Veilbound: Beyond the Ashen Border

Diva Amane
Chapter #27

Malam Tanpa Bintang

Pondok kayu itu sunyi.

Sariel dan Darrel baru saja selesai dengan tugas mereka membersihkan rumah. Sariel, dengan tubuh besarnya, menggenggam sapu panjang, sementara Darrel menekan kain pel basah ke lantai kayu, membiarkan aroma kayu basah menyebar ke seluruh ruangan.

Di luar, malam merambat semakin pekat.

"Aku tak menyangka kita jadi pekerja rumah tangga seperti ini," canda Darrel dengan suara rendah.

Sariel terkekeh, mengangkat bahunya. "Setidaknya Kylia tidak akan membunuh kita karena meninggalkan pondok dalam keadaan berantakan."

Darrel mengangguk setuju, namun sebelum dia sempat menjawab, udara di dalam pondok tiba-tiba berubah.

Dinginnya bukan seperti malam biasa, melainkan dingin yang menggigit—mengendap-endap masuk ke tulang dan meninggalkan rasa mencekam yang merayapi kulit mereka.

Lalu, kabut hitam mulai menyelimuti ruangan.

Dalam hitungan detik, cahaya lampu minyak di pondok mulai redup seolah tersedot oleh kegelapan itu. Sariel dan Darrel langsung menegakkan tubuh, insting tempur mereka menjerit peringatan bahaya.

Tanpa perlu berkata-kata, mereka tahu apa yang sedang terjadi.

Darrel merasakan keringat dingin membasahi tengkuknya. "Ini…"

"Inkarnasi bayangan," sahut Sariel cepat. Matanya mencari sumber kabut, tetapi tidak ada yang bisa dilihatnya selain kehampaan gelap.

Tiba-tiba—

Suara langkah kaki.

Bukan satu. Lima.

Bunyi itu berat, teratur, mendekat dengan kesadaran bahwa mereka sedang berburu.

Sariel dan Darrel tidak diberi waktu untuk berpikir.

Dari dalam kabut, sesuatu melesat dengan kecepatan luar biasa.

Sariel mendengar suara angin terbelah—nalurinya menjerit bahaya. Dia melompat ke belakang tepat sebelum kapak besar menghantam tempatnya berdiri, menghancurkan lantai kayu dengan suara keras.

Namun, sebelum dia bisa menarik napas lega, bilah pedang lainnya menyusul dari sisi kiri!

Sariel membalikkan tubuhnya, nyaris tidak berhasil menghindari serangan itu. Tiga sosok besar muncul di hadapannya, kabut yang menyelimuti tubuh mereka mulai menipis, menampilkan iblis bertubuh besar bersenjata kapak raksasa dan dua lainnya dengan pedang melengkung yang tampak haus darah.

Draven. Zorveth. Xandras.

Sariel menyadari dia dikepung oleh tiga orang sekaligus.

Sementara itu, Darrel tidak lebih beruntung.

Dua sosok lain muncul dari kabut di belakangnya—iblis kembar dengan wajah tanpa ekspresi, Xandris dan Xandros.

Mereka bergerak seperti bayangan, tanpa suara, tanpa peringatan.

Darrel hanya sempat mengangkat tangannya untuk menangkis satu serangan, tetapi yang lainnya menyelinap ke titik butanya.

Dalam sepersekian detik, sebuah pisau menembus bahu Darrel dari belakang.

"Akh—!"

Rasa sakit menjalar begitu cepat, namun dia tidak diberi kesempatan untuk bereaksi.

Xandros muncul di depan Darrel, menendang perutnya dengan kekuatan mengerikan, membuatnya terpental dan menabrak meja kayu hingga pecah berantakan.

Sariel yang melihatnya mengerang marah dan hendak menerjang, tetapi tebasan kapak besar dari Draven memaksa dia tetap bertahan di tempat.

Serangan itu terus mengalir.

Kabut pekat masih menggantung di udara, menutupi titik buta mereka.

Sariel mendengar suara desingan bilah mendekat. Ia berusaha membaca arah angin dan menunduk tepat waktu, tetapi Xandras jauh lebih cepat. Pisau meluncur dengan akurasi mengerikan—menusuk paha dan pinggang Sariel sekaligus.

"Ugh—!"

Sariel terhuyung.

Bilah lain menyusul, menusuk bahunya dalam-dalam.

Darah hangat mengalir ke bawah, meresap ke kain bajunya. Sariel merasakan tubuhnya mulai kehilangan tenaga—rasa sakitnya terlalu tajam, terlalu mendalam.

Lututnya melemas. Dia mencoba bangkit, tetapi tubuhnya tak lagi merespons.

Dari sudut pandangnya yang semakin kabur, dia melihat Darrel sudah tergeletak lebih dulu.

Xandros mencabut pisau dari dada Darrel, meninggalkan lubang merah menganga tepat di atas jantungnya.

Warna hidup mulai menghilang dari mata Darrel

Kabut hitam yang menyesaki pondok perlahan menipis.

Xandras berdiri dengan tubuh tegap, pandangannya menyapu sisa-sisa kekacauan di dalam ruangan. Dua target telah dilumpuhkan.

Di sudut ruangan, Sariel masih berusaha untuk bernapas meskipun luka-luka di bahu, paha, dan pinggangnya membuat tubuhnya semakin sulit bergerak. Napasnya terengah-engah, darah menetes dari sudut bibirnya.

Sementara itu, Darrel… tidak bergerak.

Xandros menarik pisaunya dari dada Darrel dengan ekspresi datar. Darah menetes dari ujung bilahnya, tetapi dia tidak terganggu. Dengan tenang, ia mengusapnya dengan telapak tangan kosong, seolah menikmati rasa hangatnya.

"Dua dari mereka sudah tidak bisa melawan," Xandras berkata dengan nada sombong. "Kupikir targetnya akan lebih menarik daripada ini."

"Jangan lengah," Draven menimpali dengan suara berat. Tubuh besarnya tampak tidak bergerak, tetapi sorot matanya tajam, penuh kehati-hatian. "Yang paling berbahaya di antara mereka tidak ada di sini. Itu bukan keberuntungan—itu kebetulan yang mencurigakan."

Zorveth mengangguk setuju. "Harusnya kita pastikan yang lain benar-benar tidak ada di sekitar sini."

Xandris, yang sedari tadi sibuk dengan pisaunya, hanya mengangkat bahu. Ia tampak lebih menikmati darah di tangannya daripada diskusi yang sedang berlangsung.

Lihat selengkapnya