Rumah itu kecil dan sederhana, tetapi terasa hangat dan nyaman, jauh berbeda dari tempat-tempat yang biasa Kael singgahi selama ini. Aroma kayu terbakar dari perapian bercampur dengan wangi kaldu yang masih mengepul dari dapur, menciptakan suasana yang mengundang siapa saja untuk duduk dan melepas penat.
Kael menurunkan tubuh Arcante dengan hati-hati ke atas dipan di kamar yang tidak terlalu besar. Pria iblis paruh baya itu masih mengerang pelan, tangannya mencengkeram perbannya dengan ekspresi sedikit menahan sakit.
“Jangan bergerak terlalu banyak,” ujar Kael, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang. “Lukamu masih belum pulih sepenuhnya.”
Arcante hanya mendengus kecil, matanya menatap langit-langit rumahnya dengan pandangan kosong.
Dari ambang pintu, seorang perempuan iblis berambut hitam panjang yang diikat rendah berdiri dengan raut wajah cemas. Dia mengenakan pakaian sederhana, apron lusuh masih melekat di tubuhnya, menandakan bahwa dia sempat sibuk di dapur sebelum kedatangan mereka. Tatapannya tertuju pada suaminya yang terbaring lemah di dipan, sebelum beralih ke arah Kael dengan penuh rasa syukur.
“Terima kasih,” ucapnya dengan suara lirih namun penuh ketulusan.
Kael menggeleng. “Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan.”
Perempuan itu, Isolde, tersenyum tipis sebelum melangkah mendekat. Dengan tangan yang lembut namun cekatan, dia merapikan selimut tipis di atas tubuh Arcante, lalu menyentuh kening suaminya dengan penuh kasih sayang. Tatapannya melembut, tetapi ada kekhawatiran yang jelas di balik matanya.
“Seharusnya kau tidak terlalu memaksakan diri,” gumamnya.
Arcante terkekeh lemah. “Kau tahu aku tidak bisa duduk diam begitu saja.”
“Dan lihat di mana itu membawamu,” Isolde membalas cepat, nada suaranya bercampur antara kesal dan prihatin. “Kalau bukan karena Kael, mungkin kau tidak akan kembali malam ini.”
Arcante terdiam, seolah tak bisa membantah.
Kael, merasa sedikit tak nyaman dengan percakapan pribadi mereka, perlahan bangkit dari kursinya. “Aku harus pergi sekarang—”
Namun, Isolde segera menahan langkahnya dengan lembut. “Tolong, tetaplah sebentar. Setidaknya minumlah sesuatu sebelum pergi.”
Kael tertegun. Sebelum dia bisa menjawab, perempuan itu sudah berjalan ke dapur, meninggalkan aroma teh herbal yang samar saat dia bergerak.
Kael menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari makna di balik kata-kata itu.
Sebelum dia bisa menanggapi, Isolde kembali membawa nampan berisi dua cangkir teh herbal hangat. Dia meletakkannya di atas meja, lalu duduk di kursi di seberang Kael.
Isolde duduk di seberang Kael di ruang tamu kecil rumahnya. Lampu minyak di sudut ruangan memancarkan cahaya hangat, menerangi interior sederhana namun terasa nyaman itu.
Kael menyesap teh herbal di tangannya, menikmati kehangatan yang mengalir di tenggorokannya. Setelah perjalanan panjang dan kerja berat seharian, rasanya aneh bisa duduk di tempat seperti ini, di lingkungan yang begitu… damai.
Isolde memandangnya dengan ekspresi penuh syukur, tetapi juga sedikit canggung. Setelah beberapa saat hening, dia akhirnya membuka suara.
“Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih,” katanya lembut. “Kau sudah menyelamatkan nyawa Arcante. Aku benar-benar merasa berhutang budi padamu, Kael.”
Kael hanya menggeleng ringan.
Dia meletakkan cangkirnya di atas meja kayu kecil di hadapannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. “Aku sebenarnya membawa Arcante ke tempat perawatan bersama teman-temanku…,” lanjutnya. “Tapi aku mengantarnya pulang sendiri karena mereka harus kembali ke rumah pondok lebih dulu.”
Isolde menaikkan alisnya sedikit, tampak tertarik. “Kenapa mereka harus buru-buru pulang?”
Kael terkekeh kecil, mengusap tengkuknya. “Mereka harus membersihkan pondok. Kalau sampai lalai, Kylia pasti akan memarahi mereka habis-habisan.”
Isolde ikut tertawa pelan, sedikit lebih rileks setelah mendengar cerita itu. “Kylia… itu nama pemimpinmu, bukan?”
Kael mengangguk. “Lebih dari itu, dia orang yang paling bertanggung jawab di antara kami.”
Isolde tersenyum samar, lalu kembali menatap suaminya yang tertidur di dalam kamar. Pandangannya melembut, penuh kasih sayang dan juga kecemasan. “Aku masih sulit percaya Arcante bisa kembali dengan selamat. Jika kau tidak ada di sana…”
Dia tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, tetapi Kael bisa menebak apa yang ingin dia katakan.
Tanpa banyak bicara, Kael menyelipkan tangan ke dalam kantongnya dan mengeluarkan dua botol kecil berisi cairan berwarna biru pekat. Ia meletakkannya di atas meja di antara mereka. “Ini untuk Arcante.”