Pagi di luar ibu kota Kerajaan Solmaria terasa terlalu terang untuk seseorang yang selama bertahun-tahun terbiasa hidup di bawah langit kelabu wilayah iblis.
Matahari jatuh tanpa terhalang awan di atas perbukitan. Hamparan ladang hijau bergoyang perlahan diterpa angin, sementara jauh di balik bukit, kepulan asap putih naik dari kawasan pertambangan yang menjadi salah satu urat nadi kerajaan. Jalan-jalan desa bersih. Pagar rumah diperbaiki. Saluran air mengalir tanpa lumpur.
Tidak ada menara pengawas tua yang dibiarkan runtuh.
Tidak ada benteng yang ditinggalkan.
Kerajaan Solmaria, setidaknya di daerah ini, masih terasa hadir.
Namun Kael tidak sedang memikirkan kerajaan.
Ia sedang jatuh.
Tubuhnya menghantam tanah berumput dengan suara pendek. Pedang kayu terlepas dari tangan dan terguling beberapa jengkal.
Kylia berdiri di atasnya.
Pedang kayu berada tepat di depan wajah Kael.
“Menyerah?”
Kael mengembuskan napas panjang.
“Tidak.”
Kylia tertawa.
“Padahal sudah jatuh.”
“Karena kau menjegal.”
“Bukankah itu bagian dari pertarungan jarak dekat?”
Kael menatapnya dari bawah.
“Licik.”
“Efektif.”
Kylia menurunkan pedangnya.
“Bangun.”
Kael duduk sambil mengusap punggung.
“Ini ronde pertama.”
“Dan kau kalah.”
Kael mengambil pedang kayu.
“Kita ulang.”
Kylia tersenyum.
“Sekarang kau boleh menggunakan cara bertarungmu.”
Kael berdiri.
Ia memutar bahunya.
Sudah beberapa tahun ia terbiasa memegang dua senjata sekaligus. Dua kapak. Dua arah. Keseimbangan tubuh yang terus membagi perhatian antara tangan kanan dan kiri. Saat hanya memegang satu pedang, seluruh pola geraknya terasa berbeda.
Tidak nyaman.
Hampir seperti berjalan hanya dengan satu kaki.
Kylia memahami itu.
“Mulai.”
Kael maju.
Kali ini dia tidak langsung menyerang. Ia menguji jarak dengan satu langkah pendek.
Kylia menunggu.
Kael mengayunkan pedang dari kanan.
Kylia menangkis.
Kayu beradu.
Tak.
Kael memutar pergelangan lalu mengubah sudut.
Kylia mundur setengah langkah.
Pedang Kael menyapu udara.
Kylia masuk ke dalam jarak serang.
Kael segera mundur.
“Jangan terlalu menjaga ujung pedang.”
Kylia menyerang.
“Kenapa?”
“Karena jarak dekat tidak memberi waktu untuk memikirkan ujung.”
Pedang mereka kembali beradu.
Kylia menggeser kaki.
Menyerang bahu.
Kael menahan.
Kemudian balas ke sisi tubuh.
Kylia menunduk.
“Justru karena jarak dekat, kau harus mengendalikan pusat gerakan.”
Kael memutar tubuh.
“Begini?”
Ia menggunakan bahu sebagai pengalih, kemudian menebas.
Kylia menangkis tepat pada waktunya.
“Lebih baik.”
Kael tersenyum.
“Terima kasih.”
“Jangan senang dulu.”
Kylia menerjang.
Serangan berturut-turut.
Atas.
Kanan.
Bawah.
Kael menahan semuanya.
Pedang kayu berbunyi cepat.
Tak.
Tak.
Tak.
Kael mundur melewati dua batu kecil.
Kylia tetap mengejar.
Ia tidak bergerak secara liar. Setiap langkahnya menutup ruang yang mungkin digunakan Kael untuk menghindar. Ia membaca arah bahu, posisi pinggang, bahkan cara telapak kaki Kael berpindah.
Kael akhirnya melompat.
Kylia mengikuti.
Pedang mereka bertemu di udara.
Kael mendorong.
Kylia memutar.
Kael mendarat.
“Bagaimana?”
Kylia tersenyum.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Kau terbiasa bertarung dengan dua senjata. Itu membuat sisi kiri tubuhmu sedikit lebih dominan daripada yang kau sadari.”
Kael mengangkat alis.
“Benarkah?”
“Ketika kau tertekan, tubuhmu masih mencari senjata kedua.”
Kylia menunjukkan dengan ujung pedang.
“Kau membuka sisi ini.”
Kael menunduk.
Memeriksa.
“Benar.”
“Dan kau terlalu sering mengandalkan kecepatan.”
“Itu bekerja.”
“Selama lawanmu lebih lambat.”
Kael tertawa.
“Jadi kau sedang mengatakan aku terlalu cepat?”
“Bukan.”
Kylia mengambil posisi.
“Aku bilang kau kadang terlalu percaya bahwa kecepatan selalu menyelesaikan masalah.”
Kalimat itu membuat Kael diam sebentar.
Lalu ia tersenyum.
“Baik.”
Mereka mulai lagi.
Kali ini gerakan Kael berubah.
Lebih pendek.
Lebih hemat.
Tidak membuang tenaga.
Serang.
Tahan.
Pindah.
Kylia membalas.
Senyum muncul di wajah keduanya hampir bersamaan.
Tidak ada ketegangan seperti di medan perang.
Tidak ada pertanyaan tentang guild.
Tidak ada kerajaan.
Hanya dua orang yang menikmati kesempatan langka untuk saling belajar.
Kael bergerak ke sisi kiri.
Kylia menutup.
Kael berputar.
Kylia mengejar.
Pedang bertemu.
Mereka melompati batu rendah.
Kael memanfaatkan sisi miringnya untuk mendapatkan sudut lebih tinggi.
Kylia memutar di bawah.
Kayu beradu lagi.
Kael tertawa ketika hampir kehilangan keseimbangan.
“Jangan tertawa!”