Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #25

Semuanya Runtuh

Matahari menggantung tepat di atas kota ketika bunyi besi menghantam batu memenuhi udara. Panas memantul dari tanah terbuka dan dinding-dinding bangunan yang belum selesai, membuat napas terasa berat bahkan sebelum seseorang mengangkat beban.

Debu kapur melayang seperti kabut tipis di antara tiang-tiang kayu, menempel pada rambut, kulit, dan pakaian para pekerja. Di tengah kompleks pembangunan milik seorang saudagar kaya, belasan manusia dan iblis bekerja tanpa banyak bicara. Mereka mengangkat, menggali, memotong, menyeret, dan memecahkan batu dengan ritme yang hampir menyerupai mesin yang tidak mengenal lelah.

Kael mengusap keringat dari pelipisnya dengan lengan baju.

Tangannya terasa berat.

Bukan karena ia tidak mampu mengangkat beban. Ia hanya tidak terbiasa menggunakan tubuhnya untuk pekerjaan seperti ini.

Bertahun-tahun tubuhnya dibentuk untuk bergerak cepat, melompat, memutar, menghindar, lalu menghantam titik yang tepat. Tubuh seorang petarung. Bukan tubuh seorang buruh.

Namun sekarang kedua tangannya mencengkeram ujung papan kayu panjang yang harus dipindahkan bersama Darrel.

"Angkat."

Darrel menarik napas dalam.

"Sudah."

Mereka mengangkat papan itu bersamaan.

Beberapa langkah.

Lima.

Enam.

Tujuh.

Darrel mulai terengah-engah.

"Kenapa pekerjaanmu dulu tidak pernah seperti ini?"

Kael meliriknya.

"Karena dulu pekerjaanku membunuh orang."

Darrel terdiam.

Kael kembali berjalan.

"Itu bukan jawaban yang membuatku lebih ringan."

"Memang bukan."

Di sisi lain, Sariel membawa sebuah gelondongan kayu seorang diri. Ia mengangkatnya ke bahu dengan gerakan yang begitu mudah hingga beberapa pekerja lain sempat melirik. Tubuhnya yang terlatih membuat pekerjaan tersebut terlihat hampir sederhana.

Darrel menatapnya dengan kesal.

"Dia tidak normal."

Kael mengangguk.

"Memang."

Sariel menoleh.

"Aku dengar."

Darrel segera memalingkan wajah.

Kael hampir tersenyum.

Sudah hampir seminggu mereka bekerja di tempat itu.

Tujuh hari tanpa pedang.

Tanpa kapak.

Tanpa misi.

Tanpa darah.

Hanya kayu, batu, tanah, keringat, dan upah yang dibayarkan setiap sore.

Aneh.

Namun tidak buruk.

Setidaknya begitulah yang mulai dirasakan Kael.

Ia tidak lagi terbangun dengan kebiasaan memeriksa pintu dan jendela sebelum tidur. Tidak lagi menghabiskan waktu menghitung kemungkinan musuh memasuki tempat persembunyian mereka. Tidak lagi memikirkan apakah langkah kaki di luar pondok adalah seorang prajurit kerajaan atau pemburu bayaran.

Sekarang yang harus ia pikirkan hanyalah apakah papan kayu yang diangkatnya akan jatuh menimpa kakinya.

Bagi Kael, itu hampir terasa seperti kedamaian.

--o--

"Kael!"

Ia menoleh.

Seorang iblis paruh baya berdiri tidak jauh darinya. Tubuhnya masih tegap meski rambut hitamnya telah bercampur uban. Lengannya penuh urat dan bekas luka kecil akibat pekerjaan bertahun-tahun. Ia bukan mandor, tetapi salah satu pekerja yang paling lama berada di sana.

Kael menaruh papan yang baru dibawanya.

"Ada apa?"

Pria itu mendekat sambil membawa kendi air.

"Sudah hampir seminggu."

Kael mengangguk.

"Begitu rupanya."

"Begitu rupanya?" Pria itu tertawa. "Kau tidak menghitung?"

"Tidak."

"Bagus. Berarti kau menikmati pekerjaan."

Kael menerima kendi itu dan minum.

Airnya hangat.

Tetapi tetap menyegarkan.

Pria itu melirik Darrel dan Sariel yang sedang memindahkan material.

"Dua temanmu juga rajin."

Kael melihat mereka.

Darrel sedang mengangkat batu dengan wajah seperti ingin membunuh batu tersebut.

Sariel tampak tidak kesulitan sama sekali.

"Mereka pekerja baru."

"Semua orang pernah menjadi pekerja baru."

Pria itu duduk di atas balok kayu.

"Ketika aku seusiamu, aku juga seperti itu."

Kael memandangnya.

"Seperti apa?"

"Selalu merasa harus melakukan sesuatu. Selalu merasa kalau berhenti sebentar, hidup akan meninggalkanmu."

Kael diam.

Pria itu tersenyum.

"Jangan salah paham. Aku tidak sedang menggurui."

"Kelihatannya begitu."

Pria itu terkekeh.

"Benar juga."

Ia berdiri lagi dan menepuk bahu Kael.

"Yang penting, lakukan sesuatu sesuai kata hatimu. Jangan terlalu lama membiarkan orang lain menentukan apa yang harus kau lakukan."

Kael menatap tangan pria itu yang masih berada di bahunya.

Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada yang seharusnya.

"Akan kuingat."

"Bagus."

Pria itu pergi.

Kael memperhatikannya sebentar sebelum kembali bekerja.

Ia tidak tahu bahwa beberapa menit kemudian, pria itu akan kembali menjadi bagian dari hidupnya dengan cara yang jauh lebih keras.

--o--

Hari itu mereka sedang mengerjakan basement.

Karena bangunan itu menggunakan metode konstruksi lama, tapak yang dibutuhkan jauh lebih lebar daripada bentuk bangunan di atasnya. Para pekerja menggali cekungan besar di tanah sementara sebagian lainnya memotong bongkahan batu menjadi dinding penahan. Tanah hasil galian menumpuk di sekeliling cekungan, membentuk tepian tinggi yang membuat bagian bawah terlihat semakin dalam.

Bunyi cangkul bersahutan.

Tak.

Tak.

Tak.

Pecahan batu beterbangan.

Debu memenuhi udara.

Kael sedang membawa dua balok pendek ketika suara benturan yang lebih keras terdengar.

KRAK!

Ia menoleh.

Seorang pekerja sedang berdiri di dalam cekungan, menggunakan cangkul dua sisi untuk memecahkan bongkahan batu besar.

Cangkul itu terangkat.

Menghantam.

KRAK!

Batu tidak pecah.

Lihat selengkapnya