satu mengenai bahu.
Satu mengenai kaki.
Masih tidak cukup.