Udara malam dipenuhi aura mencekam. Angin yang berembus membawa dingin yang menusuk tulang, tapi Kael tidak merasakannya. Fokusnya hanya tertuju pada dua musuh di hadapannya.
Xandras dan Xandros, si kembar pembunuh bayangan, kini berdiri dengan postur lebih agresif, belati mereka berkilat di bawah cahaya rembulan. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Energi bayangan berwarna hitam mulai merayap di sepanjang bilah mereka.
"Ini sudah cukup," kata Xandras, suaranya lebih dalam, lebih dingin. "Mari kita selesaikan sekarang."
Seketika, mereka bergerak.
Kael hampir tidak punya waktu untuk bereaksi sebelum sepasang pisau itu menghujaninya dari segala arah—bukan hanya serangan fisik, tetapi juga tebasan energi bayangan yang dilepaskan setiap kali mereka mengayunkan senjata mereka.
Busur-busur hitam menembus udara.
Kael segera bergerak, tubuhnya melesat ke samping dengan kecepatan luar biasa, menghindari hujan serangan yang melesat ke arahnya. Namun, bahkan dengan refleksnya yang luar biasa, mustahil untuk menghindari semuanya.
Ctar!
Salah satu busur energi meleset tipis, menyayat lengan atasnya. Darah segar segera merembes keluar, tapi Kael mengabaikannya.
Xandros sudah melompat dari sisi lain, mengayunkan pisau bertubi-tubi. Kael menangkis dengan lengan bawahnya, tapi saat itulah ia menyadari bahaya lain.
Xandras berada di belakangnya, menebas dari sudut yang tak terlihat.
Kael hanya bisa memiringkan tubuhnya sedikit—cukup untuk menghindari luka fatal, tapi bilah itu tetap menyayat pipinya.
Darah menetes di wajahnya.
Xandras terkekeh. "Kau cepat, tapi kau tetap hanya satu orang."
Kael mengepalkan tangan.
Ia tahu ini bukan pertarungan biasa.
Mereka bukan hanya mengandalkan kecepatan dan keterampilan, tetapi juga memanfaatkan energi bayangan untuk meningkatkan serangan mereka.
Mundur sekarang bukan pilihan.
Kael menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa sakit di tubuhnya menjadi bahan bakar untuk pertarungan ini. Jika mereka menganggapnya lemah hanya karena dia melawan tanpa senjata, mereka akan menyesalinya.
Darah masih menetes dari luka-luka kecil di tubuh Kael, menghangatkan kulitnya yang dingin diterpa angin malam. Napasnya berat, tetapi matanya tetap tajam. Xandras dan Xandros sudah mundur beberapa langkah, masih berjaga, sementara dua sosok baru kini maju menggantikan mereka.
Draven dan Zorveth.
Dua iblis bertubuh raksasa, dengan kapak besar yang tampak lebih seperti lempengan baja raksasa yang diberi gagang. Mereka bukan pembunuh senyap seperti si kembar, tapi setiap tebasan mereka cukup untuk membelah seseorang menjadi dua.
Kael mengangkat tangannya, menyiapkan posisi bertarung tanpa senjata.
Draven menyeringai. "Kau memang keras kepala, ya?"
"Sudah terluka begitu banyak, tapi masih ingin melawan tanpa senjata?" tambah Zorveth, kapaknya kini berkilat diterpa cahaya bulan.
Mereka tidak memberi waktu bagi Kael untuk merespons. Keduanya menerjang bersamaan.
Kael melompat mundur dengan sigap, tapi tanah tempatnya berdiri meledak dihantam kapak Zorveth. Retakan tanah menyebar ke segala arah, debu beterbangan, dan Kael baru saja ingin menstabilkan posisinya ketika Draven datang dari sisi lain.
Kael memiringkan tubuhnya ke kanan, menghindari ayunan kapak besar yang hampir membelahnya.
Namun, Draven hanya menyeringai.
"Itu hanya umpan."
Zorveth sudah berada tepat di belakangnya.
Kael terlambat menyadarinya, dan sebuah hantaman keras mendarat di perutnya. Bukan bagian tajam kapak, tapi gagangnya—cukup untuk membuat tubuhnya terangkat ke udara sebelum jatuh membentur tanah dengan keras.
Darah menyembur dari mulut Kael.
Draven dan Zorveth tidak menyia-nyiakan momentum ini. Mereka segera bergerak untuk menebas Kael dari dua sisi.
Namun, sebelum kapak mereka mengenai sasaran...
—dua benda berkilat melayang di udara.
Satu... dua...
Dua kapak besar menancap ke tanah, hanya beberapa langkah dari Kael yang masih berlutut.
Kael mengangkat wajahnya.
Dari kejauhan, sosok Kylia berdiri dengan satu tangan masih terangkat, senyum percaya diri di wajahnya.