Kota itu mulai menyalakan lampu ketika matahari turun di balik garis atap.
Cahaya keemasan memantul dari jendela-jendela batu, dari papan toko, dari tiang-tiang lampu yang berjajar di sepanjang jalan utama. Tidak seperti desa-desa terluar Umbra Veil yang sering hidup dalam bayang-bayang istana, kota di wilayah Solmaria ini terasa seperti sesuatu yang benar-benar dipelihara. Jalan-jalan dibersihkan. Pedagang masih membuka kios meski petang telah turun. Kereta pos melewati persimpangan dengan lonceng kecil yang berdenting teratur.
Kael berjalan di samping Kylia tanpa tergesa.
Mereka tidak sedang diburu.
Tidak malam itu.
Untuk sementara, dunia membiarkan mereka hidup sebagai dua orang biasa.
“Kau bilang mau mencari apa?” tanya Kylia.
“Peralatan.”
“Senjata lagi?”
“Bukan senjata.”
Kylia menatap dua kapak yang menggantung di punggung Kael.
“Setiap kali kau bilang bukan senjata, biasanya tetap ada senjata.”
Kael tersenyum tipis.
“Kau mulai mengenalku.”
Mereka berbelok ke jalan yang lebih ramai.
Di ujungnya berdiri sebuah bangunan besar dengan papan kayu berukir lambang pedang, kapak, tombak, dan lingkaran kristal. Pintu depannya terbuka lebar.
Dari dalam terdengar suara logam beradu.
Kael menatap papan.
“Sepertinya ini.”
Mereka masuk.
--o--
Bagian dalam toko jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Senjata dipajang hampir di setiap dinding.
Pedang satu tangan.
Pedang dua tangan.
Tombak dengan ujung memanjang seperti paruh burung.
Kapak dengan bilah berlekuk.
Tongkat logam.
Bahkan beberapa senjata yang bentuknya begitu aneh sampai Kael berhenti beberapa detik hanya untuk memandangnya.
“Solmaria ternyata punya selera buruk.”
Kylia menahan tawa.
“Jangan menghina senjata orang.”
“Aku hanya jujur.”
Di sisi lain toko, beberapa petualang sedang mencoba tombak.
Seorang perempuan cantik mengenakan pakaian pelayan toko berdiri di samping mereka, menjelaskan sesuatu dengan senyum profesional.
“Kami sering menghadapi monster di kawasan utara,” kata salah seorang petualang. “Jadi kami membutuhkan tombak yang bisa menahan benturan berat.”
Perempuan itu mengangkat ujung tombak.
“Produk ini salah satu yang paling kuat. Bilahnya ditempa berlapis dan bagian pangkalnya diperkuat untuk menghadapi benturan langsung.”
“Benar-benar tahan?”
“Silakan uji sendiri.”
Petualang itu tersenyum puas.
Kylia mendekatkan wajah ke Kael.
“Monster?”
Kael menoleh.
“Apa?”
“Kata mereka monster.”
Kael memandang rombongan itu.
“Entahlah.”
“Kau tidak tahu?”
“Aku iblis, bukan penjaga perbatasan.”
Kylia mengangguk.
“Aku juga tidak tahu.”
Keduanya lanjut berjalan.
Di sudut lain, seorang laki-laki sedang mencoba armor tanpa helm.
Ia berdiri di depan cermin.
“Bagaimana?”
Pelayan perempuan di sampingnya tersenyum.
“Cocok sekali.”
“Kelihatan gagah?”
“Sangat.”
Pria itu memutar tubuh.
“Bahunya terlalu besar?”
“Justru terlihat kuat.”
Kael menatap sesaat.
Kylia menahan tawa.
“Kenapa?”
“Dia benar-benar percaya dirinya sendiri.”
“Biarkan.”
Kael menggeleng.
“Solmaria ternyata punya banyak jenis monster.”
Kylia menepuk lengannya.
“Kau akan kena masalah kalau dia dengar.”
“Untung dia pakai armor.”
Mereka akhirnya mencapai meja kerja di bagian belakang.
Seorang pria bertubuh besar sedang duduk di sana.
Lengannya penuh bekas luka kecil akibat pekerjaan logam. Ia memakai alat dengan lensa pembesar pada satu matanya, sementara di meja terletak sebuah kristal mineral panjang yang sedang diperiksa dengan sangat teliti.
Ia menulis beberapa angka.
Ketika menyadari ada dua orang di depannya, ia mengangkat kepala.
“Selamat datang.”
Ia melepas alat pembesar.
“Pendatang baru?”
Kael mengangguk.
“Bisa dibilang.”
“Namaku Arelith.”
Pria itu tersenyum.
“Pemilik toko ini.”
Kael menyentuh salah satu gagang kapaknya.
Ia menarik keduanya dari punggung dan menaruhnya di meja.
Arelith langsung terdiam.
Matanya berpindah dari satu kapak ke kapak lainnya.
“Dua?”
Kael mengangguk.
“Dua.”
Arelith menyentuh salah satu gagang.
“Sulit mengendalikan beratnya dengan satu tangan.”
“Terbiasa.”