Pagi belum sepenuhnya melepaskan kabut dari hutan ketika roda-roda kereta kuda mulai menggerus jalan tanah yang dipenuhi kerikil. Cahaya matahari menyusup di antara dahan-dahan tinggi, jatuh dalam garis-garis pucat ke permukaan jalan yang lembap.
Udara masih menyimpan bau tanah basah, dedaunan tua, dan kotoran kuda yang terbawa angin dari arah jalur utama. Di kawasan seperti ini, jalan tidak pernah benar-benar ramai. Hanya ada satu jalur utama yang menghubungkan permukiman-permukiman kecil dengan wilayah Kerajaan Solmaria, membuat setiap kereta yang melintas mudah dikenali dari kejauhan.
Di sebuah gudang pertanian tua yang berdiri sedikit menjauh dari jalan, seorang pria sedang memanggul seikat rumput liar menuju pintu bangunan. Pakaian lusuh berwarna cokelat kusam membungkus tubuhnya, lengkap dengan celana panjang yang penuh noda tanah dan sepatu kasar yang tampak seperti milik seorang petani biasa. Rambutnya sengaja dibiarkan tidak teratur. Tidak ada lambang kerajaan. Tidak ada tanda organisasi. Bahkan tangannya tampak kasar akibat pekerjaan yang selama bertahun-tahun seharusnya dilakukan seorang pencari rumput.
Namun di balik pinggang belakangnya terselip sesuatu yang tidak sesuai dengan penampilannya.
Sebuah pisau bersarung indah dengan gagang hitam mengilap. Ukirannya terlalu halus untuk dimiliki seorang petani.
Pria itu bernama Xavier.
Setidaknya, itulah nama yang digunakan di wilayah ini.
Ia menghentikan langkah ketika mendengar sesuatu dari kejauhan.
Derap kuda.
Matanya bergerak menuju jalan utama.
Sudah waktunya.
Xavier menurunkan rumput yang dipanggulnya dan mengusap kedua telapak tangannya pada celana. Ia telah menunggu sejak pagi, berpura-pura sibuk dengan pekerjaan sederhana agar keberadaannya tidak menimbulkan kecurigaan. Beberapa kali ia melirik jalan, memastikan tidak ada pengamat lain di sekitar hutan.
Surat itu seharusnya datang dari arah Solmaria.
Tidak memiliki cap kerajaan.
Tidak memiliki segel resmi.
Tidak akan mencantumkan nama Umbra Veil di bagian mana pun.
Begitulah cara jaringan intelijen bekerja ketika informasi tidak boleh diketahui oleh siapapun bahkan jika surat itu jatuh ke tangan yang salah.
Xavier menyipitkan mata.
Derap itu semakin dekat.
--o--
Arden sudah mulai mengantuk ketika melihat gudang pertanian tua di depan.
Ia duduk di kursi depan kereta kuda dengan tubuh sedikit membungkuk, satu tangan kanannya terlilit tali kemudi agar tidak mudah terlepas sementara tangan kirinya memegang tumpukan dokumen yang dijilid tali. Kertas-kertas itu berisi daftar penerima surat yang telah disusun sesuai arah jalur pengantaran. Ia hanya perlu mengikuti urutan tersebut dan memastikan tidak ada satu pun surat yang tertukar.
"Sebentar lagi berhenti di gudang tua," gumamnya.
Kuda di depannya meringkik pendek.
Arden menarik tali sedikit.
"Ya. Aku juga tahu."
Kereta pos yang dibawanya bukan kereta tertutup seperti milik para bangsawan. Bentuknya lebih menyerupai bak terbuka dengan struktur payung besar di atasnya. Di bagian belakang, beberapa kotak kayu disusun membentuk huruf U sehingga Arden dapat mengambil surat dengan cepat tanpa harus membongkar seluruh muatan. Setiap kotak memiliki pengunci sederhana dan penanda jalur. Sistem itu memang tidak mewah, tetapi cukup praktis untuk jaringan jalan luar kerajaan yang terbatas.
Arden kembali melihat daftar di tangannya.
Nama berikutnya sudah dekat.
Xavier.
Ia belum pernah bertemu pria itu.
Tidak tahu seperti apa wajahnya.
Yang ia tahu hanya bahwa alamatnya adalah sebuah gudang pertanian tua di sisi jalan.
Arden mengangkat wajah ketika melihat seorang pria sedang memanggul rumput di depan gudang.
"Sepertinya itu orangnya."
Kuda kembali melangkah.
Xavier yang sedang menurunkan rumput ke dalam gudang mendengar derap roda semakin jelas. Tubuhnya menegang sepersekian detik sebelum ia memaksa dirinya kembali bergerak seperti petani biasa. Ia menoleh.
Sebuah kereta pos muncul dari balik pepohonan.
Arden mengangkat satu tangan.
"Selamat pagi!"
Xavier membalas dengan anggukan.
"Siang."
Arden tersenyum.
"Kita belum siang."
"Sudah terasa."
Arden tertawa pendek dan menghentikan kereta tepat di depan gudang. Kuda mengibaskan ekornya sementara roda belakang berhenti beberapa jengkal dari pagar kayu yang telah lapuk.
Xavier mendekat.
"Xavier?"
"Ya."
"Surat untuk Anda."
Arden mengambil jilidan dokumen dari tangan kirinya lalu melirik daftar penerima.
"Xavier, penghuni gudang pertanian lama di jalur utara. Benar?"
"Benar."
"Bagus."
Arden berbalik menuju kotak kayu.
Ia membuka pengunci salah satu kotak berbentuk U, kemudian memeriksa beberapa amplop yang telah disusun berdasarkan nama. Tangannya bergerak cepat tetapi tidak terburu-buru.
Xavier memperhatikan.
"Anda selalu hafal nama penerima?"
"Kalau tidak hafal, saya akan tersesat."